Menapak Merapi yang Bergemuruh

by Fadhli

18 Mei 2013. Sekitar 08.45

Saya liat jam tangan yang sedang dalam mode stopwatch. Sudah dua jam saya berjalan dari awal pendakian gunung api aktif ini dari daerah Selo, Boyolali.

Inilah Gunung Merapi, salah satu gunung teraktif di nusantara. Walaupun usianya yang termuda di daerah selatan Jawa, diperkirakan baru mulai bererupsi sejak 400 ribu tahun lalu, tapi Merapi selalu berhasil menarik perhatian, terutama dalam rangka antisipasi bencana. Merapi terbentuk dari subduksi lempeng Indo-Australia di bawah lempeng Eurasia, dan merupakan bagian tenggara dari Pacific Ring of Fire.

Ikonnya adalah wedhus gembel, yang dalam bahasa Jawa berarti domba berbulu lebat, menggambarkan asap pekat bergulung-gulung seperti bulu domba yang bergerak dengan kecepatan 80 km/jam dan bertambah menjadi 200 km/jam saat meluncur di punggung gunung. “Domba” itu membawa bebatuan berbagai ukuran, termasuk seukuran debu dan gumpalan gas panas 200 – 700 derajat celcius. 

Ledakan besarnya di bulan November 2010 menewaskan lebih dari 300 jiwa, dan lebih dari 300 ribu menjadi pengungsi menurut otoritas kebencanaan nasional, BNPB. Yang menjadi pemberitaan utama juga adalah wafatnya Mbah Maridjan, kuncen Merapi yang enggan dievakuasi karena menurutnya ia mendapat amanat untuk menjaga Merapi apapun kondisinya.

Dari awal pendakian dengan plang “New Selo”, tidak lupa meninggalkan “jejak biologis” dulu di sana (<- tidak perlu dibanggakan, karena bukan di kawasan hutannya, tapi di toilet umum :D) saya melalui jalur perkebunan warga hingga sampai di Pos 1 bertanda gapura berwarna hijau. Dari Pos 1 ke Pos 2 yang bertanda tugu setinggi sekitar satu meter di atas batu, akan melalui jalur hutan dan mulai menjejak jalur berbatu dengan vegetasi lebih terbuka. Baru dari Pos 2 ke Pasar Bubrah jalanan semakin terbuka dengan jalur berbatu. Memasuki Pasar Bubrah, kita akan melihat monumen kenangan untuk beberapa pendaki yang wafat di Merapi.

Jalur pendakian dimulai dari sisi kiri plang ini

Jalur pendakian dimulai dari sisi kiri plang ini

Gapura Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Merapi

Gapura Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Merapi

Tugu di Pos 2

Tugu di Pos 2

Monumen Memorial Pendaki yang Tewas di Merapi

Monumen Memorial Pendaki yang Tewas di Merapi

Selama perjalanan tadi kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa indah. Pancang-pancang bumi lain terlihat tak kalah megah. Dari jalur pendakian jika berbalik badan, tepat di depan kita menjulang Gunung Merbabu yang hijau, saudara kembar Merapi. Di sisi tangan kiri, Sindoro – Sumbing juga berpasangan. Hanya agak sedih melihat di sisi tangan kanan, ada Gunung Lawu yang jomblo. Hehe..

Gunung Merbabu dilihat dari Jalur Merapi

Gunung Merbabu dilihat dari Jalur Merapi

Sindoro Sumbing dari Jalur Merapi

Sindoro Sumbing dari Jalur Merapi

Gunung Lawu dilihat dari Jalur Merapi

Gunung Lawu dilihat dari Jalur Merapi

Dan kini saya ada di Pasar Bubrah, menatap puncak Merapi yang dalamnya kopong dengan dasar berkawah, namun sangat gagah terlihat dari bawah. Alur dari Pasar Bubrah ini menanjak curam dengan kondisi berpasir dan berbatu.

Pasar Bubrah Merapi. Pendaki juga kadang membangun kamp di sini

Pasar Bubrah Merapi. Pendaki juga kadang membangun kamp di sini

Memang agak telat saya tiba di sini. Biasanya untuk pendakian tidak menginap, orang-orang berangkat tengah malam untuk mengejar matahari terbit dari puncak. Setelah itu, tidak disarankan berlama-lama di puncak karena menjelang siang biasanya gas sulfur mulai keluar.

Maka saya mulai jejakkan kaki di kawasan berpasir ini. Mereka yang pernah mendaki Anak Krakatau akan merasakan sensasi yang kira-kira serupa, hanya saja kali ini lebih curam dan panjang, walaupun tidak sepanjang Semeru.

Menuju Puncak Merapi, berpasir dan berbatu

Menuju Puncak Merapi, berpasir dan berbatu

Hanya dengan sandal aktivitas outdoor saya mendaki, karena ini adalah perjalanan dadakan. Sekali menjejak ke atas, akan merosot. Merasa kurang efektif, saya lepas sandal. Jadilah saya hampir merangkak. Ujung jari-jari kaki saya tunclep-kan ke pasir, serupa dengan ujung sendal yang saya pegang di tangan dijadikan “tongkat” dalam posisi hampir tiarap.

Lepas dari jalur berpasir, adalah jalur berbatu. Ini lebih baik, walaupun harus hati-hati menjejak karena salah-salah pijak bisa berbahaya bagi diri kita maupun orang di bawah kita.

Jalur berbatu semakin mendekati puncak

Jalur berbatu semakin mendekati puncak

Sekitar 20 menit saya mendaki akhirnya saya sampai di puncak, ternyata puncak adalah bibir area kawah yang tipis, seperti bibir Bromo. Dari puncak, saya bisa melihat aliran lava yang mengalir saat erupsi terjadi ke arah punggung yang lain. Dari beberapa titik di dasar kawah, terlihat semburan gas tipis keluar.

11

Dasar kawah dilihat dari bibir puncak Merapi

Dasar kawah dilihat dari bibir puncak Merapi

Setelah bersapa singkat dengan empat mahasiswa pendaki yang lebih dulu tiba, dan hanya kita yang berada di puncak saat itu, saya berniat melanjutkan pendakian ke titik tertinggi di area puncak Merapi. Jalurnya tipis, semacam melalui tebing batu.

Puncak Garuda

Titik Tertinggi

Saat merayap menuju itulah saya mendengar suara persis seperti pesawat terbang menderu. Beberapa menit tak juga berlalu. Dengan keheranan saya melihat-lihat lagi ke bagian kawah. Ada satu titik di dasar yang mengeluarkan asap semakin banyak dan tinggi. Saya liat jam, sudah sekitar pukul 09.20.

Saya coba abaikan gas itu demi menyentuh titik tertinggi. Tapi beberapa lama, suara pesawat tak kunjung berhenti, bahkan makin menderu. Saya berhenti lagi dan melongok ke dasar kawah. Dan, asap yang keluar semakin pekat, abu kehitaman. Bau sulfur mulai tercium. Berbalik badan dan melihat ke bagian bawah, kabut pun mulai turun, suasana sekeliling sudah putih walaupun jarak pandang masih normal.

Gas yang keluar, sesaat sebelum semakin pekat

Gas yang keluar, sesaat sebelum semakin pekat

Ngeri karena sendiri, saya putuskan untuk turun. Empat mahasiswa lain masih asyik berfoto, menyanyikan lagu-lagu perjuangan kampus, dan meneriakkan yel-yel kemahasiswaan sampai saya bilang ke mereka agar melihat ke arah kawah yang mengeluarkan asap pekat. Saya menyarankan agar segera turun karena di antara kami tidak ada yang terlalu ahli dalam masalah pendakian, dan tidak tahu ke mana arah angin akan membawa gas itu.

Teman-teman mereka yang masih akan mendaki ikut turun setelah bertemu kami yang berbalik arah. Saat turun, ada puluhan ekspatriat yang juga sedang mendaki. Saya sempat katakan kondisi di puncak kepada pemandu lokal mereka, namun pemandu yang nampaknya sudah ahli itu mengatakan bahwa kondisi masih normal dan yang penting bisa membaca arah angin.

Akhirnya, saya pamit untuk turun duluan kepada kelompok mahasiswa yang bertemu di puncak tadi. Mereka menawarkan untuk istirahat bersama dulu di tendanya di Pasar Bubrah, tapi saya sedang mengejar waktu, dan melihat kondisi yang berkabut dan mendung, maka saya putuskan langsung turun mengingat peralatan yang juga tidak lengkap.

Sepanjang perjalanan turun, memang kabut menyelimuti. Dari Pos 2 ke bawah, sudah gerimis, untung membawa payung walaupun tidak lazim digunakan di gunung😀. Saat turun saya masih sempat berhenti mengamati burung-burung berwarna hijau yang saya tidak tahu namanya di antara vegetasi.

Saya tutup pendakian dengan perasaan senang dan puas, karena walaupun dengan terengah, tetapi bisa menjejakkan kaki di punggung dan puncak Merapi yang dalam lagunya Jogja Hip-Hop Foundation disebut-sebut “gemuruh laksana Merapi.” Alhamdu.. lillaaaah😀

19 Mei 2013. Prambanan, menjelang tengah hari.

Saya bersama seorang kawan sedang mengintil pemandu wisata Candi Prambanan demi mendapat sejarah tentang Prambanan dengan gratis, hehe. Sebetulnya saya tidak terlalu memperhatikan karena dari SMA dulu agak sukar merekonstruksi sejarah yang banyak nama rajanya dan mirip-mirip, juga istilah yang agak susah dari bahasa Sanskrit.

Sampai sang pemandu menyerempet tentang peristiwa gempa dan letusan dan merapi yang berdampak pada kawasan Candi. Dan pemandu bilang, “Kemarin juga ada laporan bahwa Merapi kembali beraktivitas ya..”

Setelah itu saya cek ke beberapa media internet. Dan betul. Ternyata itu bersamaan pula dengan posisi saya saat masih di puncak, saya yakin, dengan empat orang mahasiswa dari Jogja itu. Wuiiiih…😀

Berita tentang Aktivitas Merapi 18 Mei 2013 di Sindo

Berita tentang Aktivitas Merapi 18 Mei 2013 di Sindo

Berita tentang Aktivitas Merapi 18 Mei 2013 di Kompas

Berita tentang Aktivitas Merapi 18 Mei 2013 di Kompas

Berita tentang Aktivitas Merapi 18 Mei 2013 di Tempo

Berita tentang Aktivitas Merapi 18 Mei 2013 di Tempo

Berikut ini link video amatir yang saya buat: