Seru Mendaki Semeru! (tamat)

by Fadhli

Setelah sekitar dua jam berada di puncak, pasukan kembali turun. Si Iril hampir saja salah arah pulang. Dia melipir ke kanan dari jalur seharusnya tanpa sadar. Nah, kalau diteruskan, seperti itulah konon biasanya orang yang suka tersesat dan jatuh ke Blank 75, yang dirasa sama seperti jalur turun karena sama-sama pasir tapi tiba-tiba nanti ada patahan jurang vertikal sekitar 75 meter. Patokan jalan turun yang benar adalah bendera merah putih yang ditemui saat naik, atau arah utara dari puncak.

Pasir yang kami naiki lebih dari 4 jam itu jika ternyata jika dituruni hanya memakan waktu sekitar 15 sampai 30 menit. Oooh, teganya, teganya, teganya pasir ini. Di ujung pasir saya sempatkan tidur-tiduran dulu di tepi tebing sambil menunggu yang lain dan merekam gambar. Menyaksikan orang-orang turun, terlihat wajahnya pada bahagia.

Tambah sekitar 15 menit lagi dari situ kami sampai di kamp Arcopodo. Rido yang sudah sampai duluan, sudah mengambil lapak duluan di tenda untuk tidur kembali. Kami sepakat untuk tidur dulu selama satu jam sebelum turun.

Jam 10 kami bongkar tenda, packing ulang, dan bersiap turun, termasuk saya bongkar isi perut lagi. Maaf, mengotori Arcopodo 2 kali dengan sampah sangat organik😀 Sekitar jam 11 kami mulai perjalanan pulang.

Perjalanan ini kami rasakan jauh lebih cepat daripada naik. Ke Kalimati bisa sekitar setengah jam saja. Dari Kalimati ke Jambangan sampai Cemoro Kandang kami hanya berhenti sebentar-sebentar saja. Sekitar jam 2 kami sampai di Ranukumbolo. Saat pulang ini kami lalui punggung Oro-Oro Ombo, bukan Sabana seperti saat pergi supaya variasi. Saat itu juga hujan dengan curah ringan – sedang mengiringi.

Di Ranukumbolo kami mengambil satu lapak di dalam pos yang sedang kosong. Di situ kami kembali memasak untuk makan siang menjelang sore sambil meluruskan punggung dan kaki.

Tidak berapa lama datang seorang Bapak berusia sekitar 60an menanyakan apakah kami akan menginap di dalam pos atau tidak. Setelah kami jawab tidak, dia nge-take pos itu untuk timnya. Setelah berkenalan, kami ketahui namanya adalah Kiki Mahameru yang mengaku sudah puluhan kali ke Rinjani, sudah pernah pula ke Kinabalu, Kilimanjaro, apalagi yang lokal macam Merapi, Argopuro, Kerinci. Malu nih kami yang muda-muda, walaupun di usianya yang sudah tua dia pasti bawa porter.

Dua jam beristirahat, kami melanjutkan pulang ke Ranupani. Pulang ke Ranupani ini kami beriringan terus. Perjalanan yang relatif landai harus dilalui dengan hati-hati karena becek, ditambah sering berpapasan dengan pendaki lain dan harus berhenti karena jalur tidak cukup.

Perjalanan ini terasa seakan lebih lama dari jalur-jalur sebelumnya, dan serasa php-in. Dikira sudah mau sampai, ternyata 5 km lagi. Nemu plang dikira plang sudah mau sampai, ternyata 3 km lagi. Ditambah si Balad yang lagi naek darah, menggerutu marah-marah ke sepatunya sendiri gara sering lepas, atau nepok-nepok tanah gara-gara keseleo. Yang saya ketahui selanjutnya Rido mengangkut tasnya Balad untuk membantu mengurangi beban dosanya. Hahaha

Di perjalanan ini juga tragedi hilangnya jaket sekaligus jas hujan saya, yang merupakan hadiah pemberian dari Nepal. Waah, setelah tahu saya agak sedih. Sebenarnya Rido merasa menemukannya tersangkut di pohon. Namun karena tidak ada yang menanggapi saat dia memanggil-mangggil, dia rasa itu bukan punya salah satu di antara kami.

Akhirnya kami tiba di tepi perkebunan warga sekitar pukul 8, tanda jalur pendakian akan berakhir
. Di Pos Ranupani kami kembali bersatu semuanya, termasuk dengan Nanang yang sudah turun duluan sejak jam 3 sore dan tidur di musholla.

Beristirahat sekitar 1 jam, kami lanjutkan perjalanan ke penginapan di daerah Malang dengan jeep dan sambung angkot. Penginapan yang sedang pada penuh karena malam minggu membuat kami baru mendapatkannya jam 1 dini hari.

Jam 5.30 kami sudah check-out untuk pergi ke Stasiun Malang. Kami kehabisan tiket kereta dari Malang, dan mendapatkannya dari Gubeng-Surabaya. Untuk menuju ke Gubeng, kami tadinya akan naik kereta Penataran dari Malang, tetapi pagi itu tiket itu sudah habis. Akhirnya kami memutuskan naek bis ke Terminal Bungur Asih Surabaya.

Di Bungur Asih kami ngidam makan nasi padang dan mampir makan dulu. Tidak lama kami menyewa angkot untuk sampai ke Gubeng. Jauh dari pemberitaan nasional, ternyata kami baru tahu saat kami memulai summit attack kemarin, pas pemerintah menaikkan harga BBM. Angkot-angkot yang kami sewa sudah mulai menggunakan alasan kenaikan BBM untuk menaikkan harga.

Dari Gubeng, kereta membawa kami kembali ke Jakarta. Tidak banyak yang kami lakukan selain istirahat. Kami mendarat dengan selamat di Jakarta sekitar pukul 1 dini hari. Alhamdulillah, perjalanan yang seru dan memuaskan, entah kalo mungkin ada yang kapok.. Hehehe..