(Bukan) Resensi Police Story 2013

by Fadhli

Saya menonton judul film tersebut di sebuah bioskop dengan harga tiket untuk hari kerja sebesar IDR 15K saja di Kota Bandung. Hebat kan hari gini masih ada bioskop isinya film baru dengan harga tiket segitu? Bakal jadi langganan tempat nonton nih kayaknya.

Filmnya diproduseri sekaligus dibintangi oleh aktor film aksi kawakan, Jackie Chan. Memang aktor ini ga ada matinya, walaupun usianya sudah beranjak senja. Sisi-sisi “kerentaannya” juga diangkat sedikit sebagai selingan dalam drama. Unsur komedi, khas film Jackie, juga dipertahankan dalam film ini.

Drama dimulai ketika Jackie Chan dikomplain oleh anak perempuannya yang menganggap Jackie terlalu sibuk sebagai polisi superhero di luar sana sehingga melupakan keluarganya. Anaknya itu kesal karena Jackie terlambat menemui istrinya sendiri di rumah sakit yang mengalami kecelakaan berujung pada kematian.

Setelah tidak pulang selama enam bulan, puteri Jackie show off sebagai bentuk protes kepada ayahnya bahwa sekarang dia berpacaran dengan pemilik klub dan mengubah dandanannya menjadi anak bergaya metal. Jackie Chan diajak puterinya itu bertemu di klub milik pacarnya.

Ternyata tanpa sadar, puterinya pun telah dijadikan jebakan oleh pemilik klub agar Jackie bisa datang ke klub itu. Drama berlanjut hingga pada akhirnya, pemilik klub menahan banyak sandera termasuk Jackie agar polisi mengabulkan permintaannya. Mengetahui tujuan pacarnya yang tidak baik itu, puteri Jackie menyesal. Terlebih ketika ayahnya bertarung dengan seorang Thai-boxer dengan berdarah-darah untuk membebaskan beberapa sandera. Dua jari Jackie patah, mata dan kepalanya berdarah, walaupun akhirnya menang.

Dalam dialog-dialog di film ini, banyak reka ulang aksi-aksi Jackie Chan yang telah lalu dalam bentuk flashback memory. Peran Jackie yang terkenal sebagai negosiator ulung juga masih terlihat kuat. Efek aksi dan dramatisasi visualnya juga bagus.

Drama pun berlanjut melibatkan pasukan khusus polisi yang bersiaga di luar klub. Sementara klub sendiri tersegel dengan rapat, ditambah ancaman bom yang dipasang. Ternyata motivasi pelaku yaitu si pemilik klub adalah menuntut balas kematian adiknya, yang pada saat terbunuhnya, Jackie adalah polisi yang tanpa sengaja menangani kasusnya. Saat itu sebenarnya ia sedang melewati tempat kejadian dalam keadaan tidak tugas jaga.

Pelaku menganggap adiknya dibunuh, dan dibiarkan terbunuh oleh orang-orang yang disanderanya di klub itu, termasuk oleh Jackie Chan. Nah, di sinilah drama semakin emosional karena terungkap bahwa pada saat Jackie Chan mencoba menangani kasus adik pemilik klub itulah, saat yang bersamaan dengan kecelakaan isteri Jackie yang membawanya pada kematian.

Pada saat itu, Jackie berada dalam kondisi dilema, karena sedang mencoba bernegosiasi dengan pencuri yang menyandera adik sang pelaku untuk menyelamatkannya, di saat yang sama teleponnya berdering memberi tahu bahwa isteri Jackie dalam kondisi kritis. Antara dua pilihan itu, Jackie tetap meneruskan usahanya bernegosiasi menyelamatkan adik sang pelaku walaupun akhirnya “gagal” karena sang adik pelaku terbunuh, dan Jackie kehilangan momen kepergian isteri tercintanya, ditambah dikesali oleh puterinya sendiri pada saat itu.

Puteri Jackie tidak tahu bahwa karena alasan itulah dulu dia dulu terlambat datang ke rumah sakit untuk mengurus isterinya. Dan sekarang, karena terkait kasus itu pula lah Jackie menjadi berurusan dengan pemilik klub yang ternyata kakak dari wanita yang terbunuh dahulu. Kali ini Jackie berurusan karena puterinya yang awalnya “berulah” berpacaran dengan si pemilik klub yang ternyata berniat buruk. Sisi emosional ayah-anak terjadi di sini.

Drama berakhir tentu saja dengan kemenangan Jackie, yang selain berhasil membebaskan sandera, juga berhasil menangkap pelaku yang awalnya hendak bunuh diri.

Moral yang saya tangkap dari profil Jackie Chan sendiri adalah dia tipe orang yang tidak mencari pembenaran walaupun di sisi lain dia seharusnya sangat bisa berargumen. Dengan rendah hati dia rela disalahkan oleh puterinya yang menganggapnya telat hadir ketika isterinya mengalami kecelakaan. Di sisi lain, ia dituduh membiarkan terjadinya pembunuhan karena gagal menyelamatkan adik sang pelaku. Padahal waktu itu dia dalam keadaan dilema.

Tetapi Jackie adalah orang yang tak meminta belas kasihan, dia selalu mengambil risiko (terukur), bahkan untuk sesuatu hal yang dia hanyalah menjadi korban “ketidaksabaran” orang lain dalam memandang dirinya. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga, begitulah kebaikan-kebaikan Jackie Chan mungkin dipandang.

Jackie dianggap hanya “memperbesar” dirinya, padahal dalam aksi-aksi sebelumnya diketahui, bahwa saat dia berhasil dalam suatu kasus pun, dia masih sering terkena pinalti oleh atasannya di kepolisian karena dianggap melanggar prosedur. Tetapi memang konsistensi yang akan memperlihatkan segalanya. Jackie tetap konsisten, apapun yang menimpa dirinya, bahkan tetap berkorban untuk mereka yang telah salah menilai diri Jackie.

Patut ditiru.

Tabik.