Simbol Keseimbangan Capres?

by Fadhli

Menonton dan membaca salah satu rangkaian parade pemilihan umum yaitu pengundian nomor urut calon presiden dan wakil presiden, saya gerah untuk tidak berkomentar. Sejujurnya, awalnya saya malas berkomentar tentang ini karena sudah banyak yang membahasnya di lini masa media sosial, apalah arti komentar selintas tulis ini. Tapi ya tidak ada salahnya juga toh berkomentar, wong akun blog ini milik saya. Hehehe

Menarik juga pidato setelah pengundian nomor urut calon presiden dan wakil presiden kemarin. Di antara kedua pasangan, saya sebenarnya lebih tertarik untuk mendengar visi-misi mereka nanti setelah ada debat-debat yang substantif. Tetapi karena ada salah satu pasangan yang berfilosofis untuk nomor urutnya ya saya komentari dulu lah yang satu itu.

Sang capres setelah menempati podium langsung mengucap salam dengan bubuhan shalawat Nabi berbahasa Arab yang panjang. Komen pertama, mudah-mudahan nama dan gelar Nabi tidak dipakai untuk pencitraan, terlebih menyindir rival karena sebelumnya dirinya merasa mendapat negative campaign berbau SARA. Gelar Nabi yang disebut adalah habibiina (yang kami cintai), syafii’ina (pelipur lara kami), semuanya adalah gelar yang meneduhkan bukan bersifat mengadu-adu. Tapi saya ga tau juga isi hati beliau, mudah-mudahan tidak demikian, dan saya mohon ampun jika salah menilai.

Setelah itu sang capres langsung show off, walaupun nampaknya membawa contekan, tentang filosofi nomor dua yang secara umum disebut sebagai simbol keseimbangan. Aduuuh, saya langsung berkomentar waktu dengerinnya, “Apaan sih itu??” Bukan anti-filosofi-filosofi macam itu, tapi nampaknya itu lebih ke pengagungan simbol daripada substansinya, dan semua bisa aja dibuat-buat.

Mengenai hal ini, komen pertama, jelas pasti nomor berapa pun yang didapat akan disebut yang bagus-bagus. Kalau dapat nomor satu juga pasti disebut yang bagus-bagus, ga akan mungkin disebut satu adalah lambang ke-pecak-an, atau ketidakseimbangan, atau kalau ada nomor empat atau tiga belas ga akan dibilang nomor sial dalam adat tertentu.

Kedua, apa benar dua itu keseimbangan?? Buat anak kecil yang belajar sepeda, pake roda tiga adalah keseimbangan yang pas. Kita juga jarang melihat ada mobil bannya dua, karena empat juga merupakan keseimbangan yang paten, asal posisinya kayak ban mobil. Bener ga?

Last but not least, mengambil filosofi dari sebagian tubuh manusia yang berpasangan untuk keseimbangan bagi saya juga kurang tepat karena bisa jadi menafikan keseimbangan lain dalam tubuh yang tidak mesti memiliki dua komponen. Sang capres mencontohkan keseimbangan dengan “Ada telinga kanan, ada telinga kiri, ada tangan kanan ada tangan kiri.” Apakah itu seimbang? Ya seimbang, tapi tidak semata karena jumlahnya dua. Telinga juga masing-masing lobangnya cuma satu. Lalu apa itu ga seimbang? Kepala kita kenapa ga dua supaya seimbang? Oke, kalau sebut-sebut satu nanti saya dibilang pro capres yang satu, lalu itu kenapa ga sel-sel otak dijadiin dua aja biar seimbang? Padahal jumlahnya miliaran dan itulah keseimbangan.

Ternyata ya jumlah itu tidak membatasi fungsinya tho dalam organisme. Mau satu, dua, seratus, sejuta, kalau emang fungsinya begitu ya begitulah Tuhan ciptakan.

Jadi buat saya, nomor dalam konteks ini ga terlalu penting sih😀

Tabik

#RespectDiversity #PemiluDamai