Bersenang-Senang di Puntang (1)

by Fadhli

Kamis, 26 Desember 2013 saya baru saja melepaskan jahitan di punggung tangan sebelah kiri. Sepuluh hari sebelumnya diperban dan tidak boleh kena basah. Risiko perjuangan #1 #halah!, ada kista ganglion yang hendak tumbuh dan saya minta dokter untuk memberantasnya. Alhamdulillah hanya tiga jahitan, dan juga biayanya kurang dari sepertiga dari total biaya yang saya keluarkan untuk biaya pengobatan tahun lalu untuk sakit mata saja.

Pembukaan perban itu termasuk hal yang saya tunggu, karena tanggal 28 – 29 Desember itu saya bergabung dengan kawan-kawan lain untuk berwisata ke Gunung Puntang, di Daerah Pangalengan Bandung. Awalnya saya sendiri ga ada rencana hingga ada yang kawan mengusulkan di grup dan tugas saya sebagai moderator memfasilitasi sampai pada sepakat agenda ini akan berjalan.

Sebenarnya niat awal ingin sekali-kali jadi peserta murni. Tapi ya risiko perjuangan #2 lagi lah, tempat dan acara bukan kita yang usul, tetapi pada akhirnya saya lagi, saya lagi yang kena evaluasi, hehehe. But this is ngetengmania, wherever we go, go happy… I don’t want to be saddest person, while almost all persons are happy during the trip… Oleh karena itulah saya juduli tulisan kali ini dengan bersenang-senang🙂

Sabtu, 28 Desember. Agenda kami adalah menuju Curug Siliwangi, 3,5 km jauhnya di kedalaman Bumi Perkemahan Gunung Puntang. Seperti perjalanan ngeteng lainnya, jarang dan bahkan hampir ga ada yang tau jalur sebelumnya. Jadilah ini perjalanan yang penuh dinamika dan lika-liku. Memasuki semak belukar, menyebrangi sungai berarus deras, menanjak, menurun, menanjak lagi. Jejak sampah, dan pita-pita yang diikat di pohon menjadi penunjuk jalan.

Saya sendiri ada sedikit kekhawatiran awalnya. Bukan mitos-mitos yang sering didengungkan yang saya takutkan, tapi kondisi riil saat kabut mulai turun, hari makin meninggalkan siang, dan jalur yang sepertinya belum berujung. Namun orang-orang di depan adalah semangat tersendiri bagi saya. “Bro, lari Bro, segera beri kabar baik ya…” begitu yang sering saya ulang-ulang kepada mereka yang menyediakan dirinya jadi “pelari hutan.” Setelah itu kami teriak-meneriaki memberi kode jikalau tempatnya telah dijejak.

Hingga akhirnya setelah berjalan sekitar 3,5 jam, dari jauh saya dengar suara air yang bergemuruh, ditimpali teriakan mereka yang kegirangan, tampak di sela-sela dedaunan orang-orang sedang melompat-lompat di bawah air terjun dengan ketinggian 150 meter. Itulah Curug Siliwangi yang gagah perkasa, tapi tersembunyi dalam hutan dengan ketinggian 1700 meter dari atas permukaan laut, seperti kisah prawira penguasa dan gerilyawan tatar Pasundan itu.

Setelah itu, beberapa lama saya biarkan diri dihembus angin air terjun dengan percikan airnya yang menyegarkan, mengantar pejuang-pejuang lain yang butuh bantuan menaiki tebing untuk mengabadikan momen terdekat mereka dengan sang air terjun #tsaaah. Hingga makanan rendang pun dihidang untuk mengisi energi kembali pulang.

Perjalanan pulang melalui jalur yang lebih santai dan keluar di arah yang berbeda. Guess what? Tentu dibecandain karena jalur awal dianggap salah… Hahaha… No problemo ojo nesu… Kami tetap senang, dan itu adalah risiko perjuangan #3. We all did not know the track… the one who took a risk to open the track, should be prepared and ga boleh marah to be blamed too…🙂

Secara umum perjalanan lancar, ternyata kabut tadi pun hanya numpang lewat. Langit tetap bertahan cerah hingga malam tiba menyelimuti kami yang harus mengisi kembali energi dengan makan dan istirahat, karena dini hari kami harus bersiap lagi bersenang-senang yang berikutnya.

1480757_570678766340435_40274918_n