Hasil IELTS

by Fadhli

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan syukur alhamdulillah karena mendapatkan hasil tes IELTS yang cukup memuaskan, melampaui angka minimal yang biasa dipakai sebagai persyaratan standar buat sekolah ke luar nagreg gitušŸ™‚ Sebetulnya ada yang kurang memuaskan sih, padahal saya cukup yakin yaitu writing (menulis), udah pake latihan juga beberapa kali di blog ini.

Tapi ga mengapa, karena sebelum tes saya merasa memang persiapannya tidak ada yang khusus dan kurang optimal seperti saya tulis sebelumnya. Padahal, saya (dan dua orang kawan lain) ikut tes yang tanggalnya mundur dua pekan dari mayoritas teman lain. Ngepur ceritanya. Pengen ada waktu tambahan persiapan. Nyatanya, tidak ada belajar-belajar khusus. Sehari sebelum tes saya malah merelakan diri jalan-jalan menemani saudara yang datang ke rumah.

Nah, di sini saya tidak akan membagikan tips dan trik bagaimana mendapat hasil itu. Tidak kapabel. Hhe. Tau sendiri persiapan saya. Buku teks malah jarang disentuh kecuali untuk tugas dari pengajar kelas persiapan. Bukunya itu lho, terlalu berwarna-warni, ceria-ceria gitu macam buku Bahasa Inggris waktu SMP, hhe. Maaf bukan meremehkan, justru bagi saya jadi perlu penyesuaian karena selama ini kalo belajar TOEFL bukunya terkesan serius dan langsung simulasi.

Saya juga sering telat datang ke kelas persiapan. Hingga kalo datang ke kelas pagian dikit, suka ditanya, “Tumben pagian…”Ā yang saya respon dengan senyum aja. Maafkan saya rakyat Indonesia, karena kelas persiapannya dibiayai oleh beasiswa, hhe. Yang paling parah saya telat ikutĀ exit testĀ setelah kelas persiapan selesai. Ga seberapa parah sih telatnya… 2 jam! Itu ga parah, tapi banget!šŸ™‚ Akhirnya saya ikut tes pengganti sendirian aja.

Beruntung saya punya softcopy bahan-bahan pelajaran IELTS yang dikasih kawan sekitar 2 tahun lalu. Lumayan buat ngisiĀ hard diskĀ eksternal saya, karena ga pernah disentuh juga. Hehehe…

Jadi sebelum tes IELTS ini saya cuma menghabiskan buku berbahasa Inggris sekitar 370 halaman, untukĀ reading. KalauĀ speaking, listening ya nyambi-nyambi nonton film sama youtube tanpa subtitleĀ atau kalau adaĀ subtitleĀ Bahasa Inggrisnya aja. UntukĀ writing saya ambil tips dari pengajar kelas persiapan, tinggal jiplak organisasi paragraf dan ganti tema sesuai yang diminta.

Untungnya pada hari-H tidak begitu menegangkan. Malah saya agak kecewa karena kayaknya penyelenggara kurang persiapan. Bayangkan, untuk tes kelas internasional gitu spekernya ga berfungsi sodarah, jadilahĀ listening ditukar urutannya dengan readingĀ terlebih dahulu.

Yang paling susah bagi saya dari bagianĀ reading adalah kalau ada pilihan Yes, No, dan Not Given.Ā KalauĀ listening ya soso lah…Ā sok-sok ngerti aja maksudnya,Ā hhe… pake ngangguk-ngangguk dikit boleh buat bikinĀ jiper bangku sebelah :)Ā Writing saya kerjain dulu bagian 2 yang bobotnya lebih besar tentang opini terhadap suatu kasus, baru bagian 1 untuk mendeskripsikan tabel atau bagan. UntukĀ speaking ini dia, tema yang dikasih tentang makanan. Ga ngerti gitu, jadi mungkinĀ fluencyĀ (walau berlogat Sunda) boleh lah tetapi struktur sama logikanya yang agak ngaco.

Saya juga harus berterima kasih kepada berbagai pihak yang saya rasa telah mendukung saya dalam menunaikan IELTS ini: guru-guru pengajar kelas persiapan baik yang Indonesia maupunĀ native, termasuk orang-orang kantor dulu yang masih berasa sensasi interaksi langsung denganĀ native, yang kalau kasihĀ report saya direvisi sampai kata per kata, macam skripsi.

Lumayan lho, biayanya juga diganti oleh beasiswa karena melampaui batas minimal dan bisa berlaku buat 2 tahun. Mudah-mudahan kertasnya bisa dipakai untuk sesuatu yang bernilai lebih besar daripada tesnya itu sendiri.