Semalam di Hat Yai, Thailand Selatan

by Fadhli

Hat Yai merupakan kota metropolitan terbesar di Selatan Thailand dan ketiga di Thailand menurut Wikipedia. Hat Yai berada dalam Propinsi Songkhla. Kota ini biasa menjadi tempat transit perjalanan dari dan menuju daerah selatan yang lebih jauh, termasuk dilalui jalur lintas negara seperti Malaysia.

Untuk mencapai ke sana dari Bangkok bisa melalui jalur darat dengan kereta api atau bus dengan waktu tempuh sekitar 12 – 14 jam. Saya sendiri mengambil akses transportasi lain yaitu pesawat dengan maskapai bermoto “Now everyone can fly” seharga USD 66.11 sudah termasuk bagasi 15kg. Oia, keberangkatan dengan maskapai tersebut tidak dilalui dari Bandara Svarnabhumi (BKK), tetapi dari Don Mueang (DMK).

Image

Hat Yai menjadi pilihan saya juga untuk transit sebelum menuju daerah Selatan Thailand lain keesokan harinya, yaitu Pattani. Dari situ akan langsung melanjutkan ke Phuket yang posisinya lebih utara. 

Berangkat dengan taksi (tanpa argo) dari daerah Centara Bangkok menuju DMK, harga yang dipatok supir adalah 400 Baht (1 Baht = + 330 Rupiah, hitung sendiri ya.. :p). Itu sudah termasuk bayar tol. Di DMK, prosedur check-in dan boarding berjalan seperti layaknya perjalanan domestik saja di Indonesia.

Di ruang tunggu, sudah banyak calon penumpang yang rata-rata akan menuju Krabi, Phuket, dan Hat Yai. Yang menjadi khas para calon penumpang ke Hat Yai adalah banyak terlihat muslimah yang mengenakan jilbab. Selain memang untuk transit ke daerah selatan yang mayoritas muslim, sebagian juga ada yang memang menetap di Hat Yai.

Berangkat pada tanggal 2 Februari jam 15.45, perjalanan di udara memakan waktu 1 jam 20 menit. Tibalah saya di Bandara Internasional Hat Yai (HDY). Tidak seperti di Indonesia yang jika keluar dari bandara akan langsung dikerubuti calo seperti artis dikejar-kejar paparazzi, di HDY ini sepi. Bahkan terlalu sepi.

Image

Saat keluar, saya melihat ada 3 taksi. Dalam waktu sekejap semua sudah ditumpangi orang lain. Tinggal saya dan beberapa orang lain yang menunggu. Hanya saja, orang lain itu menunggu dijemput (saya melihat mereka naik kendaraan pribadi). Berarti, tinggal saya yang cengok menunggu datangnya taksi.

Sempat terlihat ada semacam angkot, tetapi ketika saya tanyai, sang supir bilang, “No! go home, go home.” Ini si sopir, ya kali saya baru sampe udah disuruh pulang aje. Hehe. Tapi saya mengerti maksudnya, bahwa dia ga narik lagi hari itu. Saya liat jam, baru jam 18.00 padahal. Menunggu sekitar 30 menit, barulah datang taksi lain. Dengan harga 200 Baht, dia setuju membawa saya ke hotel yang posisinya sangat dekat dengan terminal bus.

Di hotel, saya go show saja (istilah pelancong untuk langsung datang ke hotel tanpa memesan). Karena Hat Yai sendiri bukan termasuk objek wisata yang sangat populer seperti Phuket yang di high season banyak kemungkinan kita kehabisan hotel, terutama budgeted hotel. Tarif hotel untuk semalam di sini 500 Baht (dengan tambahan deposit 500 Baht, yang akan kita ambil balik saat check-out).

Karena petang sudah lewat, sampai di hotel saya menunaikan sholat dan beristirahat sejenak. Sekitar pukul 19.30 saya berjalan keluar. Berbekal peta yang saya foto di ponsel, saya berjalan kaki untuk mencari beberapa tempat populer berdasar pratinjau-pratinjau di blog-blog orang.

Tujuan pertama adalah Diana Plaza. Letaknya sekitar 700 meter saja dari gang hotel. Ternyata setelah sampai, itu semacam mall seperti Ramayana atau Robinson gitu lah kalau di Indonesia, dengan beberapa tempat makan cepat saji. Baru menaiki satu elevator, saya langsung turun karena kurang tertarik. Saya sudah niatkan kalau bukan sesuatu yang khas banget, atau penting banget, saya ga akan belanja dulu.

Image

Diana Plaza

Perjalanan saya lanjutkan ke Central Dept. Store yang berjarak sekitar 1,5  – 2 km dari Diana Plaza. Mengamati area jalan yang saya lewati, Hat Yai ini tidak semeriah Bangkok, yang malam harinya jam 10 malam pun masih macet dengan hiruk-pikuk hiburan dan mall-mall yang masih menyala.

Toko-toko mulai bertutupan dan jalanan mulai lenggang, sampai saya akhirnya sampai di radius 500 meter dari Central Dept. Store barulah saya lihat gemerlap lampu kios-kios dan pedagang kaki lima yang masih menyala, walaupun banyak juga di antara mereka yang masih tutup.

Saya sendiri tidak berniat memasuki mall-mall besar, karena tujuan awal cuci mata, berolahraga, dan cari makanan (halal) saja. Yang banyak dijual pedagang kaki lima di sini adalah makanan ringan seperti kacang mete, kripik-kripik, kemudian ada es sarang burung wallet yang belum sempat saya coba karena khawatir alergi tenggorokan kambuh di negeri orang😀

Image

Daerah Central Dept. Store

Mendengar diskusi pedagang dan calon pembeli, saya mendengar bahasa Melayu digunakan di sini karena banyak dari pengunjung datang dari Malaysia, terlihat dari paras dan pakaian yang dikenakannya. Ada juga yang menggunakan bahasa Cina.

Yang menarik saya untuk melihat lebih lama adalah kios yang menjual outdoor gears (perlengkapan aktivitas outdoor) walaupun kebanyakan untuk aktivitas paramiliter. Ada ransel, sleeping bag, kompor, handy-talky, google, matras, nesting, pisau, headlamp, dan lain sebagainya. Maklum, siapa tau ada yang bisa jadi pelengkap peralatan aktivitas alam, hehe..

Yang saya cari itu adalah google yang punya tali nyambung ke belakang, bukan seperti model kacamata biasa. Berdasar pengalaman, kalau kacamata digunakan untuk aktivitas alam itu selain mudah jatuh ya juga kacanya kadang lepas, dan sebagainya. Di Depok dan Bandung, yang beginian juga susah.

Tetapi, di kios outdoor gears tadi setelah saya kira-kira memang barangnya bagus, pasti harganya mahal. Maka saya urungkan niat membelinya, perjalanan masih panjang dan jauh ini, jangan dihabiskan dulu duitnya😀.

Eh, beberapa langkah dari kios itu ada pedagang kaki lima yang jualan kacamata gitu, dan pas saya liat, ada model google yang saya suka liat di film-film pendaki itu. Setelah menimbang, dan memperhatikan sudah jauh-jauh ke Hat Yai, tidak mengapa lah saya membelinya dengan harga sekitar 180 Baht, awalnya ditawarkan dengan 200 Baht.

Image

Dari situ saya lanjutkan mencari makanan untuk dibungkus pulang ke hotel. Saya tertarik membeli makanan di seorang ibu penjual dengan udang yang besar-besar dan ayam, juga udang goreng tepung. Saya main tunjuk-tunjuk aja, 3 udang besar, 2 potong ketek atau ceker ayam (saya ga ngerti), 1 udang goreng tepung besar. Sementara nasi saya beli terpisah dengan harga 10 Baht saja di pedagang lain, pas saya kembali dan menanyakan harga lauknya, ternyata, ternyata 400 Baht saudara-saudara (setara 120 ribu lebih, oooh..). Maka langsung saya niatkan bahwa itu adalah sekalian jatah makan pagi, pengiritan.

Image

Setelah itu saya pun kembali pulang menyusur jalan yang sedikit berbeda dari jalur pergi hingga membawa saya ke hotel. Tidak ada yang saya lakukan selain beristirahat. Pagi harinya pun saya tidak beraktivitas ke luar, karena selain masih sepi, saya juga harus berkemas untuk bersiap jam 11 akan kembali menempuh perjalanan. Berjalan sekitar 3 menit saja ke terminal bus dari hotel, perjalanan saya lanjutkan ke Pattani dengan mini van.

Kisah di Pattani menyusul ya..😀