Tuntutlah Ilmu walaupun (sambil jalan-jalan) ke Pattaya

by Fadhli

Rabu, 30 Januari, saya masih enggan bangun jika tidak harus bergegas mengikuti field trip sebagai rangkaian Prince Mahidol Award Conference 2013. Maklum, kamar hotelnya nyaman dengan kasur empuk, jaringan televisi internasional, wi-fi yang lancar, semakin menambah rasa malas untuk bergerak, berbeda sekali dengan kamar kostan.

Setelah mandi dan bersiap tapi tidak sempat push-up, saya bergegas menuju tempat sarapan. Waktu menunjukkan pukul 06.30, sementara waktu keberangkatan adalah pukul 07.00. Dengan ngebut saya ambil makanan kesukaan tiap pagi di hotel (mumpuuuung grateeees): telur yang diorak-arik, dengan pancake dan french toast, tapi melupakan salad, buah, dan kopi saking ngebutnya. Pukul 06.50, saya segera sudahi sarapan, karena dari hotel tempat menginap dan sarapan itu, saya masih harus berjalan sekitar 5-7 menit ke tempat berkumpul.

Sambil berlalu ternyata seorang Ibu delegasi dari Indonesia juga masih berjalan santai. Tapi ternyata beliau tanya, “Koq belom jalan?” Saya tanya balik, “Lho, Ibu juga belom?” Beliau jawab, “Saya jalannya kan jam 08.45..” karena beda tujuan. Tanpa banyak komentar selain, “Oooh..” saya kembali mempercepat laju jalan. Sampai luar hotel, saya susuri jalan di pusat Kota Bangkok itu sekitar 700m. 

Sampai di tempat berkumpul sebelum bis berangkat menuju area field trip, beberapa orang masih berkumpul. Segera saya registrasi ulang dan mengambil seragam kunjungan lapangan kali ini. Aaah lega, belum terlambat. Lalu saya pikir saya masih punya waktu ke kamar kecil untuk mengamankan kondisi dengan eksresi, dan mengganti dress code.

Pas keluar kamar kecil, lhaaa bis-bis koq sudah mulai bergerak. Dengan berlari kecil sambil celingak-celinguk, saya menuju bis yang masih diam. Pas saya mendekati pintu bis, orang-orang di dalam sudah bilang, “Here, he is coming, he is coming.” Sambil menghindari tatapan mata orang-orang, saya berjalan agak nunduk menyusuri lorong bis sambil bilang singkat, “E’m sorry.” Lalu duduk di bagian bis paling belakang diapit orang Amerika dan Israel.

Kondisi bis ramai karena perkenalan panitia dan peserta. Peserta-peserta lain, sebagaimana cerita saya di tulisan sebelumnya, ada yang profesor, doktor, senior di kementerian kesehatan negaranya, dan lain-lain yang intinya sudah berpengalaman. Sambil mereka perkenalan, saya justru berpikir, gimana ya mengenalkan diri saya yang “anak bawang” ini. Hingga akhirnya setelah menyebutkan nama dan asal negara, saya katakan seperti biasa, “Mungkin saya yang termuda di sini, saya juga belom pegang gelar doktor, profesor, bahkan master, saya baru saja jadi sarjana dari Universitas Itu” selain saya beritahu mereka pekerjaan saya sekarang.

Setelah perkenalan, delegasi dari Afghanistan senyum-senyum saat saya kembali melalui lorong bis sambil bilang, “You are really, really (young).” Saat makan siang, delegasi Ethiopia juga memotivasi, “Jadi kamu akan mengejar gelar master kamu ya” Amiiinin dong pemirsa😀

Eh, itu sebenarnya prolog, koq jadi prolong? Sudah, kita masuk cerita inti.

Berbagi Pengalaman Sukses dengan Walikota Pattaya

Tujuan kunjungan kami adalah Kota Pattaya, yang terletak di Propinsi Chonburi. Tema yang akan dibahas pada kunjungan ini adalah “Surveilens penyakit di titik wisata: Studi Kasus Chonburi”

Perjalanan dari Kota Bangkok ke Pattaya memakan waktu kurang dari 2 jam saat jalanan lengang seperti pagi hari di atas jam 6, apalagi dengan dikawal mobil polisi. Dalam perjalanan, dua Bapak yang mengapit saya sibuk dengan gadget-nya. Sementara saya memilih tidur saja. Ga ada bahan, dan pasti roaming, baik bahasa maupun lepel pembahasannya😀

Ternyata kami mencapai Pattaya lebih awal setengah jam dari waktu yang direncanakan. Maka panitia berinisiatif membawa kami keliling dahulu (tanpa turun dari bis) untuk melihat pantai Pattaya dengan bule di sana-sini, payung-payung di pinggir pantai, dan tentu saja pohon kelapa yang melambai-lambai.

Kami pun tiba di Balaikota Pattaya dan disambut oleh otoritas pemerintahan setempat dan relawan kesehatan komunitas yang berbaris di tangga teras balaikota sambil mengalungkan bunga. Tampak dari mereka juga Ibu-Ibu muslimah yang mengenakan jilbab.

Image

Balaikota Pattaya

Di aula balaikota, presentasi dibawakan oleh dua orang Otoritas Kesehatan Propinsi Chonburi mengenai implementasi one-health dan penguatan sistem dalam memantau outbreak penyakit-penyakit infeksius. Jujur, saat presentasi ini saya agak mengantuk dikarenakan banyak istilah teknis yang saya kurang minati, hehe.

Presentasi setelahnya yang dibawakan oleh Walikota Pattaya, HE Itthipol Khunplome, yang membuat saya kembali cenghar (kata orang Sunda mah, yang artinya: bergairah). Apa pasal? Walikota ini masih muda, sumangek bakoba-koba (kata orang Minang), Bahasa Inggrisnya jelas, dan jawabannya taktis. Beliau menjelaskan pengalamannya dalam arah strategis untuk pencegahan dan pemantauan penyakit menular di kotanya.

Image

Walikota Pattaya

Saat virus H1N1 menyerang Pattaya di tahun 2009 dan menyebabkan dampak pada daerah wisata karena travel warning dari negara-negara lain untuk tidak mengunjungi Pattaya, beliau membangun kesiagan penuh dengan SRRT (Surveillance and Rapid Response Team), termasuk memberdayakan relawan kesehatan masyarakat. Dalam beberapa bulan saja, Pattaya kembali dinyatakan bersih dari infeksi baru.

Itu merupakan prestasi yang membanggakan, karena bisa dibayangkan dengan jumlah wisatawan yang lebih dari 6 juta yang datang ke Pattaya tiap tahun, apa jadinya (terutama secara ekonomis) jika travel warning disematkan ke daerah itu.

Yang juga menarik, mereka memiliki relawan kesehatan masyarakat yang berdedikasi. Ada sekitar 21 pusat relawan kesehatan masyarakat yang bergerak di komunitas untuk memberikan  penyadaran, termasuk membantu pelaporan kasus. Mereka juga punya mobile unit yang bergerak ke 4 penjuru kota (Pattaya Utara, Pusat, Selatan, dan area Jomtien) jika dibutuhkan penanganan terhadap kasus yang sedang  berkembang. Para relawan ini padahal hanya mendapatkan insentif sekitar 200ribu rupiah saja perbulan. Sesuatu yang memang dirasa masih kecil menurut Walikota sendiri. Beruntung pula dalam sesi ini saya diberi kesempatan juga untuk melontarkan pertanyaan kepada Walikota.

Image

Relawan Kesehatan Masyarakat kota Pattaya, yang berpakaian abu-abu

Pertemuan dengan Walikota Pattaya dan Otoritas Kesehatan Propinsi Chonburi diakhiri dengan foto bersama, dan saling menyerahkan souvenir.

Ke Nongnooch Pattaya Tropical Garden & Resort

Acara dilanjutkan ke Nongnooch yang lengkapnya seperti sub-judul di atas. Ini merupakan area kebun raya yang sangat luas, menyerupai Kebun Raya Bogor. Tapi uniknya, dia juga mengimpor tanaman-tanaman dari negara lain.

Saat tiba, kami disambut dengan rombongan penari dan dua gajah. Saat baru mau berfoto, eh tetiba hujan turun dan kami bergegas memasuki ruang makan.

Image

Setelah hujan reda bersamaan dengan perut yang kenyang, kita berjalan di koridor yang dibuat di atas beberapa taman sehingga melihatnya dari atas, kemudian turun dan dijemput dengan mobil model penumpang yang ada di TMII untuk melihat tanaman lebih dekat dari bawah.

Image

Saat jalan-jalan ini saya lebih banyak berbincang dengan profesor muda dari Malaysia lulusan Inggris di bidang ekonomi kesehatan. Cakapnya dalam Bahasa Melayu tentunya😀. Juga sempat berbincang dengan seorang Doktor dari Nepal yang baru saja mengunjungi Medan dan Banda Aceh untuk meneliti tentang gajah. Malunya saya ketika Bapak itu bercerita ada sekitar 7 gajah di Sumatera yang mati, sementara saya belum tahu, “I have not known it yet, I will check, Sir” sebuah jawaban apologis.

Setelah itu kami menonton pertunjukkan budaya dan atraksi gajah. Pertunjukannya sangat variatif dan atraktif, walaupun kondisinya sangat penuh. Sementara kondisi juga hujan.

Image

Image

Image

Sampai pertunjukan selesai, kondisi masih hujan, sementara petang semakin menjelang. Akhirnya diputuskan untuk langsung pulang ke Bangkok dan melewatkan Pantai Jomtien. Alasan rasional ini bisa diterima semua peserta. Dalam perjalanan pulang, kondisi bis makin meriah, karena diadakan stand-up comedy dadakan. Ternyata ya, walau sudah bergelar doktor dan profesor, selalu aja ada sisi ke-garing-an manusia, bahkan beberapanya komedi “vulgar.”

Karena waktu pulang ini bersamaan dengan jam padat di Bangkok, kami menghabiskan waktu lebih dari 3 jam untuk sampai hotel dan beristirahat.