Sesekali Bicara Cinta

by Fadhli

Tergelitik oleh tulisan seorang blogger yang saya reblog sebelum tulisan ini. Saya juga mau sedikit ikut-ikut bicara tentang hal yang saya jarang bicarakan ini…  jiyeeee

Sedari dulu saya kurang tertarik membaca buku-buku yang mendayu-dayu tentang cinta, selain juga yang terlalu nyastera berlebihan, yang seakan-akan dengan cinta semua urusan jadi beres, dan semua pasti selalu terasa indah. Dulu sih waktu masih “khilaf” saya pernah juga ngisi acara tentang begituan untuk anak-anak SMA, untungnya referensi saya lumayan ilmiah. Ga yang mendayu-dayu gitu. Hhe.

Saya ingat Ayah pernah bilang, “Mana pernah kubilang-bilang cinta pada dia (Ibu) dari dulu sebelum menikah pun…” Persis seperti yang salah satu Bibi saya katakan, “Cinta itu bukan dibilang, tapi lihat saja bagaimana aku memperlakukan suamiku…Sadeeessss…

Oleh karena saya tidak percaya kepada yang orang katakan cinta tapi justru membuat mereka lemah, galau, labil, persis tulisan blogger yang saya muat ulang itu. Oleh karena cinta bukan terasa indah tapi harus dibuktikan pula melalui suatu yang pahit. Dan oleh karenanya cinta itu menguatkan, dan membuat berpikir, bukan jatuh ditipu emosi dan perasaan. azeeek, azeeek, azeeek, hha

Kumpulan puisi tentang cinta yang pernah saya beli adalah yang ditulis oleh Bung Tomo, salah seorang pahlawan nasional. Ini nih baru cinta! Di saat beliau berperang, menumpahkan darah dan mengorbankan nyawanya, masih menyempatkan menulis puisi kepada keluarganya, seakan-akan arahan kepada mereka untuk tidak bersedih, walaupun tidak ada kepastian saat itu Sang Pahlawan akan kembali pulang dari medan perang. Kalau puisi cinta ditulis di kamar, sambil galau, padahal sambil enak nyeruput kopi ngunyah pisang goreng, ngelus-ngelus perut yang kekenyangan, yah, boleh sih dan sah, tapi itu arus utama alias maensetruuum. Hha

Atau Haji Agus Salim, yang mungkin tidak terasa “romantisme verbal”-nya dalam biografi-biografinya, tapi saat beliau dan isterinya naik angkutan umum dan isterinya terlihat menggigil, Haji Agus Salim langsung membuka mantelnya, dan menyelimuti isterinya. Di saat yang lain Haji Agus Salim dengan sigap membuangkan (maaf) kotoran isterinya karena kamar kecil mereka sedang bermasalah.

Pun kepada hal getir, keluarga Haji Agus Salim dengan terpaksa membungkus jenazah salah satu anaknya yang meninggal dunia dengan taplak meja karena kekurangan biaya. Alasan Agus Salim adalah tidak mengapa anaknya itu ditutupi kain bekas, kain baru lebih bisa dimanfaatkan oleh orang yang masih hidup. Cinta di saat getir lebih membuat ketenangan, daripada kerusuhan akan hal-hal kecil.

Lompat sedikit untuk menghubungkan kembali tulisan ini dengan tulisan blogger sebelumnya, saya jadi ingat suatu dialog, yang sesekali mungkin bisa dilakukan supaya jangan terlalu “minder” seperti temannya blogger itu. Itu juga kalo beraniii… saya juga belom tentu berani siiih. Intermezzo penutup aja ini mah. Dibuat kocak aja.

Calon mertua (CM): “Apa gerangan yang membawa kamu mau melamar anak saya?
X: “Cinta dan kehormatan, Pak
CM: “Dengan siapa kamu datang kemari?
X: “Sendirian Pak, itu bukti keberanian saya, dan ciri kedewasaan
CM: “Berani kamu kasih makan cinta untuk anak saya?
X: “Tentu tidak itu saja Pak, saya akan berusaha. Tapi akan saya pastikan, sebelum anak Bapak dan keluarga saya bisa makan, saya tidak akan makan
CM: “Emang kerja kamu apa?
X: “Kalau kerja Bapak apa? ” (nih calon mertua nanya-nanya kerjaan, evaluasi diri dong, biasanya juga udah pensiun, hehehe)
CM: “Maaf kalau begitu kamu saya tolak
X: “Baik tidak mengapa Pak, saya mohon maaf juga kalau anak Bapak belum beruntung bisa mendapatkan saya. Saya izin Pamit. Assalamu’alaikuuum

😀