(Bukan) Kasta dalam Perjalanan

by Fadhli

4

Sendiri atau Bersama?

Ada yang senang berjalan sendiri karena merasa lebih bebas menentukan arah, tidak ada beban mengatur, atau diatur, atau berkompromi dengan banyak orang. Berjalan sendiri mungkin bisa melatih independensi, melatih diri tidak terlalu bersifat komunal yang ke mana-mana harus lengket dengan orang lain sehingga terkesan: no friend(s), no travel.

Ada yang senang jalan bersama. Dengan itulah rasa perjalanan menjadi seru, walaupun harus beradaptasi karena dengannya harus belajar bertoleransi, berteman dengan berbagai karakter. Ada hal yang bisa dibagi bersama, transportasi, akomodasi, dan logistik rombongan yang lebih murah. Bersama bisa saling menjaga dari berbagai risiko, atau bercanda melepas kebosanan. Selepas itu ada hasil lain yang bisa didapat: kebersamaan di luar perjalanan, jaringan sosial dan mungkin bisnis. 

Kalau saya ditanya, keduanya saya sukai. Ada waktu saya merasa harus berjalan sendiri, terutama ketika memanfaatkan tugas ke luar kota yang sendiri, atau ketika sengaja mencari lelah dan menghabiskan energi sendiri tanpa harus merepotkan orang lain yang menunggu kita terseok di belakangnya, atau sebaliknya melihat-lihat ke belakang karena memastikan semua kawan lengkap dan kondisi baik.

Ketika tersesat saat berjalan sendiri bisa menenangkan diri sebelum mencari arah lanjutan dengan leluasa. Trial and error menentukan keputusan ke mana arah jalan, apa yang akan kita makan, dan di mana akan tinggal adalah hal biasa tanpa tanggungan beban orang lain yang mulai panik, menggerutu, atau bahkan ngomel jika perjalanan ternyata tidak sesuai waktu atau harapan. Cenderung nihil konflik dengan orang lain.

Tapi berjalan bersama juga asyik. Preman dan calo bisa dihadapi atau dicuekin bersama tanpa takut tangan kita ditarik-tarik. Di jalanan yang sepi dan gelap, kita bisa membuat keributan sendiri. Tidak membawa uang lebih, bisa kas bon dulu ke teman.

Berjalan bersama akan lebih asyik dengan orang yang juga asyik. Kalau merasa kondisinya tidak asyiknya kebangetan, sebaiknya mengalah saja, karena dengan itu kita lebih enjoy. Jika bisa, usahakanlah kita yang membuat asyik perjalanan. Banyolan, yang disesuaikan dengan standar banyolan orang lain, bisa menjadi pilihan. Karena lucu itu penting!😀

Yang jelas, sendiri atau bersama bukanlah kasta dalam perjalanan, tidak ada yang lebih baik satu dan yang lainnya. Cobalah berjalan sendiri jika di saat berjalan bersama kita merasa lebih jago dari kumpulan. Sebaliknya, berjalanlah bersama jika dengan berjalan sendiri kita merasa sudah menjadi jagoan yang bisa menaklukkan dunia, tapi belum bisa menaklukkan ego dan dominasi sendiri.

Pantai atau Gunung?

Kadang ada yang membedakan wisata dari sisi tantangan mencapainya. Kutub yang paling berlawanan biasanya anak pantai yang bersantai atau anak gunung yang tinggi tasnya melebihi punggung. Satu sisi sering dianggap mewakili jenis traveling yang lenje-lenje, sisi yang lain dianggap mewakili jenis yang heroik dan macho, diliat dari sisi kemampuan survival, berat barang bawaan dan perlengkapan, kekuatan fisik dan sebagainya. Selain keduanya ada jenis traveling lain seperti city tour, museum, rafting, gunung wisata, dan lain sebagainya.

Lagi-lagi bagi saya, itu adalah masalah preferensi, bukan kasta dalam traveling. Orang bebas memilih. Saya pribadi jika memilih, lebih menyukai yang sifatnya petualangan, hutan, gunung, kalaupun pantai ya snorkeling daripada duduk berjemur di pantai, atau colek-colek air di sisi-sisinya (karena ga bisa berenang :D). Tapi saya tidak serta merta menjauhi wisata kultural, festival, dan sejenisnya.

Satu jenis mungkin mengandalkan kekuatan fisik, jenis yang lain bisa mengasah keilmuan, sejarah, atau kreatifitas. Masing-masing ada keuntungannya. Toh, kalau berjalan yang sifatnya mengandalkan kekuatan fisik pun, pengetahuan tentang tempat yang dikunjungi akan membuat perjalanan lebih berasa. Not just ordinary coming to and leaving from a place..

Penuh perencanaan atau go show?

Lagi-lagi ini tergantung kondisi. Ada perjalanan yang tidak perlu perencanaan dan langsung saja berangkaaaat. Biasanya ini dengan jumlah orang yang sedikit, ke tempat yang relatif dekat, tidak perlu membawa perlengkapan yang spesifik, dan sudah pernah tahu tentang kondisinya.

Sementara yang penuh perencanaan tentu saja jika yang membutuhkan banyak koordinasi, terutama reservasi transportasi dan akomodasi, pembagian tugas dan bawaan perlengkapan yang spesifik, apalagi jaraknya jauh.

Tapi, ada juga mazhab pelancong yang pokoknya ke mana saja harus penuh perencanaan atau sebaliknya ke mana kaki dilangkahkan ya go show saja. Bagi saya selama keduanya feasible dengan kondisi dan pengalaman di lapangan, silakan-silakan saja yang mana. Preferensi selama sama dalam mencapai tujuan dan tidak membawa kerugian, tidak perlu dipaksakan ke semua orang.

Yang lebih penting dari semua itu menurut saya adalah, teruslah berjalan😀