Tentang Pencitraan

by Fadhli

Pencitraan adalah kata yang sedang marak dibicarakan belakangan. Konteksnya ditujukan untuk mereka yang bercitra, memasang penampilan dan pembawaan yang disukai publik supaya terpilih dalam ajang pemilu (pemilihan presiden).

Sahkah? Menurut saya sah-sah saja. Setiap orang mesti bercitra karena setiap tempat memiliki cara berperilaku yang berbeda. Itu lumrah. Bicara dengan kawan akan berbeda caranya dengan berbicara kepada orang tua atau guru. Kepada pewawancara kerja atau beasiswa pun begitu, apalagi calon mertua, ya pasti berusaha menampilkan citra yang terbaik. Tapi belakangan banyak yang dibuat kecewa karena banyak pencitraan yang konon tidak memenuhi harapan.

Di luar konteks pilpres, ada yang bercitra religius dengan jargon-jargonnya, namun ternyata galak seperti seorang ustadz yang “mengunci” leher orang lain karena sekedar urusan microphone . Atau macam (mantan) aktivitis-aktivis kampus yang dulu kalo rapat seriusnya macam mau selesai urusan negara, eh sekarang jadi pada unyu-unyu juga😀

Di kebanyakan orang, banyak yang beretorika indah supaya terlihat gagah, atau sebaliknya berpura-pura merendah padahal berniat mempertunjukkan bahwa dirinya “wah“.

Jadi, pencitraan yang sah itu tidak cukup. Pasangan terbaiknya adalah konsistensi, atau katakanlah inkonsistensi yang minimal dan tidak vital. Menurut saya, agak susah juga mencari manusia tanpa cela konsistensi 100% seandainya aib-aib manusia ini dibuka sepenuhnya.

Apa yang dikatakan sudah semestinya itu yang dilakukan, baik di kesendirian, dan tetap tidak banci penilaian orang di kerumunan, atau di hadapan kamera. Istilahnya ya memang gua yang begini ini adanya.

Yang sering membuat jatuh adalah memasang label terlalu tinggi dan kemasan terlalu indah (pada retorika lisan dan tulisan, termasuk di media sosial) sementara kenyataan tidak seindah harapan. Yang paling ideal tentu saja pencitraan yang bagus sesuai dengan kenyataan yang ada. Tetapi karena belum sanggup dengan hal ideal tersebut, saya sendiri kalau boleh bersikap adalah memilih dinilai lebih rendah dalam citra namun berusaha mengejar kapasitas, sehingga tidak terlalu membawa beban harapan dari orang-orang akibat citra yang dibuat-buat oleh diri kita sendiri.

Semoga tulisan ini juga bukan (sekedar) pencitraan.

Tabik