Rinjani Bag. 5: Segara Anak – Pelawangan Sembalun

by Fadhli

Masih di Danau Segara Anak. Danau dengan ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut yang terbentuk sebagai kaldera saat Rinjani meletus dahulu. Di salah satu sisinya berdiri kokoh anak Rinjani, yaitu Gunung Baru Jari yang masih sering mengepulkan gas ke udara.

Air danau mengandung belerang, airnya tidak kami jadikan sumber air minum. Ada aliran mata air jika ingin mendapat air jernih sekitar 1km dari danau ini, dengan arah yang sama jika ingin menuju ke tempat perendaman air panas di bawah air terjun.

Pagi hari kami habiskan waktu dengan foto-foto berbagai gaya. Dilanjutkan dengan masak, makan dan bercengkrama. Kami kira masih banyak waktu sebelum melanjutkan perjalanan ke Pelawangan Sembalun yang rencananya baru akan dimulai tengah hari.

Di pagi ini juga kami berpisah dengan Pak Suhardi dan Budiya, porter kami dari Torean. Agak tidak enak sebetulnya karena mereka tambah menginap satu malam di Segara Anak disebabkan kami tiba terlalu senja kemarin. Rencana awal adalah kami tiba di Segara Anak sekitar pukul 2 siang sehingga para porter tersebut bisa segera pulang sebelum gelap. Namun begitulah keadaan kami. Bagaimanapun, terima kasih banyak Pak, Bud!

Setelah sarapan pagi itu di antara kami ada yang terlelap kembali, ada yang melanjutkan foto-foto dan pada akhirnya kami bersiap kembali. Tidak lupa memasak menu siang untuk break saat menuju Pelawangan Sembalun nanti.

Kekhawatiran agak muncul di sini karena persediaan gas mini kami menipis. Hal ini karena kami mulai mendaki lebih cepat dari jadwal sebelumnya yang berarti 3 kali penambahan jadwal masak. Kalau saya pribadi bilang bakal cukup sih walaupun diceramahin pas bilang gitu, padahal parafin juga udah dikeluarin untuk hemat gas. Tapi mungkin memang perlu antisipasi. Spak-spik dilakukan ke rombongan lain untuk barter gas, tapi hasilnya selalu nihil, bahkan hingga Pelawangan Sembalun. Alhamdulillah kekhawatiran tidak terjadi. Masih cukup sampai esok malah.

Kami siap berkemas sekitar pukul 12 di Segara Anak. Berhubung sudah tidak ada porter, maka kami menjadi porter bagi diri masing-masing. Bawaan dibagi sesuai kemampuan, termasuk kemampuan menghabiskan makanan🙂

Perjalanan dari Segara Anak ini menantang terik yang menyengat dengan beban yang bertambah. Mungkin karena inilah tangan saya sempat “busuk”, hhe karena lotion anti-uv yang digunakan ga sanggup menahan teriknya mentari yang lagi bulat lat lat.

Jalurnya menanjak terus tanpa ampun. Bule-bule mah enak, cuma pake kaos kutang ga bawa apa-apa pada nyusul kami. Barang-barang mereka dibawain porter. Setelah 3 jam berjalan, kami pun break makan dengan menu yang saya minta dari sebelum berangkat: spaghetti. Hanya saja posisi kami makan ini di tanjakan, jadi berundak posisinya karena ga menemukan tempat yang datar tapi perut sudah lapar.

Setelah makan, perjalanan dilanjutkan. Makin ke atas posisi pemain sudah mulai terpisah. Saya sama Moa di depan. Fajar dan Lassie di tengah. Ardi, Lila, Eko di belakang. Rombongan depan dan tengah bertemu saat break sholat di area datar sebelum tanjakan terakhir ke Pelawangan. Naik sedikit dari situ pemandangan menakjubkan kembali disaksikan. Gulungan awan, mentari yang terang benderang, tebing di sebrang, dan Danau Segara Anak di bawah. Josssss! Hilanglah lelah. Ditambah puncak Rinjani sudah terlihat, melambai-lambai minta segera dicapai. Rombongan kembali bergabung sebelum akhirnya kami menemukan tempat untuk mendirikan tenda sekitar pukul 6.

Cuaca malam cerah sekali. Setelah memasang perlengkapan anti-angin dan anti-dingin, kami berbagi tugas. Ada yang dirikan tenda, ada yang gelar dapur, ada yang mencari air. Kisah lucu ada di sini. Itu si Fajar dan Lesi yang kebagian mencari air. Fajar sebelum pergi menemukan jaket yang tergantung di pohon dekat tenda kami. “Jaket siapa nih? Tebel woi tebel… anget… merknya Reebok. Gue pake aja ah” katanya sambil melengos pergi ambil air. Dan saat mereka ambil air itulah datang bule Perancis ke tenda kami, ngomong pake Bahasa Inggris yang sudah diterjemahkan, “Ono sing liat jaket aku neng kene tadi? Aku mau pake buat mendaki nanti pagi-pagi banget. Ono ora??” Deggg. Untung Moa jawab mengamankan, “Ada sih tadi yang pake, mau ambil aer, ntar juga balik lagi koq” “Ooh OK then, just hang it up here if he is coming back. Good nite” Haha aya-aya wae kalakuan.

Mereka pun kembali. Makan malam terhidang. Kami bercengkrama di bawah bintang-gemintang yang banyak dan purnama yang bulat. Dingin dan angin terhangatkan oleh hidangan dan canda tawa. Hingga datang seorang lagi yang komplain ke tenda kami. Itu si porter para bule yang bilang, “Bisa tenang ga? Tamu-tamu saya lagi pada istirahat.”

Digituin kami diam sejenak, minta maaf, sambil menunggu abangnya pergi. Abis itu bukannya tobat, malah saya nyeletuk, “Ntar nih sekali lagi kita ribut yang dateng bukan orang lagi, tapi parang terbang…” Hahaha. Tawa yang ketahan-tahan masih terjadi hingga kami memutuskan istirahat ngikutin bule-bule yang tidurnya cepet. Padahal kita mau mulai mendaki jam12 dan baru tidur jam10an.

Sampai jumpa di summit attack