Ke Bali untuk Pertama Kali

by Fadhli

Ini pertama kalinya ke Bali, sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya sehingga tiba surel (surat elektronik) dari panitia kompetisi logo yang saya ikuti. Begini bunyinya:

Dear Zulfadhli,
I am very sorry about the short notice, however we would like to know if you could join us in Bali on the 1st and 2nd December to present your final logo version in its various manifestations (as ppt, letterhead etc.) to our Executive Board? We will organise tickets and accommodation, and would suggest that you could fly to Bali on Saturday 1st, present to the Board on Sunday morning and either fly back on Sunday afternoon or stay to observe our student Poster session on Sunday afternoon and fly back Monday morning.
Thanks once again for your excellent work, best wishes.

Wah, bahagia sekali rasanya, gratis, gratis. Saya berangkat dengan maskapai Garuda Indonesia, tepat di tanggal pertama bulan Desember. 

Ngeteng Bandara – Uluwatu – Sanur
Berhubung waktu check­in hotel di Sanur adalah siang hari, sementara pesawat tiba masih pagi, maka saya putuskan untuk berjalan dulu ke Uluwatu. Setelah menjelajah informasi di internet, saya pikir ini tempat yang jaraknya rasional baik dari bandara maupun hotel, dan bisa mengunjungi dua tempat sekaligus: Pura Uluwatu dan Pantai Suluban (dikenal juga dengan sebutan Blue Point atau Pantai Uluwatu).

Wah, memangnya Mas ke sini sendirian? Tidak sewa motor?” Itu pertanyaan yang dilontarkan pada saya ketika penjaga Pura Uluwatu di Bali mengetahui bahwa saya ngeteng dan sendirian. Pertanyaan yang mengesankan bahwa transportasi massa memang belum begitu populer di Bali. Wajar jika kemudian banyak orang bilang bahwa berwisata di Bali itu membutuhkan biaya besar, terutama untuk transportasi, kecuali bagi mereka yang bisa mengendarai motor dengan kocek sewa sekitar 50-60 ribu rupiah per hari.

Dan ini pertama kali ke Bali, saya coba dengan ngeteng. Pertama dan yang utama, karena saya ngirit. Bisa ke sana aja udah untung karena tiket pergi – pulang plus hotel ditanggung panitia. Kedua, ya pengen coba-coba aja.

Maka dari Bandara Internasional Ngurah Rai yang sedang berbenah sebagai tuan rumah KTT APEC 2013, saya memutuskan berjalan kaki untuk mencari kendaraan umum. Masih menggendong ransel yang berisi pakaian dan laptop, udara terasa panas, dan keringat mengucur deras. Sampai sekitar hampir 1 km saya baru menemukan elf. Itupun ternyata sepi penumpang sehingga saya dipatok harga 20ribu rupiah untuk sampai ke daerah Kelan.

Dari Kelan saya sambung dengan kendaraan pengumpan Trans Sarbagita (semacam busway di Jakarta). Kendaraan pengumpan ini seukuran mobil travel Bandung – Jakarta begitu, dengan jurusan Kelan – Uluwatu, melewati Jimbaran. Jika hendak ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) bisa menyambung sekali lagi dengan pengumpan jurusan lain di pertigaan menuju GWK. Harga kendaraan pengumpan ini 3000 rupiah saja.

Tujuan terakhir dari kendaraan pengumpan Kelan – Uluwatu ini adalah Pura Uluwatu. Di gerbang pura, dengan membayar 15.000 rupiah untuk wisatawan domestik, saya memasuki kawasan Pura yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Teman saya bilang bahwa jika malam tiba akan ada pertunjukkan tari kecak. Berhubung dia bilangnya waktu saya sudah kembali ke Jakarta, dan waktu itu saya pengen tiba di hotel sore hari, jadi saya tidak menontonnya.

7

Yang menarik perhatian saya untuk memotret juga adalah monyet-monyet di sana yang banyak dan sepertinya sudah tahu cara bergaya jika dipotret dan kadang jahil mengambil barang pengunjung jika tidak hati-hati. Mungkin monyet itu pengen sekali-kali juga “balas dendam” ke manusia, bila perlu bikin pertunjukan “topeng manusia,” gantian dari “topeng monyet”, sambil bilang, “Ayo-ayo, Soriman pergi ke pasar!” gantian karena monyet sering disebut Sarimin. #halah

2

Dari Pura Uluwatu saya berniat melanjutkan ke Pantai Suluban. Eh, ternyata tidak ada angkutan ke sana. Bahkan ketika saya tanya-tanya apakah ada ojeg atau tidak, Satpam Pura malah mengecek kartu identitas saya, sambil ngoceh, “Masak KTP bisa ilang, kalau ada apa-apa bagaimana? Kamu tahu kan kondisi Bali sekarang?” Padahal saya udah tunjukin paspor, fotokopi KTP, dan SIM, walaupun KTP memang hilang. Jangankan KTP Pak yang bisa hilang, Patung Liberty aja bisa hilang Pak disembunyiin David Copperfield. Yang penting harga diri saya jangan sampai hilang Pak, gara-gara KTP hilang.

Tiada pilihan, akhirnya saya berjalan dari Pura Uluwatu ke Pantai Suluban, sekitar 3 km. Di sepanjang jalan motor-motor yang dikendarai bule lewat, beberapa tersenyum pada saya dan melambaikan tangan. Saya cuma bisa bertanya, “Is the beach still far away?” dan mereka jawab, “Not, not really, you almost get there, a couple hundred meters.” Mungkin bule ini sudah belajar dari orang Indonesia, atau Banten yang selalu bilang jarak sudah dekat kalau ditanya. Atau mungkin mereka sudah nonton iklan, “sumber air su dekaat.” mentang-mentang tujuan saya pinggir laut.

Entah Pantai Suluban ada hubungannya dengan kata “terselubung”? Saya tidak tahu juga sih. Yang jelas letaknya memang agak terselubung. Menuju ke sana harus menuruni anak tangga yang banyak, kira-kira berapa generasi itu anaknya, yang bikin kaki tambah pegel setelah jalan.

25

Selain itu pantainya terselubung di balik karang, lebih tepatnya sih tebing. Berhubung saya bisa berenang di laut kalau hanya ada pelampung, jadi saya memutuskan hanya foto-foto di sana.

26

16

Dari Pantai Suluban ini saya agak pusing, pusing memikirkan “masa’ pulang harus jalan kaki lagi”. Beruntung tukang parkir saya nego untuk mau jadi tukang ojeg, seharga 15 ribu dengan motor model Astr*a tuanya. Maka saya sampai kembali ke Pura untuk menunggu kendaraan pengumpan Trans Sarbagita yang kembali ke Kelan.

Ternyata memang jadwal keberangkatan mobil pengumpan ini juga tidak pasti. Saya menunggu sekitar hampir satu jam sebelum ada angkutannya. Mungkin karena beroperasi baru beberapa bulan, dan memang sepi penumpang. Pulang-pergi Kelan – Uluwatu itu saya satu-satunya penumpang. Saya ga tau apakah moda transportasi ini akan membawa keuntungan atau tidak kalau ternyata masyarakat pun tidak melek transportasi publik.

Dari Kelan saya lanjut menaiki bis Trans Sarbagita dengan trayek Nusa Dua – Batu Bulan. Naik trayek ini sebenarnya bisa untuk mengeksplorasi kebanyakan daerah wisata seperti Nusa Dua, dan akan melewati Kuta, Sanur, sampai Batu Bulan yang sudah agak dekat ke Pasar Sukawati. Harga sekali turun adalah 3500 rupiah untuk dewasa dan 2500 untuk pelajar.

Berhubung hari sudah sore dan saya agak capek, belum tidur nyenyak dari semalam karena begadang dan harus bangun pagi untuk menyiapkan presentasi besok, maka saya memutuskan berhenti di daerah Sanur (halte Matahari Terbit) dan langsung check-in di hotel. Sebelumnya saya berkenalan dengan panitia dan sedikit diberi penjelasan bahwa presentasinya besok hari.

Malam hari saya hanya mencoba melihat area Pantai Sanur yang gelap dan ramai. Tidak lama saya pulang ke kamar hotel, berhubung jauh lebih asyik dibanding kamar kostan, untuk menonton pertandingan sepakbola Piala AFF antara Indonesia dan Malaysia. Oh iya, saya mampir dulu di Masjid Al-Ihsaan daerah dekat situ.

Presentasi di depan Para Profesor
Penjelasan awal, bahwa logo yang saya rancang terpilih menjadi logo SEAOHUN (South East Asia One-Health University Network), sebuah organisasi yang mengumpulkan akademisi kesehatan dari berbagai universitas di Asia Tenggara. Maka logo itu harus disetujui oleh Dewan Eksekutif mereka yang terdiri dari professor atau doktor. Di Bali ini mereka semacam sedang mengadakan rapat kerja.

Di sela-sela itu, saya diberi waktu presentasi. Singkat waktu yang diberikan, hanya 15 menit. Dan saya kira para profesor itu akan mencecar pertanyaan seperti sidang skripsi, eh ternyata tidak. Satu dua pertanyaan saja terkait warna yang dilontarkan. Dan pada akhirnya, logo itu disahkan. Yang mengesahkan adalah Chairman dari SEAOHUN yang juga Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D. Ternyata beliau ini adalah orang yang saya temui waktu pertama kali datang ke hotel dan ngobrol-ngobrol sejenak ditemani panitia, eh ternyata waktu itu saya belum tau beliau itu Wamen euy😀

wamen

Epilog
Dan ini pertama kali saya ke Bali, saya bilang itu sebelum presentasi. Setelah presentasi dan di waktu ramah tamah mereka cukup kaget, di antaranya ada yang berkata “Orang bule sudah banyak yang ke sini, kamu belum pernah udah segede ini. Yang bener ah?” Dan saya hanya tersenyum, karena tidak akan mungkin jawab, “Mau tau aja apa mau tau banget?” hehehe

Akhirnya pulang kembali ke Jakarta, dengan Garuda Indonesia, airbus pula. Alhamduuu… lillaah….