Menembus Pattani di Selatan Thailand

by Fadhli

Prolog: Waaah, sudah lama sekali ga nulis di blog ini, bahkan bulan lalu terlewat begitu saja. Padahal tulisan ini harusnya serial dari tulisan sebelumnya tentang perjalanan saya ke bagian selatan negara Thailand. Mohon maaf ya blog..😀 Langsung sajalah simak yang berikut ini.

***

Keinginan ke Pattani sebetulnya terlintas begitu saja karena keingintahuan mengunjungi daerah yang sempat menjadi area konflik di Negeri Gajah Putih ini. Sepertinya seru kalau bisa menembus daerah-daerah seperti ini.

Sebenarnya saya sudah diingatkan oleh salah seorang dosen dan orang yang sudah pernah berkunjung ke sana untuk tidak pergi sendiri ke daerah selatan ini kecuali bersama penduduk Thailand. “Masih termasuk area merah,” kata mereka untuk menggambarkan bahwa daerah itu masih dalam pengawasan aparat militer. Terlebih untuk orang Indonesia, kalau ketahuan datang tanpa tujuan yang jelas mungkin bisa diinterogasi.

Membaca blog-blog orang lain pun, tidak banyak yang membahas Pattani kecuali satu dua saja, dan itu bukan orang Indonesia. Yang membuat saya cukup yakin kondisi sudah aman adalah salah satu blog tulisan orang Malaysia yang pernah ke sana sendirian juga. 

Maka setelah menginap semalam di Hat Yai, menjelang siang 4 Februari 2013, saya keluar dari hotel dan menuju terminal bis yang hanya sekitar 5 menit. Dari situ saya membeli tiket minivan menuju Pattani seharga 100 Baht. Saya duduk persis di samping supir. Penumpang lain banyak yang berjilbab. Kaligrafi Islam tergantung menjadi hiasan di dashboard dan kaca depan supir.

Satu setengah jam perjalanan awal, saya masih tenang. Jalanan lengang. Sisi kiri kanan ruas jalan pun hanya dihiasi banyak pepohonan. Nuansanya sepi.

Pos Pemeriksaan

Baru setelah melewati plang selamat datang di Propinsi Pattani, banyak spanduk-spanduk terbentang dengan gambar wajah-wajah tokoh. Tapi itu bukan kampanye pilkada, tetapi pesan perdamaian yang terus didengungkan baik oleh tokoh pemerintah maupun tokoh agama. Tulisannya terdiri dari bahasa Thai dan Melayu yang diarabkan.

Tiba di salah satu bagian jalan saya melirik agak jauh ke depan: pos jaga militer! Desiran darah dari jantung mulai terasa lebih kencang. Kalau ada apa-apa, sudahlah jomblo, jauh pula sendirian di negeri orang. Saya lepas kacamata hitam untuk mengurangi kecurigaan, bersikap wajar saja.

Mobil yang saya tumpangi pun sampai di pos. Kaca supir dibuka, tentara jaga bersenjata laras panjang meminta menepi. Mereka berbicara yang tidak saya mengerti kepada penumpang. Untung dari gerakan penumpang lain, saya paham kalau tentara itu meminta kami menunjukkan identitas.

Bah! Sudah entah dari kapan KTP saya yang mirip-mirip kartu identitas penumpang lain hilang, sementara kalau keluarkan paspor jelas ketahuan orang luar, Indonesia pula. Terbayang pesan orang yang sebelumnya mengingatkan jika saya diinterogasi dan diapa-apakan. Bandel sih lu! Hehe.

Saya mencoba tetap santai sambil pura-pura merogoh kartu identitas saja dari tas pinggang. Tentara sempat memperhatikan kami yang duduk di bangku depan. Untung tidak sampai membuka pintu, hanya kaca. Dan untung kartu identitas tidak diambil satu-persatu. Untung pula mereka fokus ke penumpang bagian belakang. Ada satu penumpang yang diminta keluar dari mobil dan ditanya-tanyai.

Alhamdulillahclear. Mobil kembali melaju. Saya pikir ada tiga hal yang menyebabkan kemujuran: Pertama, paras orang Indonesia ini masih mirip dengan warga Asia Tenggara lain, terutama Thailand apalagi Thailand Selatan, dan Filipina. Kedua, tetap santai saja dan jangan panik yang menyebabkan si tentara mengajak ngobrol. Seandainya ditanya, ya wasalam deh ga bisa jawab pakai bahasa Thai. Ketiga, duduklah di samping bangku Pak supir yang mengendalikan mobil agar baik jalannya. Sebelumnya saya juga sudah berbincang sedikit dan dia tahu saya bukan penduduk Pattani, sehingga tampaknya dia juga protektif dan tidak ingin repot-repot jika ada apa-apa dengan penumpang mobilnya.

Pos pemeriksaan yang tadi itu ternyata yang pertama dan yang paling lama berhentinya. Saya hitung sampai memasuki Kota Pattani, setidaknya ada tiga pos semacam itu. Hujan yang turun saat memasuki kota nampaknya mengurangi risiko mobil kami diberhentikan lama-lama juga di pos. Akhirnya sampailah saya di hotel.

Hari I: Pattani Central Mosque – Hat Talokapo – Krue Se Mosque – Pasar Malam

Waktu menunjukkan pukul 1 siang lebih. Setelah check-in sebentar di hotel, karena waktu efektif hanya saya alokasikan semalam di Pattani ini, maka saya langsung keluar hotel. Berjalan sebentar, saya panggil tukang ojeg dengan seragam resmi mereka rompi hijau gelap. “Bisa cakap Melayu?” saya tanya. “Iya, bisa sikit-sikit.” Memang daerah selatan ini orang bisa berbahasa Melayu walaupun dengan logat yang butuh usaha lebih untuk mencernanya.

Pertama kali, kepada tukang ojeg bernama Pakcik Hasan ini saya minta antar ke Masjid Raya Pattani, ikon utama tempat ini. Sebelum memasuki masjid, saya berbincang sebentar dengan Pakcik Hasan untuk menjajaki kemungkinan mengantar saya ke tempat yang sudah saya list di rencana perjalanan. Pakcik bersedia asal pulang sebelum malam dan dengan tawar-menawar harga sekitar 300 Baht. Setelahnya baru saya menunaikan sholat di Masjid Raya Pattani ini.

Masjid Raya Pattani

Masjid Raya Pattani

Berfoto dengn latar Masjid Raya

Berfoto dengn latar Masjid Raya

Setelah dari Masjid Raya, kami melanjutkan perjalanan ke Hat Talokapo selama sekitar 30 menit, setelah melalui juga hutan bakau. Hat itu berarti pantai, dan Talokapo berasal dari kata Teluk dan Kapur. Posisinya menghadap langsung Laut Cina Selatan.

Saat sampai di Pantai, menurut Pakcik Hasan kondisi sedang tidak terlalu ramai, mungkin karena mendung. Dalam waktu-waktu tertentu, seperti liburan hari raya atau akhir pekan, masyarakat Pattani tumpah di situ. Saya sendiri, hanya mengamati anak-anak yang bermain air, layang-layang, atau keluarga yang sedang berlibur, sambil menyempatkan makan siang mie rebus bersama Pakcik Hasan yang dibeli di pedagang di pantai.

Di sini saya sempat berbincang juga dengan ibu pedagang makanan yang ternyata berasal dari Medan, Sumatera Utara dan sudah menikah dengan penduduk Pattani ini.

Anak-anak Bermain di Pantai Teluk Kapur

Anak-anak Bermain di Pantai Teluk Kapur

Keluarga di Pantai Teluk Kapur

Keluarga di Pantai Teluk Kapur

Pedagang di Pantai Teluk Kapur

Pedagang di Pantai Teluk Kapur

Dari Pantai Teluk Kapur, sembari mengarah pulang menuju hotel, kami juga mampir ke Masjid Krue Se (logat sana menyebutnya Kresik), yang nama aslinya Masjid Muzhaffar Syah. Masjid ini merupakan Masjid kuno pertama yang didirikan di Pattani dengan gaya Timur Tengah. Namun setelah beberapa kali perang, kondisinya menjadi rusak dan ditinggalkan sejak 1786. Namun dengan beberapa kali renovasi, akhirnya Masjid ini bisa digunakan kembali dengan tetap menjaga keotentikannya.

Masjid Muzhaffar Syah

Masjid Muzhaffar Syah

Bagian dalam Masjid Muzhaffar Syah

Bagian dalam Masjid Muzhaffar Syah

Menjelang matahari terbenam, saya kembali ke hotel. Pakcik Hasan memberi tahu bahwa jalan yang menghubungkan saya dengan Prince of Songkla University adalah tempat bagi pasar malam. “Siap mandi dari hotel, jalanlah malam ke situ,” pesan Pakcik Hasan. Sampai di hotel, selain memberikan ongkos jasa ojegnya, saya juga memberikan satu buah kalender yang saya bawa dari Bangkok, salah satu souvenir konferensi.

Sesuai pesan Pakcik, saya kembali keluar di malam hari. Berjalan dari ujung ke ujung, saya melihat kehidupan usaha ekonomi kecil menengah yang bergeliat terutama usaha kuliner, rata-rata jenis makanan yang familiar dengan lidah melayu seperti nasi ayam, martabak, teh, kopi, dan lain-lain. Mungkin ramai karena letaknya yang dekat kampus. Untuk mengisi perut yang sudah lapar, saya isi dengan nasi ayam dan membeli martabak manis gulung.

Pedagang di Pasar Malam

Pedagang di Pasar Malam

Hari II: Somdet Phra Si Nakharin Park – Prince of Songkla University

Perjalanan hari kedua ini saya mulai pagi hari ketika masyarakat setempat sudah bergeliat. Dengan tukang ojeg yang kali ini saya tidak hapal namanya, tujuan awal adalah ke terminal bis Pattani untuk membeli tiket ke tujuan perjalanan saya berikutnya: Phuket. Bis yang akan berangkat malam hari sekitar pukul 8 ini harga tiketnya 475 Baht.

Setelah membeli tiket dan nego harga ojeg, saya meminta diantar ke Taman Somdet Phra Si Nakharin. Taman ini dibangun sebagai hadiah ulang tahun ke-80 Ibu dari Ratu Galyani Vadhana yang dimulai pekerjaannya pada tahun 1980 dan rampung 1994. Tidak banyak orang di taman yang sangat luas ini kecuali anak-anak kecil yang tampak seperti berpakaian pramuka. Saya berkeliling melewati beberapa bangunan, taman-taman, danau buatan, dan hutan bakau.

26 25

Sesudah merasa agak letih, saya meminta diantar ke Prince of Songkla University. Tujuan awalnya adalah Princess Galyani Vadhana Institute of Cultural Studies. Di dalamnya ada ruang ekshibisi yang biasa memamerkan karya seni. Namun saat saya masuk, ruangan sedang direnovasi. Tidak ada penjaga, tidak ada orang selain pekerja konstruksi. Saya melihat ada beberapa karya seni yang menempel, mungkin bekas pameran sebelumnya yang belum sempat dilepas.

32

Untuk menghabiskan waktu menunggu malam sebelum kembali ke terminal dan berangkat ke Phuket, saya berkeliling di dalam universitas, dan menyempatkan juga sholat di masjid kampusnya.

31 33

Inilah tempat perjalanan terakhir saya di Pattani. Perjalanan yang cukup singkat, namun ada keseruan tersendiri. Yang saya sayangkan, saya belum bisa mengeksplorasi dan berdiskusi lebih dalam dengan masyarakat setempat tentang kondisi sosial di sana. Pertama, karena tidak tahu dengan siapa orang yang pas berdiskusi. Kedua, khawatir dicurigai, jika tidak sebagai jurnalis pengorek informasi, atau orang yang politis. Padahal, saya ini hanyalah pelancong biasa.

Tabik😀