Jadi Jurnalis Warga

by Fadhli

Akhir-akhir ini saya lagi ketagihan jadi jurnalis warga (citizen journalist) yang secara bebas saya artikan sebagai jurnalis yang non-jurnalis, hehe. Maksud kata jurnalis yang pertama adalah sebagai peran dan praktiknya, tetapi kata (non-)jurnalis yang berikutnya sebagai profesi. Jadi saya sok-sok bertindak sebagai wartawan media televisi, yang ngeliput berita-berita, mewawancara orang, bikin narasi, sampai sunting hasil liputannya. Tapi kalau ditanya mana press ID ya saya pasti ga punya.

Lah, bisa ya gitu? Ya bisa ajatoh sudah saya lakukan, dan masih setia kirimnya untuk salah satu stasiun televisi swasta, ya sebut sajalah Net TV, untuk acara Net10 segmen Citizen Journalism :) (sumpeh ini bukan artikel bayaran lho, hihi). Kalau selama ini saya bikin video-video amatir sendiri mengenai perjalanan-perjalanan yang saya dan kawan-kawan lakukan terus dikasih lagu doang, dengan menjadi jurnalis warga jadi bisa belajar juga teknik-teknik jurnalistik, mengantar berita dengan konten dasar 5W+1H-nya, dan sesekali nampang belajar jadi reporter sendiri. Dan sebelum itu juga mesti cari sumber beritanya berupa acara atau peristiwa yang unik dan menarik.

Menjadi jurnalis warga ini menurut saya malah kadang lebih enak dari jurnalis resmi, karena dengan aktivitas utama yang sekarang jadi mahasiswa (lagi), bisa sebagai sumber penghasilan tambahan tapi waktunya bisa menyesuaikan sendiri. Jadi ya, ga ngoyo tapi kalau tayang rasanya seneng dan jadi semacam kecanduan gitu.

Mengenai dukanya jadi jurnalis warga ini sejauh ini sih belum saya temui, walaupun beberapa teman sudah sempat mengalami semacam dimarjinalkan oleh orang lain, termasuk jurnalis resmi. Prinsip saya sih ya kalau sekedar meliput, apalagi di tempat publik sah-sah aja dongslah masyarakat umum aja kan kalau mau foto-foto atau ngambil gambar biasa bebas-bebas aja kan? Cuma ya memang kalau dalam kegiatan yang resmi dan membutuhkan registrasi media ya ngalah-ngalah aja kalau ga diizinin. Kalau mau ya paling taktiknya rekam gambarnya dari spot publik, hanya saja mungkin ga bisa dapet kesempatan wawancara. Makanya lebih banyak soft news yang bisa diliput oleh kalangan jurnalis warga, ga yang berat-berat banget harus nangkring di kantor kementerian, lembaga atau kepresidenan gitu.  Terus kalau ditanya orang-orang di suatu kegiatan atau peristiwa yang diliput, “Dari (media) mana, Mas?” jawabnya ya kalau ga cuma jurnalis independen, freelance, atau citizen journalist yang coba kontribusi ke salah satu televisi. Soalnya memang kita bukan pekerja media resmi kan aslinya.

Berikut adalah sebagian liputan saya yang sudah tampil:

Wisata Perut Bumi (caving di Gua Buni Ayu, Sukabumi):

Wisata Bukit Moko, Bandung:

Olahraga Slackline:

Saung Angklung Udjo, Bandung:

Sensasi Mendaki Gunung Kerinci, Jambi: