Bekerja (untuk diri sendiri) dan Menganggur (untuk orang lain)

by Fadhli

Di ruang tunggu wawancara untuk keperluan akademik, orang-orang saling bertanya tentang kerjaan (kantoran) masing-masing. Saya, yang sudah dua bulan nganggur dari kerjaan kantoran karena ingin fokus mengurus beasiswa, harus diakui, kadang menghindari percakapan semacam itu. Tetapi saya katakan yang sebenarnya, “Saya sudah berhenti bekerja.. jika itu jawaban yang kau mau subuuur..!” *aryawiguna mode: on.

Kadang kita mengeluh di media sosial karena kondisi kerja yang berat dan melelahkan, dan saya duga lebih banyak yang menyimpan di hatinya. Tetapi jika menganggur, banyak orang juga yang menyesal dan merutuki dirinya. Jadinya maunya apa sih? Hehe.

Nah, maunya apa itu bagi saya yang penting. Bekerja dan berhenti karena keinginan sendiri? Atau karena takut dengan status sosial?

Kalau bekerja dan berhenti karena keinginan sendiri, berarti saya sudah siap dengan konsekuensinya, dan harusnya ga ada pilihan tidak bahagia karena saya sendiri yang sudah memilih toh?

Karena “banyak dari kita yang rela bekerja keras untuk orang lain demi memuaskan pencapaian (profit) institusi, tapi kita tidak pernah meluangkan waktu bekerja keras (atau bahkan berleha-leha) untuk diri sendiri demi mengembangkan diri dan mencapai cita-cita pribadi?”

Dalam pengangguran, saya merasa jadi lebih serius mengurus berkas-berkas beasiswa, dan itu memakan waktu tidak sebentar ternyata, dibanding selama ini saya sambi dan agak ngasal (doakan lulus ya kawan, ga apa-apa dalam negeri juga). Dalam pengangguran, saya bisa serius mengantar berkas pendaftaran ke Bandung, ke Jogja, selain sekaligus silaturahim ke tempat teman, mendaki Gunung Merapi, mengunjungi Taman Nasional dan lain-lain tanpa harus dikejar membuka email kerjaan seperti sebelumnya, atau melalaikan pekerjaan besok harinya karena kelelahan.

Dalam pengangguran, saya bisa lebih rajin menulis blog. Dalam pengangguran, per harinya saya bisa membaca 2 buku rata-rata 200 halaman dalam jangka kurang dari 24 jam. Dalam pengangguran, saya bisa lebih lama tinggal di rumah orang tua, walaupun ga banyak ngobrol, tapi lebih mending dibanding hampir 8 tahun selama ini saya merantau. Dalam pengangguran, walau tidak banyak, saya bisa jual kaos hasil desain sendiri. Dalam pengangguran, saya ingin melaksanakan rencana pribadi lain yang agak sulit jika harus bekerja.

Ini bukan sok-sok’an naif atau apologis, bukan juga anjuran berhenti kerja secara ngasal, tetapi jika sudah memilih ya harus meyakinkan bahwa pilihan yang kita ambil tidak menyesalkan, dan memang harus dibuktikan alasan yang saya jadikan pembenaran untuk berhenti. Di luar sana, banyak yang menyandang status pekerja, tetapi sebenarnya leha-leha juga. Hanya gaji yang membedakan.

“Ah, tapi kan kamu ga dapat uang (banyak).” Ya betul, itu bedanya, dan malah saya mengeluarkan uang. Tapi apa salahnya mengeluarkan uang untuk diri sendiri? Selama ini memang uang yang kita cari untuk apa? “Ah, tapi kan kamu merepotkan orang dong jadi.” Saya usahakan tidak, saya kadang sempat bantu-bantu ngebensinin mobil orang tua sih walaupun sedikit.

Jadi, berbahagialah yang menganggur (untuk orang lain) dengan pilihannya sendiri untuk bekerja mengurus dirinya sendiri, apalagi mengurus orang lain seperti relawan atau ibu rumah tangga. Itu sudah pilihan, bukan?