Rinjani Bag. 2: Transit di Bali

by Fadhli

Sudah semestinya pada bagian ini pertama kali saya ucapkan terima kasih kepada kawan dan “abang” Refi beserta Hana, isterinya, yang merelakan mobil dan rumahnya untuk kami gunakan di Bali.

Jadi ceritanya, sejak Maret sudah saya info beliau bahwa kami akan “merepotkan” dengan numpang di rumahnya saat transit sehari semalam di Bali. Singkatnya, pada hari-H ternyata Refi sekeluarga justru ke Jakarta dan Cilegon. Tapi dengan kebaikannya, kami malah diizinkan menggunakan mobil dan rumahnya secara leluasa. Saat di Jakarta, kuncinya sudah diberikan ke tangan kami.

Ardi, Lila, dan saya terbang dari Jakarta ke Bali pada 12 Mei. Tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai, kami menuju tempat parkir mobil Refi yang ditinggalkan di situ saat dia berangkat ke Jakarta.

Dengan hidung yang masih agak berat karena dua hari sebelumnya terserang meler, kemudi saya pegang. Ga tau kenapa hidung suka meler dan bersin-bersin kalo abis packing, alergi debu yang nempel di peralatan mungkin. Tapi hari itu sudah jauh membaik.

Malam itu dengan navigasi dari orang yang katanya sudah berkali-kali ke Bali, mobil diarahkan melewati daerah Kuta, kemudian Legian untuk melihat Tugu Peringatan kasus Bom Bali dahulu. Setelahnya makan nasi pedes di daerah Kuta juga. Saya yang kalap karena belom makan (nasi) dari siang ngambil banyak menu. Saya lupa ini Bali, dikira harganya sekelas warteg, padahal lumayan. Tapi udah, jangan itungan lah kalo udah masuk perut, ntar ga jadi daging🙂

Sehabis makan kami menuju penginapan di rumah Refi di daerah Tukad Batanghari. Kasur empuk dan AC tersedia, begitupun TV. Hhe. Setelah melanjutkan ngobrol ngalor-ngidul, mata kami mulai meminta haknya untuk terpejam. Malam itu hujan cukup deras menemani, menambah tidur menjadi nyenyak.

Hingga selepas shubuh, saya berteriak, “Sepatuuu gimana sepatuuuu?” Ternyata hujan semalam tidak membuat kami nyadar bahwa sepatu kami, baik yang mahal, maupun yang murah masih disimpan di luar. Maka sebelum beraktivitas keluar rumah di 13 Mei pagi itu, kami sibuk mencari strategi menjemur dan mengeringkannya. Itu sepatu yang akan digunakan mendaki soalnya.

Sepatu kami tinggal sambil dijemur. Pagi hari kami mengejar matahari yang beranjak naik dari horison Pantai Sanur. Namun Sang Mentari malu-malu, berlindung di balik awan. Kami menghabiskan waktu dengan mengambil foto siluet berbagai gaya.

Perjalanan dilanjut dengan sarapan. Saya pesan bubur ayam plus bubur kacang ijo. Dipisah makannya lah tapinya. Udah laparrr lagi, maklum sopir. Haha.

Di sebrang tempat makan itu adalah Monumen Perjuangan yang belum dibuka. Kami juga berfoto-foto di situ sampai gerbang masuk dibuka. Setelah dibuka, ya kami ga masuk juga. Karena mesti bayar. Haha.

Tujuan selanjutnya mencari tempat yang jual kue pia yang konon terkenal se-antero Bali. Kue pia itu menjadi penganan kami juga saat pendakian nantinya.

Dari situ kami mencari rumah salah satu kenalan Lila, Ibu Jero untuk sekedar sowan seperti kawan lama ga berjumpa gitu lah. Lokasinya dekat toko souvenir yang terkenal juga. Dalam perjalanan menuju rumahnya, saya sempat kalang kabut karena urusan perut. Beruntung ada masjid yang dilalui. Tau kan maksudnya untuk apa? Hhee.

Lanjut untuk menyelesaikan urusan logistik dan dapur umum untuk pendakian, kemudi diarahkan ke Carrefour. Comot sana comot sini, seperti membeli bahan untuk pesta anak muda. Di sisi lain, ada getaran yang terasa di bagian pundak melihat hasilnya menjadi 2 kardus, ditambah satu kardus yang sudah dipak sebelumnya dari Jakarta. Ooh Tuhan, jika tidak ada pundak yang kuat memikul, berikan saja tanah untuk tempat bersujud nantinya. Hehehe.

Belanja selesai, sisa waktu masih banyak. Saya minta ke Tanah Lot, biar dibilang udah pernah ke ‘Bali’. Ooh pas sampai sana, rame. Kami akhirnya melipir ke karang-karang yang agak jauh dengan latar belakang resort yang hijau segar dibanding dengan Pura Tanah Lot-nya yang disesaki wisatawan lain.

Tempat foto-foto beberapa kali saya minta aja di atas batu yang agak tinggi dan tidak terkena hempasan air laut, atau kalau tidak saya yang foto-foto aja dari atas batu tinggi sementara si Ardi dan Lila bergaya di bawah. Kenapa? Karena saya mesti istighfar khawatir air laut menghempas *kekhawatiran yang berlebihan nampaknya🙂

Hari mulai sore. Satu pantai yang saya lupa namanya menjadi tujuan karena diarahkan navigator (yang menurut saya sih kayaknya ngasal juga, wkwk). Kami jadikan pantai itu sebagai studio foto gaya lompat sampe lupa sholat padahal mentari mulai gelap. Akhirnya sebelum benar-benar gelap kami putuskan pulang dan mampir di pom bensin untuk sholat.

Dari situ “perdebatan” tentang bagaimana menentukan tempat makan terjadi. Saya bilang, “Ardi yang tentuin, asal jangan di tempat makan ‘apa aja’ atau ‘terserah'”, Lila sibuk dengan GPS, saya nyetir. Adil kan? Haha. Tapi ini bukan debat serius kawan, seru-seruan aja. Hingga akhirnya kami menemukan tempat makan Jawa yang murah-meriah.

Perut kenyang dan waktu semakin menipis untuk beberes dan berangkat ke Pelabuhan Padang Bai tempat kami akan naik ferry ke Pelahuhan Lembar, Lombok.

Kami kembali ke rumah. Mandi lagi, packing ulang, hingga mobil travel yang sudah dikontak sebelumnya menjemput kami. Kunci rumah Refi dititpkan ke kawannya. Kami pun menuju Padang Bai diiringi curcol dan cerita lucu-lucuan bersama Sang Sopir.

Sekitar pukul 12 malam, kapal ferry yang kami tumpangi mengangkat jangkar. Bobo-bobo cantik langsung dilakukan.