Mepet ke Phuket

by Fadhli

Ini adalah lanjutan cerita perjalanan saya ke daerah Thailand Selatan. Dari Pattani, saya menuju Phuket, salah satu propinsi yang sangat populer sebagai kawasan wisata. Tiba tanggal 5 Februari lalu, hanya semalam saya di sini karena memang mepet waktunya dan mepet uangnya😀

Wisawatan yang berkunjung berasal dari berbagai belahan dunia, terlihat dari warna kulit dan paras wajahnya, mulai dari kelas anggaran terbatas, sampai yang menginap di hotel-hotel berbintang. Selain karena Phuket memiliki pantai yang banyak dan panjang di sebelah baratnya yang berhubungan langsung dengan Laut Andaman, wisatawan biasanya juga menyebrang ke Pulau Phi-Phi.

Dengan harga tiket bis sekitar 475 Baht, saya memulai perjalanan malam dari terminal bis Pattani. Aslinya bis ini berasal dari Sungai Kolok, dan transit di Pattani untuk mengangkut penumpang lagi. Keluar dari Pattani bis juga masih diperiksa oleh aparat militer, hanya saja kali ini mereka tidak masuk ke dalam bis untuk memeriksa penumpang satu-persatu. 

Perjalanan sepuluh jam yang saya habiskan dengan tidur itu berakhir di Terminal Bis Phuket. Dari terminal, saya menumpang ojek dan minta diantarkan ke Masjid Al-Madenah untuk shalat shubuh karena fajar sudah akan terang. Masjid yang ternyata sedang dalam proses renovasi ini searah dengan dengan tujuan perjalanan saya berikutnya: pelabuhan penyebrangan ke Pulau Phi-Phi.

Masjid Al-Medinah, Phuket

Masjid Al-Medinah, Phuket

Selesai sholat dan sedikit berbincang dengan bahasa tubuh dengan dua bapak yang sedang berada di masjid, saya langsung menuju pelabuhan masih dengan membawa dua ransel. Seperti biasa, ojek menjadi pilihan angkutan.

Pulau Phi-Phi

Di pelabuhan, saya ikut paket tur dengan harga 1300 Baht (ditawar dari 1500 Baht) untuk sampai di Pulau Phi-Phi. Fasilitas yang didapat antara lain peralatan snorkeling kecuali fin (harus disewa lagi seharga 80 Baht), dan makan siang, dengan menaiki crusade yang menampung ratusan orang, termasuk para wisatawan lansia banyak juga yang ikut.

Pelabuhan Phuket

Pelabuhan Phuket

Sebenarnya harga tersebut lumayan mahal karena saya tidak bisa mampir ke Pantai Maya yang Leonardo di Caprio dulu pernah shooting film The Beach di situ. Namun apa boleh buat, kadang menjadi lonely traveler juga sedikit rugi karena tidak bisa ikut paket-paket rombongan yang harganya bisa lebih murah.

Perjalanan dari pelabuhan Phuket ke Pulau Phi-Phi menghabiskan waktu sekitar dua jam. Di awal perjalanan, pemandangan sepi-sepi saja. Bule-bule banyak yang menaiki lantai teratas kapal tanpa atap untuk berjemur. Saya tidak berlama-lama untuk berjemur karena sadar diri warna kulit sudah eksotis, hehehe

Baru sekitar setengah jam sebelum sampai Pulau Phi-Phi mulai terlihat tebing-tebing yang terpancang. Announcer kapal menjelaskan di mana letak Pantai Maya, dan beberapa penjelasan lain yang saya tidak dengar karena asyik berfoto-foto.

5

7

Pantai Maya

Pantai Maya

Pulau Phi-Phi merupakan tempat bersandarnya kapal-kapal, baik besar maupun kecil, wisata maupun nelayan. Di pinggir pantainya, tidak terlihat aktivitas wisatawan seperti berjemur (mungkin ada, tapi di sisi lain yang tidak saya kunjungi). Di dalam pulau banyak terdapat penginapan, kios souvenir, peralatan menyelam, agen wisata. Mayoritas orang yang berlalu-lalang bukan lagi berwajah Thai, tapi campuran dari berbagai negara, dan kulit putih yang nampaknya mayoritas. Semacam Bali.

24

Setelah merapat di Pulau Phi-Phi, wisatawan yang hendak snorkeling, diantar dengan kapal lain menuju titik tempat biasa mengamati terumbu karang dan ikan. Dengan peralatan lengkap, tentu saja bagi saya yang utama adalah pelampung, saya langsung turun ke air.

Menurut saya, keindahan terumbu karangnya masih kalah dari beberapa tempat yang sudah saya kunjungi di Indonesia seperti Pulau Tidung, Bama (Taman Nasional Baluran), dan Krakatau. Terumbu karang di sini sudah banyak yang botak. Mungkin keindahan yang selama ini ditampilkan adalah nuansa sekelilingnya yang di bawah tebing, dengan air yang jernih, dan ikan-ikan yang berkerubung jika kita menabur roti atau potongan biskuit.

20

Sesudah snorkeling satu jam lamanya, kapal kembali bergerak ke Pulau Phi-Phi agar wisatawan bisa makan siang dan beristirahat. Selain makan siang, saya sempatkan ke Masjid Al-Islah di dalam pulau ini, tentunya juga untuk mandi.

Masjd Al-Islah, Pulau Phi-Phi

Masjd Al-Islah, Pulau Phi-Phi

Aktivitas tur ini selesai lebih dari setengah hari. Sekitar pukul dua siang, kapal kembali merapat di pelabuhan Phuket.

Patong dan Jalan Bangla

Dari Pulau Phi-Phi, saya menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya melalui internet seharga sekitar 170 ribu untuk semalam saja. Jaraknya sekitar 20 menit dari pelabuhan dengan menggunakan ojek. Check in, istirahat sejenak sambil membuka laptop untuk melihat-lihat tempat yang akan dikunjungi malam hari di internet, saya memutuskan untuk pergi ke daerah Patong yang ramai di malam hari dengan kuliner dan kehidupan malamnya.

Menggunakan bis terakhir ke Patong, saya mampir dulu ke Masjid Nurul Islam yang terletak sebelum memasuki jalanan Patong. Selepas dari masjid, saya mampir lagi di tenda tempat makan melayu dengan menu sate ayam. Di Phuket ini, untuk mencari makanan halal tidaklah sulit.

Menyisir jalanan ini, penuh dengan wisatawan. Di pinggir jalan banyak kios yang menjual suvenir, makanan, tawaran pijat, paket tur. Ada juga mobil boks keliling yang memamerkan atlit Thai Boxing dalam rangka mempromosikan pertandingan mereka.

Nuansa ramai berlanjut ketika belok ke Jalan Bangla. Tempat yang menawarkan secara eksplisit wanita-wanita hiburan. Entahlah, mungkin itu tafsir lain kebebasan wanita bagi mereka.

Ujung Jalan Bangla ini adalah Pantai Patong. Masih banyak orang yang berdatangan ke pantai di malam hari. Sebagian di antara mereka memainkan lampion yang dijual untuk menghiasi langit malam. Dari Patong, saya pulang ke hotel dengan menggunakan ojek karena jam operasional bis sudah berakhir dari pukul 17 atau 18.

26

Susur Pantai Barat

Keesokan harinya, hari terakhir saya di Phuket kali itu, saya menyewa sepeda motor seharga 250 Baht, belum termasuk bensin yang dibeli dengan 100 Baht. Pihak hotel membantu saya menghubungi si empunya usaha rental. Jaminannya adalah passport. Tujuannya adalah ingin menyusuri pantai di sebelah barat propinsi ini yang terkenal banyak jumlahnya dan indah jika dilihat dari view point.

Setelah check out saat hari masih pagi dan menitipkan tas ke hotel, saya memulai petualangan bermotor. Mulai pantai yang letaknya di selatan sampai ke utara, saya niatkan sehabis bensin saja. Oh ia, sebelum susur pantai, saya beli tiket bis dulu ke terminal untuk perjalanan pulang ke Bangkok malam harinya. Sepanjang perjalanan bisa dilihat bule-bule yang juga sedang mengendarai motor, bahkan dengan bertelanjang dada untuk yang pria karena sinar mentari memang terik.

Oleh karena saya tidak terlalu suka beraktivitas di pantai, karena tidak bisa berenang tanpa pelampung, jadi saya hanya melihat-lihat, dan tidak bisa terlalu banyak memberi komentar. Pantai yang saya lewati antara lain, Kata, Karon, Patong (lagi) dan Kamala. Di area pantai terakhir saya juga menemukan Masjid Al-Bushroa, dan menunaikan shalat di sana. Saya juga menemukan satu masjid lain di daerah Bangtao.

27

View Point Kata

30

View Point Karon

Pantai Kamala

Pantai Kamala

Merasa bensin akan habis, saya selesaikan perjalanan dengan mampir terlebih dahulu mampir di mall di sana untuk makan siang. Hari mulai sore saat saya mengembalikan motor dan mengambil tas untuk menuju terminal.

Perjalanan kembali ke Bangkok selama 12 jam pun seharga hampir 600 Baht dimulai. Selang setengah hari dari setibanya di Bangkok, saya kembali pulang Jakarta.