Jalan-Jalan “Gagal” Bandung

by Fadhli

Bandung 18 Januari 2014, cuaca pagi, bahkan dari malam sebelumnya masih hujan. Tetapi rencana jalan-jalan kami (Moa, Lila, Icrut, Fajar, dan Saya) ke Bandung masih terus on, setelah ditunda seminggu sebelumnya karena “solidaritas sosial” ke cucu mayor. Walaupun cuaca hujan, tapi bagi kami hujan dan panas sama saja bagian dari fenomena alam, jadi kalo sekedar jalan-jalan kota, mari lanjutkaan kakaa! Karena jalan-jalan kalo musim hujan itu ga maenstrim… hha

Saya menunggu di Bandung (Barat), pintu tol Padalarang tepatnya, untuk terus dijemput rombongan Depok – Jakarta. Waktu dijemput siang itu, hari sudah tidak hujan. Dari situ barulah kami meluncur ke tempat tujuan yang sudah diagendakan. Tapi itu bohong, kawan, karena kami ga punya tempat tujuan dan agenda, hha. Tujuan yang sudah tercatat fixed barulah ke Braga Culinary Night, itupun baru akan mulai jam 7 malam.

Jadi, tujuan pertama baru didiskusikan di mobil. Karena yang dari Jakarta belom pada makan siang, diputuskanlah ke tempat makan, Pasar Cisangkuy. Semacam food court yang sudah beberapa kali kami ke situ, tapi ada aja menu yang tidak bisa dipesan, baik karena habis atau abangnya lagi ga dagang. Memang mungkin suasananya yang dibeli di sini. Seinget saya, kawan-kawan kebanyakan pada mesen mie, kecuali Icrut yang pesen nasi kuning, sama saya pesen tahu gejrot karena baru saja makan dari rumah sebelum berangkat.

2

Yang lebih seru dari sekedar makanannya tentu adalah ngobrolnya, terutama bagian pengintrikan dan lobi-lobi agenda jalan-jalan yang diusulkan masing-masing pihak, yang pada akhirnya belum selesai juga tuh pembahasan sampe sekarang. Hha… Pembahasan juga melebar sampe masalah peternakan lele yang diterjang banjir sampe ayam-ayam yang jadi kurus kalo stres. Hari beranjak sore, kami pun meninggalkan Pasar Cisangkuy, tujuan selanjutnya adalah Masjid Agung Provinsi Jawa Barat.

5

Tapi baru saja mobil jalan sebentar, kita sudah berhenti parkir lagi di Taman Lansia, untuk foto-foto. Bandung saat ini sedang membenahi banyak tamannya sebagai ruang publik dan terbuka hijau. Seperti biasa, kami merepotkan orang sedikit untuk minta difoto bareng.

6

Baik, kami akan ke tempat tujuan selanjutnya, yaitu Masjid Agung! Dan dari Taman Lansia baru jalan sebentar, udah berhenti lagi di Gedung Sate. Buat apa lagi selain foto-foto. Tadinya malah mau masuk ke dalam gerbang, tapi ternyata ditutup dan harus lewat jalan belakang yang jauh untuk masuk. Dan seperti biasa, meminta orang untuk fotoin.

10

Selesai dari Gedung Sate, baiklah kami akan ke Masjid Agung! Dari Gedung Sate kami melewati Jalan Riau, kemudian Samping Gor Saparua, dan samping Taman Lalu Lintas. Di samping Taman Lalu Lintas, lihat ke kiri, ada gedung militer. Yang menarik di situ ada anak kecil-kecil yang unyu-unyu lagi meluncur dengan cepat membelah aspal #tsaaah. Akhirnya kami parkir lagi, gangguin anak-anak latihan, sekaligus jadi materi liputan jurnalisme warga. Ganggu pelatihnya buat wawancara, ganggu orang tuanya juga… Hhe

13

Baiklah, kami akan ke Masjid Agung, sesuai agenda berikutnya. Dari Jalan Sumatera, kami ke Asia-Afrika, dan yak sudah dekat dengan Masjid Agung, ada Gedung Merdeka tempat Konperensi Asia-Afrika. Parkir lagi, dan foto lagi sebentar. Lila dan Moa sudah berjuang menyebrangi jalan yang ramai, tapi ternyata, dapat gambarnya terlalu kecil.

15

Kenapa ga dari tadi foto dari sini aja, ga usah nyebrang, kan begini sudah cukup jelas. Hhe

17

Barulah dari situ akhirnya kami parkir di Masjid Agung Jawa Barat, sesuai agenda. Di Masjid ini kami menunaikan sholat maghrib, yang dari Depok-Jakarta dirapel dengan isya. Oke, barulah agenda selanjutnya ke Braga Culinary Night.

Memasuki Jalan Braga, saya mulai agak sangsi kenapa jalannya ga ditutup, karena waktu pembukaan acara kuliner malam seminggu sebelumnya, jalan itu ditutup. Saya liat jam, oh mungkin belom jam 7. Akhirnya kami memutar jalan dulu sekali sebelum parkir di gedung Braga City Walk. Masih sangsi kenapa ga ada rame-rame jualan makanan sepanjang Braga, akhirnya kami tanya bagian Keamanan sekitar situ, dan #tettooottt pekan ini lagi ada ada acara Braga Culinary Night. #gagalpertama

Untuk menghindari kekecewaan pemirsa, kami akhirnya susuri Jalan Braga menuju Asia-Afrika lagi, sekedar menambah daya jelajah, karena jalan segitu juga ga ada artinya dibanding 12 km jalan kaki yang pernah kami jabanin… hyaaah.

19

35

Di tengah foto-foto di Jalan Braga, kami dihampiri salah satu host acara Trans TV yang menawarkan kami jadi figuran di acaranya. Tadinya kita udah pada seneng dan setuju gitu hingga ada yang bertanya, “Emang untuk acara apa, Mas?” Si Mas pembawa acaranya jawab, “P*sona Malam, Mas” O oww… Abis itu kita mengalihkan perhatian dengan ketawa-tawa, foto-foto lagi, dan akhirnya bilang, “Ga jadi deng, Mas…

Kami selesaikan Jalan Braga, untuk menuju Jalan Cilaki. Di jalan inilah terdapat seafood yang sejauh ini jadi favorit kami di Bandung sebagai seafood yang versi jumbo, enak, relatif murah karena bisa dimakan rame-rame. Kami pesan udang, cumi, kangkung, nasi goreng. Pembahasan di sini semakin “ga karuan” sampe muncul istilah “lele balong” pemakan segala.

Selain itu, yang bikin kami cukup terbahak adalah “strategi” menggasak kerang dan cumi orang di sebelah. Karena porsinya besar, kami perhatikan orang lain masih banyak makanannya, sementara sudah terlihat upayanya udah begitu keras untuk melahap, daripada mubazir, mending kita bantuin… Hha. Tapi hal ini tidak terjadi, karena kami harus melanjutkan perjalanan. Saat itu sudah jam10 malam.

39

Dari situ baru kami mendiskusikan agenda selanjutnya di dalam mobil. Berhubung kami ga dapat hotel gratis sebagai #gagal2, akhirnya kami memutuskan untuk tidur di Masjid UPI, arah ke Ledeng. Sebelum sampai di sana, untuk mengurangi waktu tidur di mesjidnya, hhe kami mampir lagi ke Warung Ndeso di daerah Setiabudi dengan mata yang sudah mulai ngantuk karena pencernaan lagi ngelindesin cumi sama udang yang barusan dimakan. Tapi kami masih menambahnya lagi dengan surabi, pisang, kopi. Sambil mengusir kebosanan, “cangkulan” dan “41” pun dimainkan. Tetapi ga ada dokumentasi di sini.

Baik, sudah lewat tengah malam, kami pun beranjak ke tempat tidur walaupun akan agak keras, karena bayangan saya kan tidurnya di lantai mesjid. Ternyata belum sampai UPI, kami berbelok ke Gegerkalong Girang, untuk melihat kemungkinan tidur di mesjid yang lebih dekat, Masjid Daarut Tauhid. Dan, ternyata sudah banyak yang mendahului kami tidur di situ, walaupun niat mereka mungkin dari awal sudah untuk beri’tikaf, ga kayak kami yang karena gagal dapat guesthouse. Dan ga apa-apa, ini adalah Allah’s Guesthouse, hhe… Guyonan kami, “Inget Allah aja baru kalo udah kehabisan hotel…” Dan, zzzzz dingin juga yaah, apalagi malam hujan turun lagi.

Kami bangun untuk shubuh yang diimami langsung oleh Aa Gym dan sempat mengikuti taushiahnya untuk beberapa menit. Dari situ, kami berangkat lagi menuju Warung Daweung di Bukit Moko.

Gerimis-gerimis mengundang menemani kesinggahan kami di Bukit Moko, dan menjadi #gagal3 karena targetnya adalah melihat matahari terbit. Namun kabut menghalangi pemandangan. Beruntung masih ada pisang goreng keju dan coklat panas menemani untuk menghangatkan badan selain juga olahraga “cangkulan” dan “41”-an. Saat langit mulai terbuka kami foto-foto dan tidak lama kembali melanjutkan perjalanan.

44

46

Tujuan selanjutnya adalah Masjid Salman ITB untuk bersih-bersih dan ganti baju. Ternyata tujuan itu di-cut karena kami belok lagi ke Saung Angklung Udjo. Di sana juga terdapat toilet, dan numpang bersih-bersih di sana, selain numpang gaya juga *padahal mah ga masuk liat pertunjukannya🙂

48

Dari Saung Angklung Udjo tujuan selanjutnya adalah kelabilan antara makan Mie Kocok atau Mochilok (tempat yang jualan mochi isi es krim sama cilok). Akhirnya diputuskan makan Mie Kocok Pa Hendra di seberang rel kereta Jalan Kebon Kawung. Pengunjungnya memang banyak, bahkan mungkin didominasi mobil-mobil berplat B padahal dari dulu jualannya di gerobak gitu aja.

Dari Mie Kocok, ternyata Mochilok juga dijabanin, sekaligus pamer dulu sekolah kebanggaan saya ke temen-temen laah… karena tempatnya hanya selangkahan kaki. Hanya saat itu tempatnya lagi dipake arisan, jadi kami makan di halaman luarnya aja, dan ciloknya sedang habis.

52

Dari situ, perjalanan berakhir di Gedung Pussenif, Jalan Cisokan Bandung karena saya harus menjadi tutor pengenalan kuliah di salah satu lembaga bimbingan psikologi dan akademis. Teman-teman mengantar saya hingga di sana, dan kemudian mereka pulang. Kabarnya sih mampir dulu di Pempek Jalan Sekeloa dulu mereka.

Moral dari semua perjalanan dengan beberapa “kegagalannya” ini tetap dari dulu hingga sekarang: (berusaha) ke mana-mana bahagia bersama orang-orangnya😀, niscaya kegagalan akan menjadi keseruan… josss!