‘Umrahnya’ Pedagang Batagor

by Fadhli

Di jalanan menuju rumah sepulang beraktivitas kemarin, saya bertemu dengan pedagang batagor keliling yang walaupun sudah memiliki anak-anak berusia dewasa tetap saja kami memanggilnya ‘Si Mas’ karena asalnya memang dari suku Jawa.

Batagor beliau, yang berbeda bentuknya dari batagor lain, sudah biasa kami beli sedari kecil. Namun semenjak kuliah dan bertahun lamanya saya tinggal di Depok, saya jarang berinteraksi lagi dengan beliau. Baru belakangan beberapa kali saya bertemu. Obrolan khas orang lama tak berjumpa seperti aktivitas saya sekarang, kabar anak beliau, dagangan, sudah sempat kami obrolkan.

Namun tema kali ini tiba-tiba menjadi ‘umrah’ karena Bapak yang biasa menggunakan topi ini bertanya mengenai keberangkatan peserta umrah di lingkungan kami. Sampai akhirnya saya melemparkan guyon, “Kalo Si Mas kapan mau umrah? Hehehe. Saya juga deng Mas, kapan ya? Biasa umrahnya ke al-Falah atau al-Jauhar (nama Masjid lingkungan) ya kita mah.”

Sambil terus melayani pesanan saya, beliau senyum-senyum kecil. “Banyak alternatif lainnya (bagi yang belum bisa)…” Kemudian beliau menyebut sekian kali beribadah tertentu (saya lupa, entah sholat tertentu tanpa putus dan tentu saja yang ada petunjuknya), “Kan itu dinilai kayak Haji ya….” sambungnya. Kami terdiam sejenak. “Wah, ia Mas bener tuh,” jawab saya. Namun kemudian beliau senyum kecil kembali dan sejenak diam sebelum bilang, “Yaah, tp mungkin itu kecil hatinya kita aja sih ya…” maksudnya itu adalah upaya menghibur diri karena belum bisa. Saya merespon, “Ya enggak lah Maas, bener itu, bener banyak alternatif koq…

Percakapan sekaligus transaksi kami selesai. Baru saya teringat lagi kata-kataNya (QS Huud: 115), “Sungguh! Allah tidak sekali-sekali meremehkan/mengabaikan/menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang selalu berusaha berbuat kebaikan” Bahasa arabnya, “Innallaha laa yudhii’u ajral-muhsiniin.” “Inna” itu “Sungguh!” “Pasti!” Sementara al-muhsiniin itu arti kasarnya orang yang (berusaha terus-menerus) berbuat kebaikan, bukan orang yang sudah pasti baik terus. Jadi, usaha berbuat baik terus menerusnya yang dituntut, bukan latar belakangnya dia mampu atau tidak, atau hasilnya tercapai karena kemampuan (finansialnya) atau tidak.

Satu lagi kata-kataNya dalam surat ar-Rahmaan (ayat 60), “Hal jazaa’ul ihsaani, illa al-ihsan.” “Tidaklah balasan bagi kebaikan itu, selain kebaikan pula.” Tuhan yang jamin, bahwa Dia menyangkal semua balasan yang lain (dalam hal ini berarti keburukan) untuk sebuah kebaikan selain kebaikan juga.

Jadi tenang aja Mas, kita lanjutkan “umrah” dengan alternatif masing-masing dahulu, mudah-mudahan bisa tercapai umrah ‘asli’ kemudian. Tentu bukan karena hiburan kecil hati, melainkan dengan niat yang tulus, tak usah terlalu hiraukan apa kata orang dalam melakukan kebaikan-kebaikan itu, sekecil apapun.