Baputar-Putar di Makassar (1) – Pantai Losari & Fort Rotterdam

by Fadhli

Dengan tiket promo pergi-pulang dari maskapai bermoto “Now everyone can fly” seharga 150.000 kurang 600 rupiah (sudah termasuk bagasi 15 kg), saya memutuskan untuk melancong ke Makassar sendiri. Sementara dua kawan yang juga mendapat tiket serupa dari enam bulan lalu membatalkan kepergiannya.

Yang satu karena udah diomelin keseringan cuti. Bapaknya sampai ngomel, “Cutta, cutti, cutta, cutti..” Yang satu lagi karena baru saja melangsungkan pernikahan dan dengan belagu-nya malah main ke Wakatobi beberapa minggu kemudian. Sempat ada juga yang mau gantiin salah satunya, tapi gak jadi, karena katanya ada meeting penting. Gaya banget ya? Haha

Bangun telat di 27 Mei 2013 menjadi awal perjalanan kali ini. Bablas ketiduran  karena baru saja sampai kostan dini hari setelah sebelumnya putar-putar Bandung – Kuningan (Jawa Barat) – Bandung – Depok.

Awalnya saya berniat mengejar bis Damri pertama dari Pasar Minggu jam tiga dini hari untuk mengejar jadwal penerbangan pukul 06.25. Tetapi karena telat dan baru keluar kostan pukul empat itulah jadinya saya naik yang agak mahalan: taksi putih dengan supir yang sempat membuat saya curiga. Di tengah perjalanan ia minta saya yang menyetir dengan alasan mengantuk. Sudah tentu saya tolak.

Pukul 09.45 waktu setempat, mendaratlah saya di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di kota berjuluk Anging Mamiri, kota pertama yang saya injak di tanah Sulawesi. Secara administratif, Makassar yang sebelum tahun 2000 mempunyai nama Ujung Pandang ini adalah ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Makassar, menurut Basang (1971, dikutip dari blog orang) berasal dari kata mang berarti yang mempunyai sifat dan kasarak bermakna sifat besar (mulia) dan berterus terang (jujur) — aduh ga enak nih sifat saya disindir. Entah apa ada hubungannya dengan Mang Kabayan di Sunda atau tidak.. atau berhubungan dengan Lutung Kasarak di Sumatera Barat? (itu Kasarung woii!)

Kapal Pinisi, sebagai simbol keberanian dan kehebatan suku mayoritas Bugis dalam mengarungi lautan menjadi ornamen khas di bandara, dan juga tempat-tempat lain di kota ini. Lawrence Blair, dalam catatan perjalanannya ke Nusantara berjudul Ring of Fire: an Indonesian Odyssey menulis bahwa suku ini terkesan sebagai pelaut sangar yang mempertahankan daerah mereka dari kedatangan saudagar-saudagar asing (Portugal, Spanyol, Belanda, dll). Sedemikian menakutkannya mereka dengan keterampilan dan kebengisannya, sampai-sampai istilah Boogie man masuk dalam kosakata bahasa mereka, bahkan menghantui mimpi-mimpi saudagar itu.

Keluar dari bandara, supir-supir taksi dan ojeg (mungkin dari keturunan Boogie man juga :D) langsung menghampiri dan menghantui saya. Cukup mengesalkan  karena sekalipun saya sudah melambaikan tangan ke kamera tanda menolak, beberapa di antara mereka terus mengikuti. Tapi ya cuek saja sambil pura-pura bermain handphone, sampai di halte bis Damri yang letaknya di sebelah kanan pintu keluar, dan melalui lorong turun.

Menunggu penumpang mengisi bis Damri sekitar setengah jam, saya buka laptop di dalam bis karena pada saat itu juga ditelepon untuk melengkapi beberapa syarat pendaftaran beasiswa yang sedang diproses. Setelah ditagih bayar di muka seharga 20.000, bis pun berangkat. Tujuan saya adalah Wisma Benhil. Tidak tahu letak sebenarnya, hanya mencari tahu patokannya dari googlemaps.

Sepanjang perjalanan dari bandara, saya melihat banyak sekali masjid di kota ini. Saya rasakan cuacanya juga agak menyengat jika siang. Kantor Gubernur dan Universitas Hasanuddin juga dilewati.

Tiba di wisma sekitar 45 menit perjalanan, saya menyewa kamar dengan harga 75.000 per malam untuk 2 malam, dengan fasilitas hanya kamar tidur, kamar mandi di dalam, dengan kipas angin dan tanpa televisi. Mau yang lebih murah juga bisa, 50.000 tapi kamar mandi di luar. Kalo yang lebih murah lagi mau? Mandinya di sungai sebelah wisma. Hehehe

Pantai Losari

Sampai sekitar pukul 1 siang, saya mengantuk dan tertidur. Baru bangun sekitar pukul 5 sore. Saat yang tepat untuk menuju Pantai Losari. Berangkatlah saya ke Pantai dengan taksi berargo sehargnya 25.000 untuk perjalanan sekitar setengah jam.

Pantai ini memang terkenal untuk melihat dan menikmati matahari yang terbenam di horizon Selat Makassar. Muda-mudi, tua-tui (ada ya??) dan anak-anak ramai berkumpul walaupun bukan malam minggu. Dan aktivitas favorit di sini mungkin berfoto dengan latar tulisan Pantai Losari, atau nyempil di salah satu hurufnya sambil bergaya. Tetapi yang agak kurang nyaman banyak juga pengamen dan pengemis di sini.

Matahari terbenam di Pantai Losari, Makassar

Matahari terbenam di Pantai Losari, Makassar

Pantai Losari malam hari

Pantai Losari malam hari

Berjalan agak ke selatan, saya menemukan Masjid Amirul Mukminin yang letaknya menjorok ke laut.

Masjid Amirul Mukminin, Pantai Losari

Masjid Amirul Mukminin, Pantai Losari

Daerah Wisata Kuliner

Tepat di seberang titik pantai dengan plang Pantai Losari, terdapat gapura wisata kuliner. Nama jalannya Dato Museng. Selain itu, di sisi utara dan selatan pun banyak yang berjualan makanan-makanan dalam gerobak. Yang khas di area ini adalah Pisang Epe dan Es Palubutung. Pisang Epe saya tidak mencobanya karena saya kira itu mirip pisang bakar yang ditabur coklat dan keju seperti di Sinar Garut, Depok, hehe. Jadilah saya coba makan Es Palubutung saja di area ini seharga 10.000. Es ini berisi campuran pisak kepok, bubur sumsum, ditaro es berbentuk kotak yang lama-lama mencair, dan disiram sirup di atasnya. Selain itu, ada Mie Titi dan RM Lae-Lae yang terkenal di daerah ini.

Wisata Kuliner Jalan Dato Museng, seberang Pantai Losari

Wisata Kuliner Jalan Dato Museng, seberang Pantai Losari

Es Palubutung

Es Palubutung

Konro Bakar Karebosi

Dari area Pantai Losari, saya berjalan kaki mencari tempat makan yang konon lumayan terkenal yaitu Konro Bakar Karebosi di Jalan Gunung Lompubottong No. 41. Perjalanan santai mungkin bisa ditempuh selama 15 – 30 menit saja, tetapi saya menempuhnya sekitar satu jam karena agak bingung. Saya sempat 3 kali bolak-balik di jalan yang sama, sampai belok ke gang lain karena malu sama orang-orang yang ada di situ, dan tetep ga ketemu. Dan ternyata saya terkecoh, saya kira jalanan di sini itu kalau sudah bertemu perempatan, apalagi perempatan dengan jalan besar berpembatas jalan, maka itulah ujungnya. Ternyata di seberangnya itu tetap jalan yang sama. Oaalah.

Karena perut sudah sangat lapar, saat masuk saya langsung pesan Konro Bakar dengan nasi. Konro sebenarnya iga sapi, kemudian dibakar dan diberi bumbu kacang. Saat konro bakar dan nasinya baru saja datang, langsung saya lahap-hap-hap. Ternyata beberapa saat kemudian datang kuahnya. Hahaha, Ketahuan deh baru makan yang begituan. Bodddoo amat. Udah lapar. Saya juga coba-coba sih naro kuahnya, rasanya agak pait. Harga konro bakar ini dengan nasi dan segelas teh hangat seharga 49.000. Hebat ya? Padahal paginya saya gak makan biar irit. Hehe. Layak lah harga segitu untuk kenikmatan dan kekenyangan yang nyata.

Konro Bakar Karebosi

Konro Bakar Karebosi

Sehabis pulang dari Konro Bakar, sambil menuju tempat angkot saya mampir dulu melihat Lapangan Karebosi yang konon ada tujuh makam tidak dikenal di sana. Tapi saya tidak sampai masuk, hanya melihat dari seberang jalan. Sudah kekenyangan dan ngantuk nampaknya.

Fort Rotterdam

Di hari kedua, saat pagi sudah mulai siang saya baru keluar dari wisma untuk menuju Fort Rotterdam yang terletak di pinggir laut, agak utara dari Pantai Losari. Berdasarkan Wikipedia, ini adalah benteng yang direbut Belanda melalui Perjanjian Bungayya dari Kerajaan Gowa – Tallo. Setelah diambil, Cornelis Speelman mengganti nama benteng ini menjadi Fort Rotterdam untuk mengingat tempat lahirnya. Konon yang mendirikan pertama kali adalah Raja Gowa ke-9 di tahun 1454 dengan nama asli Benteng Ujung Pandang.

Bentuknya jika dilihat dari atas menyerupai penyu yang hendak menuju ke lautan, terdiri dari area “kepala” dan “kaki-kaki” penyu raksasa yang dinamakan Bastion, selain juga bangunan-bangunan lainnya di tengah dan sekelilingnya. Katanya bentuk itu untuk menggambarkan kejayaan di darat dan laut sebagaimana penyu bisa hidup di keduanya. Untuk masuk ke benteng ini, pengunjung hanya menuliskan namanya di buku tamu dan memberikan dana sukarela.

Di dalam, pengunjung juga bisa memasuki Museum La Galigo, yang menyimpan benda peninggalan dan sejarah terkait Makassar. Walaupun saat saya masuk saat itu beberapa benda sedang dibersihkan, dan etalasenya kosong. Tiket masuk museumnya 5.000. Di Fort Rotterdam ini juga terdapat penjara yang sempat ditempati Pangeran Diponegoro.

4

13

10

12

Nasi Kuning Riburane

Perut sudah barongsai-an (bukan keroncongan lagi) setelah mengelilingi Fort Rotterdam beserta museumnya, saya menuju tempat makan Nasi Kuning Riburane. Letaknya sekitar 5 menit berjalan saja ke arah utara, kemudian berbelok ke timur, tepat di ujung jalan Riburane yang bersinggungan dengan Jalan Ahmad Yani.

Penjual nasi kuning ini ibu-ibu tua, dengan bantuan beberapa kru-nya yang (saya duga) menyewa tempat di toko milik encik-encik yang menjual minuman dan penganan lain, sebuah kerjasama lintas-kultur dan agama yang harmonis nih.

Saya pesan porsi kecil saja, karena porsi dompet saya juga tipis, hehe. Gini tampilannya:

18Pas saya makan, beuuuh mantap bwennnerrr.. Ada potongan daging, dendeng, abon, kentang goreng. Cuma kurang aja: kurang kerupuk, sama kurang bersyukur. Untung pesannya porsi kecil, segitu udah kenyang banget.

Selesai dan bayar: 25.000. Elus-elus dada langsung. Mana ga pake kerupuk euy. Tapi dari sisi rasa sih layak puool. Ono rego ono rupo lah yo kata orang Jawa. Teman saya yang daeng orang Makassar juga bilang bahwa ini menurut dia adalah nasi kuning terenak di Makassar.

Sehabis kenyang, jalan lurus saja dari nasi kuning ini, saya mampir di Masjid Raya Makassar. Selain sholat, juga numpang istirahat menunggu waktu menuju Taman Nasional Bantimurung yang saya rencanakan berangkat siang saja.

Bersambung..