Lemah Menjurnal

by Fadhli

Jurnal yang dimaksud bukan catatan harian macam di blog ini. Itu masih mending saya mau kerjain. Jurnal yang dimaksud seperti yang diartikan dalam KBBI: buku yang dipakai untuk mencatat transaksi berdasarkan urutan waktu.

Jualan kaos, ga pernah dijurnal. Bikin trip rombongan, ga pernah dijurnal. Nyatet-nyatet kecil sih ada, tapi biasanya nama-nama orang doang, ga ada keterangannya, selain ceklis atau silang aja, tanda udah bayar atau belom. Hha.  Apalagi kalau jalan sendiri. Kebanyakan mentok di ngumpulin struk aja sebagai bukti jikalau kemudian ada satu hal yang ga diharapkan, kebanyakan sih ga ada. Untung punya kawan-kawan yang rajin untuk bantu urusan pencatatan ini kalau ada urusan di rombongan.

Saya pernah diminta bantu beresin gudang yang isinya buku dan publikasi, kayaknya lebih cepet beresinnya daripada nyatet berapa yang akhirnya dipertahankan, berapa yang dibuang, dan berapa yang akan disumbangkan. Nah, yang disumbangkan juga dicatet berapa untuk institusi ini, berapa untuk institusi itu… Waduh.

Saya pernah bantu-bantu salurkan bantuan medis untuk korban banjir, eh diserbu warga padahal belum sempet saya catet itu apa yang diambil. Petakanya, tim semuanya cowok dan lebih tua pulak. Habis deh yang anak bawang. Walaupun minta maaf dan bukan murni salah saya, tapi jadi ga profesional kan, penyalur mungkin ga mau tau, karena mereka juga akan mempertanggungjawabkan ke donatur. Besoknya, salurin bantuan lagi cari tim yang ada ceweknya yang notabene lebih rajin dalam urusan catat-mencatat. Kalo yang ini laporan pertanggungjawabannya kelar beberapa menit setelah aksi bantuan selesai. Saya sih ya “ongkang-ongkang” aja, nyuruh-nyuruh atau disuruh apa aja monggo aja asal jangan nyatet. Hihi

Ga tau kenapa sebabnya. Tapi untuk urusan data yang ga ada sangkut pautnya sama keuangan saya cukup rajin. Misal dulu waktu diminta ambil atau masukin data untuk penyakit, saya yang dipercaya orang-orang (hhe, jumawa dikit) cukup sabar tapi cepat, padahal pake software sederhana aja di Ms. Excel. Disuruh ulik data ampe jam 1 malem juga pernah di tempat kerja, capeknya ya ngantuk aja, kalo akurasi lumayan lah.

Saya pernah coba kalo untuk urusan keuangan, bawa sticky note disakuin, dicatet apa aja pengeluaran per hari, ceritanya mau melacak alokasi-alokasi penggunaan keuangan. Et dah, tetep aja malesin ya, bertahan ga lebih dari satu-dua pekan mungkin. Terus bingung, karena akhirnya kertas-kertas itu juga ga diapa-apain.

Menurut saya ini emang agak bahaya, terutama kalau berkaitan dengan kepentingan orang lain. Saya pengen bisa juga sih bisa sabar dan cepet ngerjain yang beginian, tapi mungkin yang sederhana-sederhana aja deh, bukan tipe-tipe pejuang catat-mencatat sih kalo saya kayaknya. Hhee…