Rinjani Bag. 4: Torean Jadi Kenyataan

by Fadhli

Dimulai dengan berdoa, pukul 15.00 WITA, 14 Mei 2014, tujuh manusia biasa yang kerjaannya cekikikan dibantu dua orang porter melangkahkan kaki membelah jalur Torean. Sebuah jalur yang belum selazim Sembalun atau Senaru untuk menggapai Rinjani, puncak gunung api tertinggi kedua se-Indonesia.

Yang biasa melakukan pendakian lewat jalur ini adalah para peziarah. Mereka biasanya mencari pengobatan dengan berendam di kolam air panas yang terdapat di Gua Susu yang dilewati jalur Torean, terkadang hingga ke Segara Anak.

Target kami hari ini adalah sampai di sumber air pertama sebelum gelap untuk mendirikan tenda. Jalur diawali dengan ladang-ladang warga sebelum memasuki area hutan. Karakter jalurnya naik, turun, naik lagi, turun lagi, begitu bergantian.

Tidak ada hambatan yang berarti dalam perjalanan ini. Hanya sempat seorang di antara kami, sebut saja Mawar, yang harus menyelesaikan urusan pencernaan dulu untuk pertama kalinya di area hutan. “Lagian minum pencahar sebelum mulai mendaki…” komentar kawan lain yang kena jatah nemenin. Kami para lelaki sudah duluan di depan.

Perjalanan mulai terasa memakan waktu sementara tanda-tanda akan sampai belum juga ada. Jika kami tanya apakah masih jauh, para porter pasti menjawab, “Dekat, 2 jam lagi…” Lama-lama kayak Charlie (ex ST12) lo Pak, “Dua jam sajaaa ku telah bisaaa, anterin kamu, kamu, kamu…” :p Namun para porter juga sempat bilang bahwa jalan kami terlalu santai dan banyak break. Ga apa-apa, pemanasan.

Sekitar pukul tujuh malam akhirnya kami sampai di pos pertama. Tenda didirikan, fly sheet digelar, kompor dinyalakan, perut keroncongan. Fajar “jack wolfskin” mengomentari jalannya masak sambil komentar, “Kalo bareng grup ini banyak banget bawaan bahan makanannya. Gue mah ga makan juga ga apa-apa lah di gunung, kumpul juga kenyang.”

Betul itu. Kumpul sambil makan apalagi. Makannya banyak apalagi. Hahaha. Nyatanya Fajar adalah partner in crime dalam melahap makanan yang terhidang. Malam itu saya ingat makan rendang. Pagi harinya bubur kacang ijo yang alhamdulillah manis dan mateng.

Pagi 15 Mei kami berkemas kembali. Tujuan berikutnya adalah Danau Segara Anak. Perjalanan kembali dimulai pukul 08.30.

Jalur masih melalui hutan yang menanjak terus. Bayangan melihat air terjun di Pelawangan Torean menjadi motivasi saya untuk tetap berjalan. Tapi lagi-lagi, waktu terasa berjalan lebih cepat dibanding pencapaian kami. Mau nanya porter, ga jadi ah, udah tau jawabannya, “Dua jaaam sajaaa… kamu, kamu, kamu…

Hingga datang harapan ketika dinding tebing-tebing yang berwarna hijau mulai bisa dilihat seperti di blog-blog orang. Masya Allah masya Allah. Apalagi ketika gemericik air terjun terdengar. Sekitar tengah hari kami pun sampai beriringan di Pelawangan Torean, ikon yang sering dipajang orang di laman dunia maya. Senang rasanya.

Tapi itu bukan tujuan akhir. Perjalanan masih panjang. Sementara panas mentari terus menyengat. Jackpot trek vertikal beberapa kali kami lalui, walaupun sudah enak karena dipasangi tangga.

Jurang kurus kami lalui, sebuah jalur yang berada di antara dua tebing kaki gunung yang dipisahkan jurang. Di antaranya terdapat aliran Sungai Kokok Putih yang mempesona.

Kami masih berjalan relatif beriringan hingga melewati sungai di daerah pos Propok dan melewati Sungai Kokok Putih. Walaupun lelah terasa, tapi benar adanya jalur Torean ini adalah sepotong anugerah Tuhan yang diturunkan-Nya ke bumi. Apalagi dengan kawan-kawan yang jagoan dan ga cengeng.

Setelah menyebrangi Kokok Putih, pasukan mulai terpisah. Sekitar pukul 3 sore saya, Fajar, Moa, Lesi tiba di area Gua Susu. Saya bahkan menyempatkan mandi langsung dari pancuran dalam gua. Kasian orang-orang yang berendam di kolam, airnya bekas aliran saya. Hahaha.

Tapi sampai kami selesai bermain di Gua Susu, tiga orang lain (Ardi, Eko, Lila) belum datang. Sekitar pukul 4 akhirnya mereka datang dan bilang bahwa mereka sempat tidur dulu di bawah. Pelanggaran. Hha. Efeknya mereka tidak ke sumber air Gua Susu yang letaknya sekitar 500meter lagi dari jalur, tapi masih sempat mencelup-celup kaki di salah satu kolam saluran airnya.

Sekitar pukul 4.30 perjalanan dilanjutkan. Moa, Lesi, Fajar di depan. Ardi, Eko, Lila di tengah. Saya di belakang. Setelah menaiki tebing curam terakhir, saya bertemu pasukan tengah. Suasana nampaknya sedang lelah dan mulai dingin. Perlu dihangatkan dulu ini. Apalagi siangnya ada yang ga sengaja saya “semprot”.

Maka tiba-tiba saya bilang, “Ssssst…” semua terdiam. Dan terdengar suara (maaf) “Thuuuuut” Hahaha. “Iih Eko kentutt!” tuduh saya. Lumayan untuk memercik tawa walau citra si Eko harus turun. Padahal dia dipitnah, wkwkwk. Salah sendiri diem mulu.

Kami yang mengira perjalanan masih jauh, mendirikan sholat dulu sebelum melanjutkan perjalanan dan akhirnya Jack si Kulit Serigala (baca: Jack Wolfskin) menyusul kami sambil dengan semangat bilang, “Udah deket woiii, lima menit, yuuk”

Kami pun sampai di Segara Anak pukul 17.30. Mereka yang bisa berenang langsung nyebur diprovokasi Fajar. Itu adalah si Nanang yang sempet kepleset. Moa juga sebelumnya kepleset yang membuatnya tanggung nyebur. Si Eko ikutan nyebur juga. Eh Lesi ke mana Lesi? Masih mikirin gimana caranya bisa mandi dan dandan di gunung kali. Hehehe.

Akibat pada berenang, para pemancing agak-agak kagum pada mereka, “Hebat banget pada mandi sore-sore begini. Pada kuat ya…”

Malam tiba. Dan kegiatan seperti biasa, ambil aer walaupun sempet dua kali karena salah tempat, masak dengan ikan hasil pancingan porter, dan tidur.

Sebelum tidur kami masih mengingat kematian. Ceritanya, tas-tas kami akan ditaruh di luar saja dengan diatapi fly sheet di antara tenda kami. Supaya tidak basah dibungkus dulu sama kantong sampah item, kalau diliat-liat bentuknya jadi kayak m*y*t. Saya bilang, “Ini besok minta tolong aja diangkut sama Pak Suhardi, daripada busuk di sini” Hahaha. Gelak tawa malam pecah. Mohon maklum, bukan sompral atau sok jago dan sebagainya, justru bagi saya sugesti-sugesti itu sebaiknya dihilangkan agar kita tidak menjadi penakut.

Kami pun tidur di tenda masing-masing. Tapi cerita belum selesai. Tengah malam ada suara wanita mendekati tenda yang ditiduri kami lelaki dan memanggil nama Fajar dan saya. “Ada makanan ga? Lapeer nihh…” Mendengar suara demikian saya keluar. Mungkin beda cerita kalo nanyanya “Ada orang yang bisa dimakan gaa?” atau, “Bang, ada sate ga Bang? 100 tusuk ya yang gosong kayak muka saya” kalo gitu bisa jadi saya jawab, “Ngemis di tenda ini gratis Mbak, coba cari ke tenda bule tuh, banyak makanannya, kalau bisa bawain buat saya juga ya” Hahaha #gajelas.

Ternyata itu suara Lassie yang memang suka kambuh laparnya di malam hari, di gunung yang dingin apalagi. Wajar lah ya.