Diskusi tentang Kekerasan terhadap Anak

by Fadhli

Dalam sebuah diskusi kelompok untuk menyeleksi beasiswa, para fasilitator memberikan selembar kasus untuk dipelajari. Temanya tentang kekerasan terhadap anak usia dini di sekolah internasional yang belakangan terkenal di media massa. Setelah memberi instruksi singkat, fasilitator menyerahkan sepenuhnya mekanisme diskusi kepada peserta.

Maka kami mulai membaca kasus yang diberikan. Setelah semua selesai, saya angkat suara, “Bagaimana nih pengaturannya?” Dan seorang mengambil inisiatif menjadi moderator, bukan saya. Setelah perkenalan, seorang yang lain mengambil inisiatif memberikan pendapatnya pertama kali. Saya sendiri mencorat-coret ide saya dulu di selembar kertas. Pendapat dari orang pertama tersebut mengafirmasi artikel studi kasus yang menyatakan bahwa ada yang salah dengan kemampuan observasi guru terhadap muridnya sehingga kekerasan yang terjadi tidak terdeteksi. Setelah itu lanjut moderator turut memberi pendapat. Masih seputar guru. Selanjutnya saya ditawari berbicara, tapi saya tawarkan dulu kepada yang lain. Oleh pembicara sebelum saya ini, parenting disebut-sebut tapi titik tekannya pada guru yang seharusnya juga memiliki kemampuan untuk itu.

Selanjutnya saya. Saya ingin membuat strike, terlebih waktu yang disediakan masih sangat banyak. Diskusi akan agak monoton dan tidak menarik jika tidak ada poin tambahan. Maka saya menarik pendapat ke titik pandang yang lebih luas.

“Ini bukan sekedar masalah guru. Tapi kita harus pertanyakan kembali apa yang hendak dicapai orang tua dengan menyekolahkan anaknya di sekolah dengan gelar internasional? Mereka adalah kelas menengah ke atas yang mungkin jarang memiliki waktu berkualitas dengan anak. Komunikasi dengan anak tentang sekolah mungkin sekedar mempertanyakan berapa nilai anak dan bisa apa tadi di sekolah, bukan bagaimana kondisi anak belajar di sekolah dan adakah hambatan yang dirasakan. Seharusnya tidak demikian,orang tua pun harus memiliki kemampuan mengobservasi anak, apalagi jika penyelidikan terakhir mengindikasikan bahwa guru juga terlibat dalam kasus kekerasan tersebut. Padahal kita bergantung pada guru dalam mengamati perubahan yang terjadi pada anak.” Dari kejauhan, saya lihat fasilitator turut mengangguk-anggukan kepala.

“Selain itu, elemen sekolah bukan hanya guru. Nyatanya yang telah terbukti melakukan kekerasan adalah petugas kebersihan. Lagi-lagi, bisakah kita memastikan bahwa anak kita yang “dikurung” dalam sekolah yang konon keamanannya ketat bisa aman dari semua aspek di sekolah. Bisakah sekolah menjamin?”

“Ketiga, jelas ini urusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal hukum dan admimistrasi. Bagaimana bisa sekolah yang bergelar internasional tidak memiliki izin bertahun-tahun di Indonesia.” Saya coba juga naikkan tensi diskusi, “Ya kalau saya setujulah bubarkan aja itu sekolah, tentu tanpa mengorbankan siswa dan orang tua. Tugas kementerian dibantu aparat terkait bagaimana mengaturnya.”

Selepas itu diskusi makin mengalir, dari setiap poin yang diajukan ada tambahan identifikasi masalah dari peserta lain. Walaupun beberapa malah menjadi melebar seperti ada yang mengajukan hukuman kebiri dan sebagainya. Hanya saya ga tega meng-counter-nya. Padahal bisa saya bantah bahwa kita mengkritisi sekolah yang tidak memiliki legalitas hukum, lha sekarang kenapa kita justru membuat hukuman yang tidak diatur dalam hukum positif.

Masuklah ke solusi. Seperti biasa, saya mencoba mengambil kesempatan terakhir sambil berpikir. Solusi-solusi dari setiap poin-poin sudah dijelaskan peserta lain. Tapi saya rasa ada satu yang vital yang saya kira bisa jadi strike penutup.

Setelah mengusulkan beberapa solusi teknis, saya tutup: “Tapi saya kira ada hal penting juga dari semua diskusi ini, yaitu kita selalu menempatkan anak sebagai objek dalam permasalahan ini sehingga seakan-akan mereka bergantung sepenuhnya pada lingkungan (sekolah) mereka. Tadi kita bilang bahwa orang tua dan guru harus memiliki kemampuan observasi pada anak-anak, tapi kita tidak pernah memberdayakan anak-anak tersebut agar mereka dapat mengobservasi keadaan dirinya sendiri dan sekitarnya serta membekali mereka dengan kemampuan untuk mengenali kejanggalan dalam lingkungannya dan hal-hal apa yang sebaiknya dia lakukan dalam kondisi tertentu. Kita harus perhatikan ini juga, di kala dia jauh dari orang tuanya”

Diskusi selesai. Belum ada notulensi bersama. Saya ambil kertas dan menulis judul, “Rekomendasi”. Sebenarnya saya tidak benar-benar akan menulis karena di kelas kuliah juga jarang-jarang mencatat, hhe… Setelah menulis judul tadi, saya edarkan pandangan sambil berkata, “Apa nih yang harus saya tulis?” Dan akhirnya ada seorang yang mengambil-alih kertas dan pena untuk mencatat kesimpulan diskusi kami.