Kebaikan Kecil yang Diseriusi

by Fadhli

Tadi tripod yang saya bawa kehilangan salah satu bautnya, sementara sebentar kemudian saya akan membutuhkannya. Tanpa baut sekecil itu, kamera akan menjadi tidak ajeg di atas tripod.

Ditunjukilah saya oleh kawan-kawan tempat yang konon menjual baut. Saya datangi sesaat setelah mendapat informasi itu.

“Engkoh, ini salah satu baut tripodnya lepas,” ujar saya memulai pembicaraan. Orang yang saya ajak bicara memeriksa sedikit dan mulai bergerak mencari baut kecil yang dibutuhkan.

Dimulai dari ujung jauh tokonya, dia meneliti satu dua tiga kotak dan plastik perkakasnya. Tidak menemukan baut yang sesuai, dia berpindah ke sisi etalase yang lebih dekat dan mencari lagi dari plastik-plastiknya yang lain.

Hingga akhirnya ia berpindah lagi di etalase depan di hadapan saya. Masih merogoh plastik-plastik dari dalam etalase, melirik-lirik siapa tahu ada yang sesuai, bahkan membuka segel plastik walaupun ternyata belum ada yang sesuai.

Sampai saatnya dia melubangi satu plastik yang ia temukan setelah saya terpatung di hadapan etalase sedari tadi. “Yeeeay adaaa!” ujar saya setelah dia menemukannya dari plastik tersebut.

Belum selesai, dia langsung memasangkan baut itu di tripod saya. Bagian yang tadinya renggang menjadi rekat kembali dengan baut itu. Dia pun menjulurkan tripodnya ke hadapan saya agar saya mengambilnya.

“Berapa, Koh?” tanya saya. “Alah, udah lah gitu ‘doang’ bawa aja,” jawab dia.

Tidak enak hati saya pun mengambil selembar uang dan menaruhnya di etalase. Si Engkoh pun mengambilnya, namun untuk dikembalikannya ke tangan saya, “Udah bener, ga usah” sambil tersenyum. Saya tidak bisa menolak dia menuntaskan kebaikannya.
***

Apa artinya baut kecil buat toko elektronik yang terkesan tidak recehan itu, yang seandainya dari awal dia bilang tidak ada barangnya pun orang akan tetap percaya. Tapi justru, dia menjadikannya sarana untuk berserius dalam kebaikan tanpa imbalan, yang mungkin bagi orang lain dianggap merepotkan untuk sekedar hal sepele atau tidak penting.