Baputar-Putar di Makassar (2) – Gagal Lihat Tarsius dan Ketinggalan Pesawat

by Fadhli

Taman Nasional Bantimurung – Bulusarung

Setelah beristirahat sejenak di Masjid Raya Makassar, saya melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bantimurung. Target sebenarnya di sana adalah melihat monyet kecil seukuran jempol bernama Tarsius (Tarsius fuscus menurut web Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung). Masyarakat setempat kadang menyebutnya dengan balao cangke atau tikus duduk. Matanya berukuran lebih besar dari otaknya.

Berbekal saran dari teman saya yang lulusan biologi dan bilang bahwa binatang ini nokturnal — melakukan aktivitas pada malam hari dan istirahat di siang hari, jadilah saya berniat tiba di taman nasional itu menjelang maghrib sehingga berangkat dari Makassar pukul 2 siang.

Dari Makassar, saya naek angkot 3 kali: menuju Terminal Daya (ongkos 3000), menuju Pasar Maros (5000), menuju Bantimurung (4000) selama sekitar 2,5 jam. Itu sudah termasuk bonus ngetem lama, musik yang berdendang dengan bass keras keluar dari speaker di bagian belakang angkot, klakson yang memekakkan telinga. Mungkin begitulah karakter angkot-angkot dan kendaraan di sana. 

Di jalanan menuju Bantimurung, saya disuguhi pemandangan batu karst yang menjulang tinggi. Menurut travenesia.com, Ini adalah gugusan karst kedua terbesar di dunia setelah di Cina Selatan. Gugusan ini memiliki setidaknya 268 gua, termasuk gua terdalam dan terpanjang sedunia. Di Gua Leang-Leang, juga terkenal dengan lukisan kuno di dinding-dindingnya.

Tiba di pintu masuk taman nasional pukul 17.30, saya membeli tiket masuk seharga 15.000. Memang jam operasional buka tertulis 24 jam, tetapi saat masuk, tinggal dua orang pengunjung tersisa, ditambah saya. Yang dua orang itu juga sudah tampak akan hengkang.

Sampai di air terjun, langit sudah mulai gelap. Mau turun bermain air, khawatir dengan barang yang tidak dijaga. Ah sudahlah sambil menunggu keluarnya si Tarsius saya melanjutkan perjalanan ke Gua Batu. Ke Taman Kupu-Kupu juga sudah gelap dan tidak memungkinkan.

Air Terjun Bantimurung

Air Terjun Bantimurung

Hari semakin gelap, diapit sungai dan tebing karst saya berjalan, melalui juga hutan. Untung saya membawa headlamp sendiri. Toko-toko suvenir dan penganan di sepanjang jalan menuju gua sudah tutup, jasa guide dan peminjaman senter juga sudah bubar. Enak sih ga usah bayar, tapi ya lumayan horor, mana sebelum gua ada makam pula.

Masuk gua, saya sisir aja tuh sampe dalem-dalem, awalnya sempet ragu karena ada suara berdecit, haha, tapi palingan tikus. Ternyata gua yang ini tidak terlalu dalam, belum riset juga di internet apa isinya, jadi sekedar sightseeing aja. Konon di sini ada tempat bertapa dan makam, tapi saya ga tau itu di bagian mana.

Keluar gua, dan balik ke air terjun di mana konon si Tarsius keluar, langit sudah benar-benar gelap. Tadi di luar pintu gerbang masih ada pedagang-pedagang yang membereskan dagangannya, sekarang sepi sama sekali. Menunggu sekitar 5-10 menit, hanya suara yang terdengar, kiiik kiiik kiiik, memang katanya begitu suara Tarsius. Tapi saya ga liat-liat. Ah, mungkin saya aja yang ga tau sarangnya.

Antara sangsi menunggu terus, atau pulang, saya pilih pulang aja. Alih-alih ngeliat Tarsius, ntar malah ngeliat genderuwo, haha. Khawatir juga karena daerah Bantimurung ini cukup jauh dari Makassar. Liat Tarsius-nya dari internet aja nih:

Dari tn-babul.org: Tarsius (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: jantan anak di kawasan hutan Mallenreng (Kiri, foto:Iqbal Abadi Rasjid), jantan remaja di kawasan hutan Pattunuang (Tengah, foto:Iqbal Abadi Rasjid), dan jantan dewasa di kawasan hutan Pattunuang (Kanan, foto: Kamajaya Shagir) (Shagir KJ, et al. (2011)).

Dari tn-babul.org:
Tarsius (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: jantan anak di kawasan hutan Mallenreng (Kiri, foto:Iqbal Abadi Rasjid), jantan remaja di kawasan hutan Pattunuang (Tengah, foto:Iqbal Abadi Rasjid), dan jantan dewasa di kawasan hutan Pattunuang (Kanan, foto: Kamajaya Shagir) (Shagir KJ, et al. (2011)).

Dan, pas keluar gerbang, jalanan sudah sepi dari angkot pulang. Saya sampai berniat ngompreng mobil bak terbuka aja. Untungnya, ada angkot lewat dan bersedia ditumpangi walau awalnya dia bilang, “Ini jam segini sebenarnya sudah selesai angkot sini.”

Saya ucapkan terima kasih kepada abang yang setia mengantar saya sendiri ini sampai Maros. Saya selipkan ke tangannya uang tiga kali lipat dari yang seharusnya. Dari Maros ke Makassar alhamdulillah bisa sampai dengan selamat walau sempat dioper juga oleh salah satu angkot.

Coto Nusantara

Hari terakhir saya bermalas-malasan di wisma karena merasa capek, akumulasi jalan-jalan sebelumnya. Baru tengah hari saya keluar demi mengejar Coto Nusantara yang kata seorang teman di jam makan siang tempatnya akan sangat ramai dan bisa jadi kehabisan.

Seperti biasa, salah arah jalan jadi permulaan menuju tempat ini walaupun akhirnya tiba dengan selamat dan masih ada cotonya, yeaaay. Saya pesan coto campur (daging ayam dan sapi), dengan ketupat kecil dua potong. Harganya lebih dari 20.000. Nilainya: layak.

Coto Nusantara

Coto Nusantara

Setelah dari Coto Nusantara, saya menuju tempat favorit: masjid (subhaanallah😀), padahal dengan niat istirahat lagi, hehehe. Kali ini Masjid RRI. Dan hujan pun turun saat itu.

Agak sore saya berjalan menyusur Jalan Somba Opu untuk survei toko suvenir, dan mampir ke tempat Jagonya Ayam tapi belinya kopi, untuk sekedar dapat wi-fi gratis, update-update status gitu lah, sambil nunggu gerobak yang jualan Sarabba buka.

Sarabba

Dari Jalan Somba Opu, melipir ke Pantai Losari lagi untuk membeli Sarabba. Minuman ini rasa dan warnanya mirip bajigur, dengan tambahan susu. Lumayan buat menghangatkan badan. Harganya 6.000. Banyak gerobak yang menjual pisang epe, tapi kayaknya yang menjual sarabba tidak sebanyak itu.

Ikan Bakar RM Lae-Lae

Ke Makassar tidak makan hasil laut juga kayaknya kurang afghan, eh afdhal.. Jadi sebagai penganan penutup perjalanan ke Makassar ini, saya santap tuh seekor ikan baronang dengan nasi dan tumis kangkung seharga 50ribuan di RM Lae-Lae, di Jalan Dato Museng. Selepas itu, saya juga sempat membeli sedikit oleh-oleh untuk orang tua di Toko Unggul, letaknya agak keluar sedikit ke utara dari Jalan Somba Opu yang terkenal sebagai pusat kerajinan itu.

Ikan Baronang Bakar

Ikan Baronang Bakar

Ketinggalan Pesawat

Setelah gagal melihat Tarsius, ini juga menjadi kesedihan di akhir perjalanan. Ketinggalan pesawatnya sih ga masalah, bisa ganti yang lain. Nah, bayar pesawat yang lainnya itu yang susah.

Kesalahan ini terjadi karena saya ceroboh melihat jadwal penerbangan. Jadwal asli berangkat dari Makassar jam 18.45 dan tiba di Jakarta pukul 21.45. Eh, saya liatnya malah jam 21.45 itu yang jadwal berangkat dari Makassar. Telat deh sampai bandara dan hanya bisa pasrah menyerahkan uang 3 kali lipat lebih dikit dari harga promo ke maskapai lain untuk mendapat penerbangan paling murah selanjutnya. Saya pulang ke Jakarta setelah menunggu sambil tidur di musholla bandara untuk jadwal penerbangan dini hari itu.

Huhuhu. Ga apa-apa deh, jadi nambah koleksi maskapai yang sudah pernah saya tumpangi. Memang katanya kalau jadi traveler itu, mengutip dengan tambahan dari Gilbert Chesterton,  sees and feels what he sees and feels, beda dengan turis yang sees and feels what he has come to see and feels. Jalani aja deh kenyataannya..😀

Tamat