Menggapai Puncak Cikuray

by Fadhli

Di Puncak Cikuray (2821 mdpl), Kab. Garut. 12 Okt 2013

Di Puncak Cikuray (2821 mdpl), Kab. Garut. 12 Agustus 2013

Minggu 12 Agustus 2013, hari keempat lebaran, di tengah terpaan angin yang menembus kulit, kami keluar tenda. Berjalan sekitar 100 meter lagi dari kamp untuk menyaksikan fajar yang akan menyingsing dari Puncak Gunung Cikuray. Dengan ketinggian 2821 mdpl, ini adalah titik tertinggi di Kabupaten Garut dan tertinggi ketiga di Jawa Barat setelah Ciremai dan Gede.

Perjalanan sekitar delapan jam sehari sebelumnya melalui tujuh pos terbayar sudah. Walaupun mentari akan selalu ada setiap harinya, tapi kali ini ia tidak terhalang di balik mendung. Ia keluar beranjak dari peraduannya tanpa malu, ditemani samudera awan yang menggulung, dan kehangatannya mulai menyisir kulit wajah ratusan pendaki yang sebelumnya kuat-kuat menempelkan geraham atas dan bawah agar tak bergemertak menahan dingin.

Dari puncak itu kami juga bisa melihat pegunungan lain di sekeliling Priangan, terutama yang namanya saya kenal seperti Papandayan dan Ciremai. Di ujung pandangan lain, terlihat bibir pantai selatan dengan buih putih ombaknya walau hanya tampak kecil. Walaupun tidak ada kawah karena gunung ini non-vulkanis, tapi keindahannya tetap luar biasa.

Perjalanan menuju puncak Cikuray ini kami mulai dari Jumat malam, 10 Agustus. Azmi, Moa, Bhe, Nanang, saya berangkat tengah malam dari Pasar Rebo, Jakarta menggunakan bis Diana Prima tujuan Terminal Guntur, Garut dengan tarif lima puluh ribu rupiah, sudah termasuk biaya ruslah lebaran. Sekitar 2 jam perjalanan, bis ini keluar dulu di pintu tol Padalarang, dan di situlah Iril ikut serta. Melanjutkan perjalanan sekitar 1,5 jam lagi dari Padalarang, akhirnya sekitar pukul 3 kami tiba di Terminal Guntur. Menunggu pagi, kami beristirahat di masjid dekat terminal. Udara dingin mulai terasa menusuk.

Saat pagi tiba, kami sarapan dan menyelesaikan “hajat” masing-masing terlebih dahulu sambil menunggu angkot mulai beroperasi. Sekitar pukul 6 lebih, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot 07 berwarna telur asin. Dengan harga 50 ribu untuk 6 orang, kami minta diturunkan di Cilawu, Patrol. Sebenarnya untuk sampai ke sini dari Jakarta bisa menggunakan hanya satu angkutan yaitu bis jurusan Singaparna (biasanya Karunia Bakti).

Turun dari angkot, para tukang ojeg langsung menghampiri menawarkan jasanya. Harga 40ribu yang ditawarkannya mereka bilang adalah harga ojeg yang termurah untuk jalur yang akan kami lalui. Saat kami rasakan sendiri, perjalanan sekitar setengah jam dengan ojeg itu benar-benar mengguncang badan. Jalanan hanya awal-awal saja yang beraspal, selebihnya adalah hamparan batu-batu. Di antara kami bahkan ada yang harus turun dulu dari motor saat melalui jalur menanjak. Walaupun demikian, pemandangan sekeliling kami sangat memanjakan mata, hijau dan segar dengan cuaca yang cerah, mengantarkan kami ke pos pendakian yang sering disebut juga pos pemancar.

Setelah mendaftar di pos pendakian dengan biaya sukarela, kami akhirnya memulai pendakian pukul 08.00. Ada 7 pos sebelum puncak yang kami lalui. Dari pos registrasi ke pos 1 adalah perkebunan teh dan perkebunan warga, kemudian mulai memasuki vegetasi hutan. Jalur langsung menanjak, dengan beberapa “bonus” sedikit. Dari pos 1 ke pos 7, semuanya adalah vegetasi hutan, dengan sumber air terakhir ada di pos 2 di sisi sebelah kanan arah pendakian. Pos terpanjang adalah dari pos 2 ke pos 3. Pos dengan area yang cukup luas untuk beristirahat adalah pos 3 dan pos 6.

Kami berjalan dengan cukup santai. Candaan selalu menghiasi, yang menjadi ikon dalam pendakian ini adalah, “Antat katina, antat katina,” menirukan ucapan anak kecil (ponakan saya) yang maksudnya, “Angkat kakinya, angkat kakinya.” untuk menyemangati terus berjalan. Atau, menirukan adegan Eat Bulaga, “Iya, iya, iya, bisa jadi, bisa jadi, bisa jadi.” Peristirahatan yang cukup lama, bahkan beberapa di antara kami tidur dulu sekitar setengah jam justru dilakukan di areal yang tidak luas di pos 4. Saat kami beristirahat inilah seorang pendaki asal Spanyol sudah turun dari puncak, padahal kami bertemu dia dalam perjalanan menuju pos 2. Hehehe.. Entah kami yang kelamaan atau dia yang terlalu cepeeet..

Hingga akhirnya kami tiba di puncak sekitar pukul 16.00. Aktivitas yang dilakukan setelah mendirikan kamp adalah menikmati menit demi menit matahari terbenam. Sempurna tanpa mendung dan kabut, walaupun angin lumayan kencang berhembus semalam. Langit dipenuhi bintang, menemati bulan yang masih berbentuk sabit. Setelah memasak dan santap malam, akhirnya kami beristirahat.

Pagi harinya, setelah menyaksikan matahari terbit, sarapan dan berbenah, kami turun sekitar pukul 09.30. Dengan kecepatan yang ditambah dibanding saat mendaki, kami berhasil kembali ke pos pemancar dalam waktu tidak lebih dari 4-4,5 jam saja. “Kericuhan” yang kami lakukan bersama saat beristirahat di pos 2 adalah menyapa pendaki yang baru akan naik dengan, “Selamat datang di pos 2, silakan passwordnya apa? passwordnya apa?” Para pendaki itupun tersenyum. Saat tersenyum itu, kami balik mengomentari mereka, “Eh, malah senyum-senyum, passwordnya apa mas? eeeeaaa,” untung sesama pendaki sudah sama paham bahwa itu adalah bagian dari candaan gunung, dengan maksud untuk menyemangati.

Tiba di pos pemancar sekitar pukul 13.00, sudah menunggu para tukang ojeg yang sebelumnya sudah “janjian” untuk menjemput kembali. Bonusnya adalah, kami dipersilakan bersih-bersih di rumah keluarga salah satu tukang ojeg bahkan dengan hidangan kue lebaran dan air minum dengan gratis! Semoga tukang ojeg yang baik hati dan keluarganya diberi kelimpahan rezeki ya, Amiin.

Setelah bersih-bersih itu, kami kembali ke Terminal Guntur Garut untuk melanjutkan perjalanan. Empat di antara kami masih mendapatkan bis ke Jakarta. Sementara saya dan Iril, harus mendapat jackpot menginap semalam lagi di mushola terminal dikarenakan kelangkaan bus ke Bandung. Menurut informasi, arus balik sangat padat dan macet, sehingga bis-bis enggan beroperasi. Sekalinya beroperasi, tarifnya dinaikkan 3 kali lipat dengan jalur memutar yang belum tentu juga bebas macet. Akhirnya, keesokan paginya saya dan Iril mendapat bis ke Bandung dengan suasana jalan yang cukup lancar.

Berikut adalah video hasil suntingan amatir saya.