Rinjani Bag. 6: Akhirnya Menapak Puncak

by Fadhli

17 Mei 2014. Tepat pukul 00.00 alarm jam tangan saya berdering, namun kami masih bergeming menahan angin dan dingin di dalam tenda. Namanya juga perjuangan, seringnya harus dipaksakan. Maka satu per satu kami mulai bangun, membereskan kembali barang-barang yang akan dibawa ke puncak. Rencananya kami akan melakukan hal yang kurang maensetruuum, yaitu masak di puncak.

Berdoa selesai setelah dimulai, kami berjalan di bawah pancaran bintang. Perlahan melewati tenda-tenda yang masih gelap. “Kita yang pertama nih jalan… siap-siap nanti kita liat iring-iringan lampu di belakang…” sambil senyum-senyum sok merayakan kemenangan sebelum “perang” dimulai. Memang sebelum gelap kami menatap puncak, sempat terbersit juga dalam hati, “Ooooh itu… keliatan ya…

Di awal-awal laju kami masih lumayan konstan, walaupun kadang terseok turun kembali setelah naik akibat medan yang berpasir kering. Webbing beberapa kali dimanfaatkan supaya membantu naik. Satu jam berjalan kami masih pede, “Ini masih jam 1.30 lho… ntar kecepatan nyampe puncak ngapain? masih gelap juga…” Kami tatap ke bawah, lampu-lampu mulai beriringan jalan pula naik ke puncak. Tatap ke atas, ujung puncak sudah terlihat, walaupun kami harus menyadari bahwa akhirnya itu bagai fatamorgana. Tatap ke samping kanan, secara aerial kami lihat Danau Segara Anak dan Gunung Baru Jari. Tatap ke samping kiri, jurang. Hha…

Dua, tiga jam berlalu, kami ga sampai-sampai ternyata. Lampu-lampu dari bawah satu per satu mulai menyusul. Sementara terpaan angin, campur jalur pasir yang makin menanjak, ditambah ngantuk yang melanda membuat nafas ga karuan. Beberapa kali break dilakukan. Mirip-mirip, bahkan lebih dari Semeru ini saya bilang.

Dari situ dan selanjutnya hanya ada dua pilihan bagi saya: naik atau tidak turun! Sudah ribuan orang yang berhasil, rombongan lain pun terus menyusul, pasti saya juga bisa lah. Kalau kata tetangga sebelah, “Pake lidah juga gw jabanin!” Maka seperti biasa, “Bismillah, tugas gw cuma jalan terus, jalan terus, nanti juga nyampe!

Sampai “tragedi” terjadi. Ada seorang gitu yang mau berhenti. Awalnya kami cuekin lah… karena bahaya kalau menular. Tapi lama-lama permintaan makin kencang, “Kalian naik, tinggalin aja aku di batu.” Yang lain terus menyemangati untuk terus berjalan. Akhirnya jalan lagi, tapi berapa langkah bilang lagi, “Tinggalin aja tuh aku di batu situ… pusing, ngantuk” Ah, mungkin ini kedinginan, sampai sebagian peralatan kami seperti jaket dan kupluk disumbangkan. Akhirnya kami jalan lagi, eh, beberapa langkah lagi bilang, “Batu tuh… udah di situ aja.”

Hingga akhirnya saya juga hampir kurang sabar, “Apaan sih berhenti-berhenti… naek bareng-bareng. Kalau mau berhenti, ga usah naek semua lah, Eh masih dibales, “Ya udah turun semua…” “Heuuumfh, ya udah, turun deh, tapi sambil balik badan…” Ga lucu sih, tapi ya mau bilang apalagi. Yang ngeliat waktu itu seinget saya sih ada 2 orang, pada diem aja lagi, bukannya bantuin ngomong apa ke’🙂

Akhirnya sepasang trekking pole menjadi alat bantu narik becak tradisional untuk maksa “batu” naik, heusssh ting nong… itu juga beberapa kali saya kena pecut. Karena saya pegang tracking pool, akhirnya ransel yang berisi peralatan dapur saya pindahkan punggungkan ke kawan yang lain, terima kasih untuk telah berbagi beban. Ada seorang lagi yang heboh. Dia walaupun naik terus, sambil bilang, “Satu! Dua! Satu Dua!” Berhenti sejenak, begitu lagi, “Satu! Dua! Satu! Dua!” Sampai pendaki lain konon memperhatikannya. Yang lain tetap berusaha cool dong :) (semua nama disamarkan biar ga ketauan).

Keseruan itu menghabiskan waktu matahari terbit, kami pun berhenti shalat tepat sebelum tanjakan terakhir sebelum puncak dengan posisi duduk karena jalur menanjak. Sepuluh menit dari situ akhirnya kami menjejak Puncak Rinjani, 3726 meter di atas permukaan laut. Enam setengah jam perjalanan, Bro, Sist! Alhamdulillah kami semua sampai.

Sambil menunggu studio foto di puncak, karena areanya yang sempit jadi harus bergantian, kami tidur-tiduran di jalur sambil gelar kompor dan masak aer. Popmie dan teh hangat siap diseduh. Hanya rombongan kami yang melakukannya :p ditambah bonus aer kelapa… Jeuuussss kerasa ngalir di kerongkongan…

Begitulah kawan, perjuangan kami sampai ke puncak. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang menyesal juga saya kira kalau sudah sampai puncak. Dari puncak kami memerhatikan ke bawah, Fajar yang sudah pernah ke sini juga (tapi ga lewat Torean) menunjukkan area yang biasanya bikin orang balik kanan, grak… Kami nyatanya berhasil melaluinya. Terharu…