Di Puncak Manglayang

by Fadhli

Nangkring di Pohon, Puncak Bayangan Manglayang

Nangkring di Pohon, Puncak Bayangan Manglayang

24 -25 Agustus 2013

Ini kali ketiga ke Manglayang, tapi kali pertama yang menginap di atas. Dulu, yang kedua kali hanya sekali jalan pergi  pulang. Yang pertama gagal, nyusruk lewat jalur pemburu yang di kiri kanan badan, plus atas bawah dikelilingi tumbuhan berduri.

Di Puncak Manglayang cuaca cerah, tetapi angin kencang mulai tengah malam sampai dini hari. Tenda pun goyang-goyang. Sejawat ada yang sesak napasnya dan mimisan. Sementara dari kaki saya mulai menjalar rasa kedinginan. Salah siapa tidak membawa kantung tidur.

Dulu, perjalanan terasa menantang, dan sekarang masih menantang. Jalurnya ada yang vertikal 90 derajat, plus kepala ditudungi kanopi dari tumbuhan. Untung tidak terasa dengan perbincangan. Hanya sekitar 2 jam sampai di Puncak Bayangan untuk mendirikan tenda. Dari situ kerlap-kerlip lampu Kota Sumedang dan Bandung terlihat bagus.

Esoknya dari Puncak Bayangan ke Puncak Utama dicapai dengan setengah jam. Puncaknya datar, seperti kebun. Penandanya ada ada jajaran batu yang berbentuk seperti makam. Entah makam jenazah asli atau bukan, saya tidak tahu. Di dekatnya ada batok kelapa berisi uang logam, permen, puntung-puntung rokok, barang-barang khas sesajian.

Konon di Manglayang dulu ada beberapa kali penampakan tertangkap kamera. Ah, tertangkap ataupun tidak, kan emang yang seperti itu ada saja di mana-mana. Cuma berbeda alam, silakan masing-masing aja.

Manglayang dari ketinggian mungkin receh, tapi lumayan lah buat latihan penguatan otot paha, lutut, dan keseimbangan badan. Berikut videonya.