Saya (Tidak) Bohong

by Fadhli

Sudah lewat tengah hari ketika saya dipanggil memasuki ruangan yang saya duga berisi tiga psikolog. Sebelumnya saya sudah menunggu hampir empat jam. Dan saya duduk di hadapan mereka.

Sambil membolak-balik riwayat hidup yang telah saya isi dalam rangkaian psikotes sebelumnya, mereka mencari tahu kenapa waktu SD saya pindah sekolah. Awalnya mereka menduga saya pindah di kelas 3, dan saya tidak bohong bilang bahwa saya pindah di akhir kelas 5, dan masuk di sekolah lain saat awal ajaran baru di kelas 6.

Muka para psikolog agak berubah dengan menaikkan alis setelah saya kasih tahu hal sebenarnya itu, sebagai tanda bahwa mungkin itu agak aneh dan tanggung sekali. Mereka meminta penjelasan lebih lanjut. Saya (tidak) bohong ketika saya katakan itu murni keinginan orang tua saya, tanpa penjelasan lebih lanjut bahwa sebenarnya ada sedikit ketegangan antara orang tua saya dan kepala sekolah SD yang lama.

Saya tidak hendak mengungkit peristiwa itu, selain karena menghabiskan waktu dengan penjelasan yang detail dan dramatis, toh ini wawancara akademik, dan bagi saya tidak ada hubungan alasan yang saya berikan itu dengan pencapaian akademik setelah saya pindah sekolah. Saat pindah SD itu, saya selalu bisa meraih ranking yang sangat baik, dan termasuk lulusan dengan nilai NEM terbesar koq. 

Saya (tidak) bohong ketika saya bilang ingin fokus mencari beasiswa dan melanjutkan kuliah saat mereka tanya kenapa harus berhenti bekerja. Saya punya alasan yang lebih panjang dan dramatis sebenarnya kalau mau, tapi bagi saya itu tidak baik dijelaskan karena menyangkut nama dan institusi lain, nanti terkesan curcol pula.

Pada setiap jawaban itu, mereka selalu belum puas sepertinya, dan mencoba mengaitkan sikap saya yang lain: ingin mencoba hal-hal baru. Mungkin bagi mereka itu sama dengan cepat bosan. Tapi,  bukannya mereka juga tahu hasil psikotes saya di bagian penjumlahan angka-angka dengan kertas lebar segede gaban itu, 3 kolom lagi saya akan menyelesaikan satu lembar kertas bolak-balik itu (hahaha, jumawa). Setau saya bukannya itu untuk menguji konsistensi dan apakah mampu fokus dalam satu hal tertentu dalam waktu lama?

Dan nyatanya sampai sekarang, pencapaian riwayat pendidikan saya tidak ada yang terlalu bermasalah sampai lulus kuliah. Kenapa harus mengungkit yang lalu dan bukankah harusnya kita melihat ke depan?? Zuppperrr…..😀

Bisakah kita menjawab setiap alasan itu dengan, “ya karena ingin saja,” seperti anak-anak melakukan suatu hal yang baru karena memang ingin tahu. Dan bisakah pertanyaan itu diganti kepada orang lain, “kenapa anda hanya mau di situ-situ saja? melakukan hal yang itu-itu saja” Toh, dunia ini terlalu luas, dan terlalu sayang jika kita diam di situ-situ saja.

Tabik