Seru Mendaki Semeru! (1)

by Fadhli

Rabu, 19 Juni 2013. Waktu menunjukkan pukul 13.20 saat saya, Moa, Balad, dan Nanang tiba di Stasiun Pasar Senen. Berangkat dari Depok sejak pukul 11.30 dan lewat jalan tol pun tidak membuat kami punya persediaan waktu banyak untuk mengejar kereta yang akan berangkat pukul 13.40 ke Malang. Kemacetan di Jakarta memang tidak ada matinya.

Kami masih punya waktu sekitar 20 menit sebelum kereta benar-benar berangkat. Tetapi tiket belum ditukar, dan yang ada di tangan kami masih berupa voucher pembelian tiket online. Menuju loket penukaran, dan aaah.. mengular juga seperti jalanan tadi. Belum lagi pihak-pihak yang tidak sabar dan hendak menyalip antrian kami. Beruntung tas ransel besar masih digendong, sehingga bisa menghalangi gerak-gerik mencurigakan untuk mendahului di belakang saya. Tiket didapat, 10 menit sebelum kereta benar-benar berangkat.

Satu lagi, kawan kami Rido yang berangkat dari Pamulang belum tiba. Sebelumnya sudah dihubungi, tetapi tidak tersambung. Setelah tiket didapat barulah saya hubungi kembali. “Di mana lu?” “Gambir,” jawaban dari seberang. “Wadduh, keretanya jam 13.40, bro..“Haah?! Bukannya 14.10 biasanya?.” Konon Rido langsung turun dari Kopaja dan segera membajak tukang ojek.

Kami yang berempat langsung masuk ke gerbong. Rido sudah kami “relakan” untuk tertinggal, mengingat sekitar 5 menit lagi lokomotif akan menarik gerbong. Kami pun mengatur tas walaupun tempat tas sudah penuh oleh barang orang-orang yang naik duluan. Sebagian tas kami susun di dekat pintu sambungan gerbong. Sebagian tetap saya naikkan ke tempat tas di atas tempat duduk, sambil nyeker.

Di saat nyeker itulah (penting!), Rido menelepon saya lagi, “Woii di mana?? gw udah di pintu masuk, diminta tiket!” Tanpa pikir panjang (kayak mau sekolah aja mikiiir terus) langsung lah saya lari dengan nyeker keluar gerbong (mungkin keren kalo diiringi lagu You Raise Me Up..), menjemput Rido dengan tiket untuk diizinkan masuk peron. Akhirnya Rido berhasil naik ke gerbong, dan pas menjatuhkan tas di gerbong, kereta bergerak. Cukup dramatis, walaupun beda beberapa detik lebih dulu dibanding si Igor di film 5 cm.

Setelah membahas kenapa jadwal keretanya tidak seperti biasanya yang menyebabkan Rido hampir tertinggal, yang jawabannya juga saya ga tahu, hari-hari di kereta kami isi dengan tidur, main kartu uno yang seru karena pada baru belajar hingga dibego-begoin, mengundang mata-mata di sekeliling kursi kami melirik, mungkin sebagian jengkel karena kami lumayan ribut (maafkan kami ya, udah mau puasa nih).

Hingga perut pun lapar.. tapi ga ada yang mau dimakan, kecuali setelah membeli sukro, oreo dan beberapa minuman ringan. Itupun setelah terpaksa patungan. Kondisi kekurangan pangan ini membuat si Balad menggerutu, “Ceweknya cuma satu sih, si Moa pulak. Coba kalo si *tiiit* *tuuuut* *teeeeet* yang ikut, pasti melimpah, merknya yang mahal-mahal lagi..” Hahaha, kita sih ketawa-tawa aja, dasar gemblung, membanding-bandingkan orang di depan orangnya, untung si Moa kebal jiwa dan raga.

20 Juni 2013. Kami tiba di Stasiun Malang sekitar pukul 8 pagi, telat satu jam dari jadwal ketibaan seharusnya. Di sana sudah menunggu Iril, yang berangkat dari Bandung ditemani orang-orang yang tidak dia kenal di kereta.

Keluar dari Stasiun Malang, kami langsung mendapat angkot yang menawarkan ke tujuan kami berikutnya: Pasar Tumpang. Ternyata itu angkot yang pernah membawa komunitas kami juga ke perbatasan Pulau Sempu saat kami gagal ke Semeru yang pertama kali. Kami juga mendapat dua teman baru yang lumayan bisa membantu share ongkos angkutan. Sebelum berangkat ke Tumpang, kami sarapan, dan buang-buang kotoran dulu dari dalam tubuh.

Di Tumpang, kami ditempatkan di rumah pemilik jeep yang biasa mengantar pendaki ke Pos Pendakian Ranupani. Sebagian dari kami ke Puskesmas untuk membuat surat keterangan sehat, dan belanja logistik. Setelah packing dan sharing bawaan, akhirnya jeep berangkat ke Pos Ranupani. Sebelum mencapai Ranupani, kami juga mendarat dulu sebentar di pertigaan arah yang bisa tembus ke Probolinggo untuk foto-foto dengan latar bukit teletubbies.

Di Pos Ranupani, kami melakukan registrasi untuk pendakian, dan makan siang. Di sini juga kami membeli logistik terakhir: air yang lumayan banyak mengingat cerita dari teman-teman yang katanya butuh air banyak.

Sekitar pukul 2 siang, barulah kami benar-benar melangkahkan kaki memasuki trek pendakian. Ada 4 pos yang kami lewati sebelum mencapai Ranukumbolo dalam waktu 5 jam, melalui area yang dinamai Watu Rejeng dan Landengan Dowo. Dalam perjalanan ini, hujan dengan curah ringan-sedang mengiringi kami.

Di Ranukumbolo gerimis masih menyiram. Kami berbagi tugas, ada yang mendirikan tenda (1 tenda untuk laki-laki, 1 lagi khusus untuk ratu), ada yang memasak di salah satu halaman pos pendaki. Kami belum memasuki tenda sampai selesai makan dan sholat. Menu kami, ayam goreng, tempe orek, kentang, juga ada minuman seperti kopi dan jahe yang rasanya harrrrghhhh..

Di dalam tenda, sambil menunggu kantuk datang, kami kembali berolahraga kartu uno, masih dengan keseruan yang membuat orang-orang di tenda sebelah berkomentar pagi harinya, “Kayaknya seru banget tuh tadi malem unonya.” Saat tidur, hujan agak deras kembali mengguyur, beruntung tendanya bagus-bagus sehingga anti-bocyoor.. kecuali sedikit tetesan saja😀

21 Juni 2013. Walaupun semalam hujan, matahari terbit bisa dilihat dengan jelas shubuh ini. Cahayanya membuat siluet dua punggungan bukit seakan simetris di hadapan kami. Pantulan cahayanya ke air Ranukumbolo juga menambah keindahan pemandangan.

Siluet alam itu yang menemani kami memasak, menyeduh air, dan berolahraga uno lagi. Sampai tiba waktunya menjelang siang, kami merapikan tenda dan membereskan barang-barang untuk melanjutkan perjalanan dengan target Arcopodo.

Mentari terik pukul 11 menemani kami melalui tanjakan cinta dengan terengah-engah. Tidak seperti mitos yang mengatakan jangan berbalik badan di tanjakan ini supaya perasaan cinta kepada seseorang bisa terkabul, saya sengaja membalikkan badan. Bukan apa-apa, takutnya banyak pendaki lain yang melewati tanjakan ini tanpa balik badan sambil mengingat nama saya, jadi mending saya aja yang balikin badan. Repot ladenin kalo kebanyakan, mending ga usah semua

Dari tanjakan cinta, jalanan turun menuju Sabana Oro-Oro Ombo yang dipenuhi tumbuhan ungu membuat orang terkecoh dikira Lavender, padahal bukan, namanya Verbena Brasiliensis Vel, sebuah spesies yang tumbuh invasif dan dikhawatirkan bisa mengganggu habitat asli kawasan Semeru.

Selepas dari Sabana Oro-Oro Ombo kami melalui Cemoro Kandang, yang merupakan kandangnya pohon cemara dengan jalur yang nanjak secara bertahap, tetapi terasa panjang. Di Cemoro Kandang ini, pasukan mulai terpisah. Yang terdepan adalah Moa dan Balad. Dilanjutkan saya. Berikutnya Rido. Sehabis itu Iril, dan terakhir adalah Nanang.

Di Cemoro Kandang ini, Nanang mungkin kehilangan banyak oksigen dari otaknya yang membuat mengantuk dan sempat tertidur di jalur Cemoro Kandang. Rido yang berada di depannya tidak sempat menunggu karena khawatir dirinya sendiri drop kalo terlalu lama berhenti. Di jalur ini kami sempat berpapasan dengan anjing-anjing pemburu yang hendak turun. Kisah ini akan membawa cerita lucu yang akan saya ceritakan nanti.

Setelah Cemoro Kandang kami tiba di Jambangan, di situlah saya kembali bertemu dengan Moa dan Balad. Dari Jambangan, Kalimati dicapai dengan jarak yang lumayan dekat dibanding sebelumnya. Kami yang tiba duluan sekitar pukul 2 siang mencari spot untuk beristirahat. Selang beberapa lama, Rido tiba. Disusul Iril. Dan setelah agak lama baru Nanang.

Saat Nanang tiba itulah kami cukup sedih, seperti Kalimati yang dulunya sungai namun sudah berhenti mengalir, Nanang menyatakan berhenti saja menanjak di situ. Kami dengan agak memaksa memberikan tawaran agar dia ikut rombongan lain dari Kalimati esok dini hari, sementara kami mendirikan tenda di Arcopodo.

Namun keputusan Nanang sudah tidak bisa diganggu-gugat, kami pun tidak bisa memaksa karena tiada paksaan dalam mendaki. Dan di sinilah cerita yang menyangkut anjing terangkat. Balad, yang beda tipis antara jujur sama ceplas-ceplos ga disaring bilang begini, “Masa lu kalah sama anjing yang tadi Nang, dia aja naek terus..” Tentu saja yang lain membela.. Tapi membela Balad.. “Ia Nang, malah tadi ada yang pincang..” “Kaiiing, kaiiing, kaiiing..” yang laen menyambung. Ahahaha, dasar wong gemblung kabeh. Untung Nanang sudah teruji mentalnya.

Di Kalimati kami beristirahat makan siang, dan sholat. Saya dan Balad sempat mengisi ulang air ke sumber mani. Dengan bersemangat, kami sedikit berlari dan sampai dalam waktu kurang dari 15 menit ke Sumber Mani karena jalurnya turun. Namun saat kembali naik, Balad seperti biasa ngebudah, “Ini turunnya sih enak, naeknya bikin moddddaarrr!” Hahaha, waktu itu kata-kata ini juga dirasa lucu lho.

Sekitar pukul 4 sore kami berangkat menuju kamp terakhir di Arcopodo setelah meninggalkan 1 tenda untuk Nanang dan beberapa logistik untuk kehidupannya. Awan sudah mulai mendung. Jalur menuju Arcopodo juga terasa bikin moddddaaarrr, apalagi kami masih membawa carrier dengan air berliter-liter.

Setelah menanjak sekitar 1,5 jam, hujan agak lebat kembali mengguyur. Beruntung setengah jam setelah itu kami tiba di area Arcopodo. Hujan-hujan tenda kami dirikan. Fly sheet dipasang untuk double protection tenda, dan jalur air direkayasa.

Kali ini kami berhemat energi, pukul 9 sudah beristirahat. Baru lima menit sudah terdengar suara baling-baling helikopter “ngrrrrooook.. ngrrrrooook..Heeeeummmfh, ga usah disebutlah pelakunya siapa.

Jam 11 alarm berbunyian, membangunkan kami untuk memasak air hangat sebelum summit attack. Mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa, seperti popmie, kompor, dan air untuk merayakan muncak, termasuk saya melakukan ritual buang “sajen” dulu di semak belukar bawah pohon besar di Arcopodo tengah malam.😀

22 Juni 2013. Tepat jam 00.00 kami berdoa untuk muncak. Walaupun jalurnya curam terus, dunia terasa lebih indah dengan ketiadaan carrier di pundak. Dan itu membuat kami pede untuk bisa sampai dengan cepat di puncak sehingga membuat ketinggian hati, “Udahlah, santai aja jalannya nih, ngapain cepet-cepet sampe puncak kalo belom sunrise, bengong lho di sono…”

Melewati Kelik yang merupakan batas vegetasi terakhir sebelum puncak, kami bersentuhan dengan pasir dan bebatuan. Pasirnya terasa meledek, abis melangkah, merosot, melangkah, melangkah, merosot. Beruntung merosotnya ga terlalu jauh karena pasir agak padat habis diguyur hujan.

Satu jam berjalan, baru mulai ada gangguan-gangguan bisikan, “Bussseeet, ga abis-abis nih pasir..” Sebagai hiburan hati, saat istirahat saya sempet ngobrol sama Moa, “Itu kayaknya udah ujung ya, deket lah, santai dulu lah agak lama.” Sehabis ngomong gitu tiba-tiba dari bawah ada Mas-mas yang terus merangkak dan ikut berhenti dekat kami, terus kasih info, “Masih jauh itu Mbak, belom ada kali setengahnya tuh..” Moa shocked ringan, “Yang bener Mas? Mas emang udah pernah ya?” Si Masnya jawab dengan menaikkan nada karena mungkin dianggap ga dipercaya sama si Moa, “Saya sih sebenarnya males nih muncak lagi..

Benar si Mas ternyata, ujung itu ternyata jalur yang tertutup pasir atau tebing batuan yang lebih tinggi atau berbelok-belok. Sehabis itu perjalanan seakan masih tidak berujung. Pasukan juga mulai terpisah. Balad paling depan. Iril di belakangnya. Di belakangnya saya sambil bantuin Moa, khawatir kayak Nanang. Dia udah tidur-tiduran di pasir dan hampir melambaikan tangan ke kamera. Webbing pun diluncurkan untuk membantu menarik Moa. Saya juga sempat membantu menarik Rido, heeeeummmmfh tapi beratnya minta ampun, pijakan saya yang jadi goyang. “Cukup sekali Do,” kata saya dalam hati, ahahaha, dan langsung mengajak Moa biar lebih cepat supaya ga deket-deket Rido. Berabe kalo narik Rido terus. Di sini pun beberapa kali diperingatkan dari atas, “Awaas batu.. batu..” mengingatkan agar tidak terkena batu yang meluncur dari atas.

Matahari sudah malu-malu muncul saat kami masih di tebing pasir, saya yang ga mau kehilangan momen matahari terbit mumpung langit jernih, terus bergerak walaupun payah. Sekitar pukul 5, saya sudah mendengar teriakan-teriakan gembira dari atas. Dan sesaat kemudian, alhamdulillah puncak kami jejak. Semua lelah hari-hari kemarin terbayar sudah!

Di Puncak Mahameru kami bersujud menunaikan sholat, langit terasa dekat bahkan kami serasa melampaui awan. Di Puncak Mahameru langit bersahabat dengan matahari, gulungan awan tampak seperti ombak-ombak di samudera, gradasi warna dari jingga kegelapan, sampai biru putih langit dan awan kami lihat dengan sempurna, ditambah merasakan 3 kali letupan gas dari kawah yang mengangkasa. Rasanya ini sempurna, mengingat kami juga bertemu dengan satu rombongan yang seharusnya muncak hari sebelumnya, tetapi terhalang oleh hujan deras dan tidak sampai.

Di dinginnya hembusan angin Puncak Mahameru, kami menyeduh popmie, berfoto, dan menuliskan pesan-pesan di atas kertas untuk diabadikan. Alhamdulillah sebanyak-banyaknya…

(bersambung cerita turun..)