Bersenang-Senang di Puntang (2)

by Fadhli

Minggu, 29 Desember 2013. Dini hari, bara api unggun yang saya nyalakan semalam masih tersisa. Terlambat setengah jam dari waktu yang ditentukan sebelumnya, kami mulai berbangunan. Ditambah persiapan ini-itu lagi kira-kira satu jam lagi. Hampir menuju jam tiga pagi baru kami tiba di basecamp para relawan Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia (PGPI).

Kang Megan masih dengan nyenyak tertidur di kursi jaga pos itu. Saya membangunkannya dengan memanggil agak keras di dekat kuping, “A’, A’, ini kami yang tadi malam lapor, mau naiknya sekarang.” Setelah dipersilakan, dan berdoa untuk keselamatan bersama akhirnya kami mulai mendaki di sekitar pukul 3 lewat-lewat dikit.

Jalur yang kami jejak langsung menanjak. Belum sampai setengah jam dan menengok ke belakang, kerlap-kerlip lampu kota masih bernyala terang. Sementara di hadapan, dengan pandangan mendongak, malu-malu ditutup pehononan, bulan sabit seakan memanggil, “Mari, mari kejar saya…” Saya jawab, “Inilah kami para pencari mentari pagi, tentu kami mengejar anda sampai anda lari terbenam… hahaha” #halahkoqjadipuitisgini?

Sampai azan subuh terdengar, kami rehat untuk sholat sejenak. Enggan makan waktu lama, saya dan beberapa teman buru-buru melanjutkan perjalanan setelahnya. Posisi kami berada di depan.

Bagi saya yang menisbatkan diri sebagai pendaki kampung, jalurnya wueddan kawan, tanpa bonus. Yang pernah ke Cikuray, mungkin ini agak-agak persis. Saya merasa agak kurang fit, karena emang jarang berolahraga sebelumnya, ditambah ngilu di tangan kiri kadang masih terasa. Tapi haah, pejuang ga boleh cengeng. Geberrr terus…

Selter zhuhur sudah dilewati, namun perjalanan masih terasa lama. Saya mulai soak, saya suruh Rizal duluan. “Zal, lari Zal, kasih kabar baik buruan…” Saya mengikuti di belakang, walaupun Rizal sudah ga terlihat di depan. Hanya teriakan, “Kiiiiuw, kiiiiuw” komunikasi kami. Tanjakan yang seperti tiada berujung nampaknya segera akan berakhir setelah Rizal terdengar berteriak, “Sampee… sampe…” Saya langsung semangat lagi, agak sedikit berlari sekarang. Tetapi ternyata, itu hanya fatamargona, Rizal belum selesai. Maksudnya, “Sampee pos, sampee pos…” Pos Batu Kereta.😦

Dari pos itu, pandangan kita masih mendongak cukup tinggi untuk melihat puncak. Itupun kalau tidak ada lagi puncak di atasnya. Dari situ perjalanan saya sendiri semakin melemas. Saya, Rizal, Balad, awalnya berbarengan menuju akhir. Sampai di satu titik, saya ga mau berhenti walaupun jalan selangkah kecil-selangkah kecil. Rizal dan Balad tersusul. “Tugas saya hanya berjalan, tugas saya hanya berjalan, terus berjalan selambat apapun… perjalanan sudah terlalu jauh dan tinggi…” itu aja yang saya batinkan terus saat melalui tanjakan cacing, istilah yang saya dapat dari seorang relawan PGPI saat pulang. Dinamakan tanjakan cacing karena tipis, di sampingnya jurang dan meliuk-liuk.

Dan saya bukan superhero, di satu titik lain, saya merasa tas di pundak mulai mengganggu. Saya akhirnya taruh di sisi jalur, silakan isinya ambil buat siapa aja yang mau, saya maunya sampai puncak sekarang. Hanya satu kotak wafer T*ngo sisa yang saya bawa, tanpa air. Semua saya taruh di tas itu. Perjalanan saya lanjutkan.

Ternyata tidak lama dari situ, sayup-sayup suara orang terdengar. Saya menambah kecepatan sedikit daaan… tempat camp sodara-sodara. Saya tanya mereka, “Puncaknya yang mana ya Kang?” Mereka jawab sambil menunjuk satu titik. Sekarang benar-benar sudah dekat. Yeaaay saya tambah lagi kecepatan, dan sekitar lima menit dari situ saya menjejak Puncak Mega, setinggi 2223 meter di atas permukaan laut.

Di hadapan sekarang adalah gugusan gunung di Bandung dan sekitarnya, berjajar dari kiri adalah Burangrang, Tangkuban Parahu, Bukit Tunggul, Manglayang. Di paling ujung hadapan adalah Ciremai, pancang tertinggi di Jawa Barat. Banyak lagi gunung-gunung lain yang saya tidak ketahui namanya. Langit cerah, biru diselingi putih-putih awan membuatnya seperti lukisan di kanvas besar sepanjang mata memandang. Belum lagi hijaunya hutan-hutan di bawah yang telah kami lalui dan di kaki-kaki Gunung. Indah, masya Allah.

Plang Puncak Mega saat itu terjatuh, untuk kepentingan properti foto, saya kembali menanamnya. Tak lama kawan-kawan di bawah mulai terlihat. Saya sambut dengan “joget bergembira,” muka-muka lusuh dan pucat kembali bergembira. Ritual (maaf) mem-BAK-i puncak juga kami lakukan. Beberapa memprotes kenapa saya ninggalin tas di bawah sih jadi mereka yang bawa akhirnya. Hahaha sori kawan, lagian kan deket banget itu juga jaraknya… Berbagi beban laah🙂

Sebenarnya, menurut relawan PGPI juga, dulu jalur dari Puncak Mega ini bisa dipakai untuk melanjutkan perjalanan mengelilingi puncak lain seperti Puncak Malabar dan Haruman. Tetapi sekarang kondisinya tidak bisa karena jalan Shirothol Mustaqim yang menghubungkan dengan puncak lain, disebut demikian saking sempitnya, sudah terputus. Beberapa relawan yang sempat mencobanya bahkan melaluinya bukan dengan berjalan, tetapi dengan pose menaiki kuda, berjalan dengan (maaf) pantat yang digeser pelan-pelan. Gile

Setelah puas berfoto di puncak, tim awal ini akhirnya menginisiasi masak. Menunya Western, dengan burger tanpa selada, dengan minuman bersoda. Mari bersenang-senang!🙂

Dan perjalanan turun dilanjutkan sebelum matahari tepat berada di tengah kepala.

36