Sendiri Mendaki Puncak Gunung Api Tertinggi

by Fadhli

*Inginnya, tulisan ini menjadi bagian dari blog Petualang Amatir saja, tetapi karena masih belum terlalu diurus, sementara kita pajang dulu di sini saja ya🙂

***

Bandara Minangkabau di Padang, 25 Oktober 2013. Sama seperti di banyak bagian Indonesia lain, walaupun berstatus sebagai bandara internasional, namun kamar kecil yang ditemui masih becek, bahkan susah menemukan sehelai tissue saja kala itu. Saya meninggalkan bandar udara ini dengan mobil “travel” semacam Innova jurusan Sungai Penuh, Jambi yang sudah saya kontak sedari Jakarta untuk menuju Desa Kresik Tuo, Kabupaten Kerinci.

Jalan yang ditempuh dalam perjalanan darat ini cukup sempit dan berkelok-kelok, dengan sisi tebing yang sering dijadikan tempat penambangan pasir dan batu. Aktivitas itu cukup berbahaya sebenarnya, dan benar longsor terjadi saat saya hendak pulang kembali, walaupun tidak menutupi jalan sepenuhnya. Dalam perjalanan itu saya juga melalui Danau Kembar yang luas dikelilingi pemandangan hijau di sekitarnya.

Dua tempat istirahat dimanfaatkan untuk meluruskan badan dan mengisi energi sebelum akhirnya sekitar tujuh jam sampai di tempat tujuan. Turun dari mobil di sore hari diiringi gerimis, saya langsung melihat Tugu Macan yang menjadi ikon jalur pendakian, sementara tubuh Gunung Kerinci, hanya terlihat setengah karena kabut menutup bagian puncaknya. “Mudah-mudahan esok di puncak cerah! Saya akan sampai ke sana!” batin saya dalam hati.

Tugu Macan, Jalur untuk Pendakian Gunung Kerinci dari Desa Kresik Tuo

Tugu Macan, Jalur untuk Pendakian Gunung Kerinci dari Desa Kresik Tuo

Saya pun berjalan sebentar menuju penginapan. Ramai ibu-ibu masih menghadiri pengajian yang diadakan di penginapan itu, namun salam saya melalui pintu belakang tetap mendapat jawaban, langsung dari empunya: Pak Subandi. Nama beliau sudah cukup terkenal di kalangan pendaki dan peneliti, direkomendasikan di Lonely Planet, dan pernah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pariwisata sebagai pendorong aktivitas wisata di Taman Nasional Kerinci Seblat, tempat Gunung Kerinci berada. Di dalam rumahnya terdapat rak yang berisi buku-buku mengenai penelitian burung dan yang semacamnya, juga dipenuhi dengan foto-foto aktivitasnya menemani wisatawan, peneliti, baik dari dalam dan tak kalah banyaknya dari luar negeri.

Dengan beliau saya seperti mendapat “les privat” singkat mengenai Gunung Kerinci, bukan hanya tentang pendakiannya, tetapi juga kondisi sosial-ekonomi orang-orang kaki gunung, dari perkebunan teh, kopi, sampai binatang dan tumbuhan, bahkan sedikit latar belakang keluarganya. Sebuah obrolan sore, sekaligus aklimatisasi yang cukup hangat ditemani teh hijau, hingga makan malam tiba. Saya pun pamit istirahat di salah satu kamarnya dengan kasur busa dan kamar mandi dalam.

Pagi hari, 26 Oktober 2013. sebelum berangkat mendaki saya masih disuguhi kopi hitam dan makan pagi. Atas saran Pak Subandi pulalah saya tetap mendaki walaupun sudah dari tiga bulan sebelumnya saya mencari, namun tidak mendapat kawan pendakian. “Di sana jalurnya jelas koq, nanti juga mungkin akan bertemu dengan pendaki lain. Kalau cuaca, ya hujan-hujan (ringan) seperti ini hanya sore saja.”

Akhirnya saya memulai pendakian dengan dibekali juga masakan buatan Ibu Subandi untuk makan siang dan malam di gunung. Hal ini sangat membantu sehingga saya tidak perlu capek-capek memasak dan membawa bahan masakan banyak-banyak, selain memang tidak bisa memasak selain mie dan air🙂

Di Tugu Macan, sebetulnya saya bertemu rombongan, baik yang akan pulang maupun baru akan naik. Tetapi yang akan naik katanya masih menunggu rombongan lain. Saya tak mau ambil risiko kesorean, hingga memutuskan tetap berjalan sendiri. Dari Tugu Macan ke Pintu Rimba tempat jalur hutan dimulai saya diantar oleh salah seorang anggota komunitas Jejak Kerinci.

Pendakian dimulai, di awal-awal jalur relatif landai, walaupun sesekali terhambat oleh becek karena hujan hari-hari sebelumnya. Pos 1, 2, 3 saya lewati dengan lancar, sambil sebenarnya sesekali melihat adakah jejak harimau yang konon masih ada di gunung ini. Kekhawatiran berjalan sendiri di tengah hutan tentu tetap ada. Alhamdulillah tidak ada hambatan apapun sampai saya tiba di shelter 2 setelah berjalan sekitar 7 jam, selain hujan ringan, dan sedikit kaget saat melihat binatang liar seperti burung, tupai, atau siamang.

Sebelum sampai di shelter 2 tempat saya hendak mendirikan tenda, saya sempat berpapasan dengan 2 grup yang hendak turun. Dan pertanyaan yang selalu saya terima, “Sendirian?” Dan pertanyaan balasan saya, “IyaMasih ada orang di atas?” Dan jawaban mereka pun selalu, “Ada.”

Benar, di shelter 2 ada tiga tenda yang masih berdiri. Saya langsung dekati. “Boleh ikut bareng di sini?” Mereka jawab, “Boleh, boleh. Di atas (shelter 3) udah ga ada orang.” “Alhamdulillah… ada temen,” batin saya dalam hati. Tapi pertanyaan dari mereka belum selesai. “Emang ada berapa orang Mas?” “Sendiri aja,” jawab saya. “Sendiri??” “Iya, Bang,” jawab saya meyakinkan. “Sudah pernah ke sini sebelumnya?” tanya mereka lagi. “Belum.” “Kita sebentar lagi mau turun nih, Mas.” Deg… harapan ada teman kandas. Tapi apa boleh buat, layar sudah terkembang, pantang mundur ke belakang tanpa alasan yang jelas. Saya tetapkan untuk lanjut, hingga mereka turun dan malam mulai menyelimuti saya.

Sekarang hanya ada Tuhan, hutan gunung, dan saya. Lantunan doa saya ucapkan untuk keselamatan dan keyakinan tidak akan terjadi apa-apa. Harapan rombongan bawah akan menyusul juga sudah tidak saya harapkan mengingat kondisi tadi sore hujan, dan saat saya bangun sekejap di tengah malam suara hujan juga kembali menderu. Ada yang bilang ini nekat. Memang, ini nekat, tapi tentu sebagian besarnya adalah persiapan, tentang informasi pendakian, cuaca, dan perlengkapan. Saya membawa pisau rambo berukuran sedang, gas air mata, dan bahan api (parafin) untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pukul setengah tiga dini hari, 27 Oktober 2013 saya kembali memberanikan diri memulai perjalanan. Gelap, dan sunyi dengan jalur yang semakin mendaki dan licin. Beruntung kerlap-kerlip kota sudah mulai bisa terlihat dari bawah, karena vegetasi mulai berkurang dan jalur mulai menjadi padang terbuka, terutama setelah shelter 3. Bulan sabit juga mulai terbuka dari tutupan awan. Dalam samar gas yang dikeluarkan dari puncak juga terlihat. Mendekati waktu shubuh, sayup-sayup suara orang mulai terdengar, saya duga dengan kuat itu adalah suara pengajian surau-surau menyambut shubuh.

Memasuki jalur pasir, saya melihat dulu kompas untuk melihat derajat arah shelter 3, sebuah tindakan yang sangat membantu saya menghindari tersesat saat pulang karena sempat berbelok sekitar 30 derajat dari jalur asli di jalur pasir terbuka. Sinar fajar sudah mulai merekah di sisi kanan jalur pendakian, siluet Gunung Tujuh yang mengelilingi danaunya juga mulai terlihat. Tugu-tugu memorial pendaki yang diasumsikan wafat di Kerinci ini semakin ramai mendekati puncak.

Pukul 5 lebih, sehari sebelum Peringatan Sumpah Pemuda akhirnya saya tiba di Puncak Kerinci, Gunung Api Tertinggi di Indonesia, dan Gunung Tertinggi setelah Jayawijaya di Papua dengan ketinggian 3805 meter di atas permukaan laut. Sungguh, ini bukan karena kemampuan saya, tapi karena kuasa Tuhan. Ini juga bukan menaklukkan alam, karena sebenarnya kekhawatiran dan ketakutan berada sendiri di alam juga tetap ada. Dan saat-saat begitulah, saya memohon pertolongan-Nya.

Di puncak gunung api tertinggi di Indonesia (3805 mdpl), dengan latar Gunung Tujuh dan danau fi tengahnya yang diselimuti awan

Di puncak gunung api tertinggi di Indonesia (3805 mdpl), dengan latar Gunung Tujuh dan danau fi tengahnya yang diselimuti awan

Saya menikmati berada di Puncak Kerinci dan kawasannya selama 2 jam, sebelum kembali turun. Selama kembali turun yang juga sendirian selama 5 jam, hujan masih kembali mengguyur. Hujan dan becek saat mendaki, dan lebih parah lagi saat turun, terbayar sudah dengan puncak yang cerah, karena beberapa pendaki yang bertemu saya sebelumnya juga mengaku sampai puncak saat sudah berkabut.

Sebuah kenangan yang tidak akan saya lupakan. Bekasnya saya ingat dengan membeli teh khas Kerinci: Kayu Aro, dan dodol kentang. Untuk timbal balik, saya pun telah meninggalkan “jejak biologis pemupuk hutan” di sana, antara shelter 1 dan shelter 2 saat turun🙂 Tidak lupa saya berterima kasih kepada seluruh pihak yang membantu saya menyukseskan pendakian ini, Keluarga Pak Subandi, yang meminjamkan peralatan, atau yang sekedar mengirim doa, semoga dibalas dengan yang lebih baik.

Berikut videonya… terima kasih banyak kepada tripod yang menemani🙂