Petualangan Baluran (Hari ini Setahun Lalu :D)

by Fadhli

Hari ini, setahun lalu (29 Maret 2013), saya bersama Moa, Lila, Azmi, Fajar dan Rido sedang menantang panasnya matahari. Ga tanggung, 12 kilometer jalan kaki, demi meng-complete-kan our adventure, kalimat yang menjadi jargon terpampang besar di plang Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Rasanya Joss!

Sebetulnya kami sampai tengah malam, sekitar pukul 00.00 setelah tur dari Pulau Sempu (Malang), lanjut ke Terminal Probolinggo dan lanjut ke Pos Taman Nasional Baluran diiringi musik koplo Jawa Timuran sepanjang perjalanan bis 5 jam-an. Setelah sampai, kepada Pak Satpam yang jaga kami melobi agar boleh langsung berjalan kaki menuju Savana Bekol, bagian dalam Taman Nasional yang di sanalah kami akan menginap. Tapi ora iso, rek. “Masalahnya kalau ada binatang-binatang yang keluar ke jalan malam gimana ya Mas, Mbak, ndak bisa eeh,” kata Pak Satpam. Akhirnya kami tidur dulu di bilik-bilik dekat pos pintu masuk.

Waktu Sampe Tengah Malem, photo: Azmi

Waktu Sampe Tengah Malem, photo: Azmi

Pagi-pagi selepas shubuh, kami melanjutkan perjalanan, supaya bisa menjelajahi total isi Taman Nasional Baluran. Sebelumnya kami membagi peran dan beban dulu agar tidak semua barang dibawa, cukup kuli-kuli panggul yang membawanya dengan bayaran keihklasan #halah😀 Dua belas kilo men jalan yang akan ditempuh.

Perjalanan kaki pun dimulai, ditemani matahari terbit yang saat itu masya Allah sedang bulat dan terang, dengan mengharap akan melihat banteng atau kerbau menyapa kami di jalan. Hingga ada salah seorang yang kegirangan, “Ssssst…. itu banteng apa kerbau tuhhh?!” Yang lain juga ikut melongok ke benda hitam besar di antara semak belukar. Cukup hening sejenak, benda tidak juga bergerak dan “Woooooh batu itu woy… banteng apaan?!!” Segitunya ya ngarep liat banteng sampe pagi-pagi udah ngigau. Haha

Perjalanan pun dilanjutkan, masih segar, ketawa-tawa. Mantera-mantera penghibur juga keluar semacam, “Ngeeeeeng, ngeeeeng, ngeeeeng,” sambil tangan niruin orang lagi ganti persneling mobil pake trekking pole, atau “Bo eM, Bo eM, Bo em” maksudnya niruin konduktur Kopaja jurusan Blok M kalo narik sewa. Kami pun sempat melihat penampakan kalajengking dan ayam-ayam hutan.

Kalajengking di Jalanan TN Baluran. Foto: Lila

Kalajengking di Jalanan TN Baluran. Foto: Lila

Semakin jauh perjalanan ya tentu saja semakin capek. Tapi dibawa santai. Istirahat beberapa kali di jalan. Bahkan udah mendekati stres karena ga nyampe-nyampe ke ujung perjalanan saya dan Rido sampe berpose tentara-tentaraan yang mau dilindes mobil dari belakang😀

Istirahat. Foto: Lila

Istirahat. Foto: Lila

Pose Perang-Perangan. Foto: Azmi

Pose Perang-Perangan. Foto: Azmi

Akhirnya, setelah berjalan sekitar 3,5 jam kami tiba di ikonnya Taman Nasional Baluran yang disebut-sebut sebagai Africa van Java yaitu Savana Bekol. Hanya karena waktu itu baru saja musim hujan, suasananya masih hijau, nuansa Afrika-nya kurang terlihat, pohon-pohon Akasia aja yang bisa membawa sensasi Afrika (kayak udah pernah ke sana aja saya :D).

Dari Savana ini juga bisa melihat Gunung Baluran yang belum jamak didaki masyarakat umum. Di Bekol ini kami sudah menyewa dua kamar untuk istirahat, harganya waktu itu masih 60ribu (atau 65ribu saya lupa) untuk semalam. Karena sudah kecapekan, akhirnya tidur dulu deh, diiringi bau-bau semerbak dari… ah suddahlah…😀

Savana Bekol. Foto: Lila

Savana Bekol. Foto: Lila

Lepas tengah hari, yaitu sekitar pukul 1 kami sudah siap-siap lagi menantang terik. Tujuannya 3 kilometer lagi dari Bekol untuk menuju Pantai Bama. Namun stop jalan kaki! Kami membajak elf kosong yang akan menjemput rombongan wisata ke Bama dengan bayaran 5ribu perorang (x6). Ga kebayang panasnya kalo jalan kaki.

Di Pantai Bama kami menyewa alat snorkeling. Belum ada yang tau pasti lokasi karang yang bagus, jadilah setengah jam awal dihabiskan untuk menjelajahi di mana itu lokasinya. Anggota Pasukan Katak berdaya jelajah paling luas juga belom nemu-nemu, akhirnya dari kejauhan Lila yang manggil-manggil, “Di sini, di sini!” Langsung lah kami serbu lokasinya. Ada ikan nemo, bintang laut, karangnya juga bagus-bagus, ada bangke mobil jip juga lo di palung (yang terakhir itu mungkin tidak usah dipercaya karena pandangan mata saya sedang dikaburkan… hhe)

Anggota "Pasukan Katak" Berdaya Jelajah Paling Luas. Foto: Lila

Anggota “Pasukan Katak” Berdaya Jelajah Paling Luas. Foto: Lila

Anggota Lain. Foto: Lila

Anggota Lain. Foto: Lila

Finding Nemo :D Foto: Lila

Finding Nemo😀 Foto: Lila

Bintang Laut. Foto: Lila

Bintang Laut. Foto: Lila

Karang. Foto: Lila

Karang. Foto: Lila

Udah capek sekitar 2 jam celup-celup badan, mungkin ini juga snorkeling terlama buat saya, kami selesaikan dengan makan spaghetti di Pos Ranger yang ada di dekat pantai. Eh, ada burung Merak juga yang nyamperin, selain monyet-monyet yang celamitan pengen deketin (makanan) kita.

Burung Merak. Foto: Lila

Burung Merak. Foto: Lila

Nah, sebetulnya selain Pantai Bama ada juga pantai lain, jaraknya sekitar 3 kilo lagi dari Bama. Tapi kayaknya kita harus hemat energi (ga mau dibilang capek, hha) dan memutuskan kembali ke penginapan sambil menunggu matahari terbenam.

Pulangnya ini kami berjalan kaki kembali, kali ini untuk melihat langsung binatang-binatang di alam liar, sambil tetep ngarep mau liat banteng sama macan. Kita ngikutin pose-pose pembawa acara alam liar di tivi-tivi. Mantera yang keluar dalam perjalanan ini adalah, “Banteng, anak macan, banteng, anak macan” songong menantang mereka keluar dari hutan sambil bikin tanduk di atas kepala dan jalan agak dibongkokin dikit😀

Banteng, anak macan, banteng, anak macan :D Foto: Lila

Banteng, anak macan, banteng, anak macan😀 Foto: Lila

Ngejar banteng sama anak macan yang ga ketemu-temu ceritanya :D Foto: Lila

Ceritanya ngejar banteng sama anak macan yang ga ketemu-temu😀 Foto: Lila

Gaya host acara wildlife di tivi-tivi :D Foto: Lila

Gaya host acara wildlife di tivi-tivi, padahal rusanya ada di belakang tuh😀 Foto: Lila

Rusa-Rusa. Foto: Lila

Rusa-Rusa. Foto: Lila

Di perjalanan dari Bama ke Bekol ini juga, sambil menunggu matahari terbenam, kami berfoto dengan latar belakang Gunung Baluran. Fotonya diulangi lagi pas besok paginya. Keren kayak gini jadinya.

Depan Gunung Baluran. Disclaimer: Lila sudah diedit :D (Foto: Lila)

Depan Gunung Baluran. Disclaimer: Lila sudah diedit biar ada dikit fotonya (Foto: Lila)

Berbagai Pose

Berbagai Pose

Sampai di penginapan, kami naik dulu ke menara pengamatan untuk melihat matahari benar-benar terbenam. Dilanjut bersih-bersih, untuk mendengarkan “kuliah umum” dari Bapak yang menjadi Koordinator Pengelola Bekol (lupa namanya :D). Kemudian masak, makan, maen kartu, nyogok pengelola Bekol pake spaghetti biar bisa liat banteng besoknya di penangkaran, bikin api unggun, sama ngobrol-ngobrol dikit sama pengunjung lain yang baru datang, dan istirahaat.

Besok paginya, kami naik lagi ke menara pengamatan, hanya saja matahari yang terbit hanya terlihat setengah, dikarenakan kondisi berkabut.

Menara Pengamatan. Foto: Lila

Menara Pengamatan. Foto: Lila

 

Pose di Menara. Foto: Lila

Pose di Menara. Foto: Lila

Daaan, cita-cita melihat banteng tercapai setelah turun dari menara ini! Sogokan spaghetti kami semalam berhasil meluluhkan para pengelola. Haha. Kami boleh masuk melihat banteng-banteng (walaupun cuma di penangkaran). Tapi ga apa-apa, denger lenguhan yang di penangkarannya aja udah lumayan serem, apalagi kalau dikejar di alam liar kali yak.

Awalnya ngintip dulu dari bilik pengamatan banteng. Foto: Lila

Awalnya ngintip dulu dari bilik pengamatan banteng. Foto: Lila

Akhirnya keluar juga sambil dikit-dikit gemeter, soalnya ada banteng yang ngedeketin dan melenguh di belakang kami.

Banteeng! Foto: Lila

Banteeng! Itu Cowok tengah ketakutan apa gimana megangin semua orang?!😀 Foto: Lila

Akhirnya aktivitas kami selesai di Taman Nasional Baluran, walaupun belum liat anak macam. Eh udah deng, pas pulang dari penangkaran banteng ngeliat anak rusa yang nyamar jadi anak macan di semak-semak juga, semua udah pada istighfar, kirain bener anak macan taunya anak rusa… Bagus juga sih, anak rusanya berpahala mengingatkan kita akan Tuhan🙂

Perjalanan pulang dilanjutkan hampir setengah hari dari Taman Nasional ini ke Surabaya, sedikit insiden terjadi dengan kondektur bis di Probolinggo, sebelum kami lanjut ke Surabaya. Dan dari Surabaya, ngeeeng naek pesawat pulang ke Jakarta. Bayangin anehnya kita, naek pesawat mampu, tapi naek ojeg atau mobil dengan patungan 15 ribu buat nyusur jalan 12 kilometer ga mampu😀 Wajarlah, di pesawatnya aja, kami jadi pasukan bersendal jepit yang anti-maenstruuum!

Salam Ngetengmania!

Sendal Jepitan di Bandara. Foto: Lila

Sendal Jepitan di Bandara. Foto: Azmi