“Di dalam Mall Kita ‘Tidak Tahu’ sedang Berada di Kota Apa”

by Fadhli

Semalam Tuan Enrique Penalosa, Mantan Walikota Bogota, Kolombia yang menjadi salah satu inspirasi dunia dalam hal pengembalian fungsi ruang terbuka hijau di kota, pelaksanaan car free day dan busway, termasuk pernah diundang juga ke Jakarta , tumben-tumbenan nge-twit pake Bahasa Inggris. Twitnya tentang mall.

FYI, waktu sekitar tingkat tiga kuliah, studi kasus yang saya ambil untuk matakuliah Manajemen Perubahan adalah bagaimana wajah Bogota berubah dengan program yang menjadikan kota adalah ruang untuk manusia itu sendiri, bukan malah untuk kendaraan, dan salah satu tokoh yang diangkat adalah beliau dan juga Antanas Mockus.

Dalam twitnya, Penalosa memberikan tautan mengenai rolezinho, kelompok yang dianggap sebagai kelas menengah ke bawah di Brazil, namun sering melakukan perkumpulan di pusat-pusat perbelanjaan (mall). Namun belakangan beberapa pusat perbelanjaan melakukan larangan untuk itu.

Kemudian tuan Enrique Penalosa mengetikkan:

An interesting way to make evident that shopping malls are not public space (artikel yang dimaksud, merupakan sebuah bukti bahwa sebenarnya pusat perbelanjaan itu memang bukanlah ruang publik)

Public space in cities should compete in quality and safety with shopping malls´ corridors and plazas (malah seharusnya ruang publik di kota bersaing dalam masalah kualitas dan keamanan dibanding dengan koridor-koridor mall dan plasa). Jadi maksudnya, ruang terbuka juga kalo bagus dan aman, bikin orang tertarik untuk datang ke sana, bukan ke mall.

Shopping malls are usually geared to a specific social class. They are not the Greek agora (pusat perbelanjaan memang biasanya ditujukan untuk kelas sosial tertentu. Pusat perbelanjaan bukanlah Greek agora <- semacam alun-alun terbuka yang digunakan untuk ruang berkumpul publik di Yunani zaman kuno)

With globalization, shops in malls in all countries are the same; and mall´s temperatura is kept at the same level: boring for tourists (karena globalisasi, toko-toko di pusat perbelanjaan di semua negara adalah sama; suhu udaranya sama, dan membuat bosan wisatawan). Tambahan dari saya, ini persis seperti yang diungkapkan penulis buku A Fortune-Teller Told Me, Tiziano Terzani, ketika melakukan pengamatan perubahan kota seperti di Thailand dan Singapura, bahkan menyebut Singapura sebagai Negara AC.

Inside malls one cannot know in which city one is: one does not see mountains, trees, birds, or architecture…and temperatura is the same (dari dalam mall seseorang tidak lagi tahu di kota mana dia berada, seseorang tidak melihat gunung, pohon, burung, atau karya arsitek… dan suhu udaranya sama)

Sepakat, Tuan!🙂

Kalaupun ada mall yang mengusung konsep green, rasanya tetap berbeda dengan yang asli green di ruang terbuka.

Mari kembali ke alam…