Rinjani (Tamat): Pulang dengan Sejuta Kenangan

by Fadhli

Sekitar pukul 9 kami turun dari Puncak. Kali ini lebih enak karena turun, perbandingan waktu bisa setengahnya saja dari naik. Tapi panas masih terus menyengat. Saat kami turun, masih pula berpapasan dengan mereka yang berjuang mendaki. Kalau ga ingat bagaimana susahnya kami sendiri waktu naik, pengen ketawa sambil bilang, “Pada mau ke mana siih? Capek, capek… Yuk ah turun aja, ngopi” Hha. Salah satu di antara mereka adalah pasangan yang anaknya turut digendong dengan bantuan porter. Entah, mungkin ada hajat apa ke puncak. Kasihan sih sebenarnya.

Eko paling depan karena bertugas mengambil air di mata air dekat Pelawangan Sembalun. Saya bertemu dengannya di sumber mata air itu kemudian, dan sempat mandi koboy di situ, untuk sekedar membasuh rambut yang sudah lepek dari kemarin, dan menyegarkan badan. Eko kembali ke tenda duluan. Saya bertemu kembali dengan pasukan lain yang baru tiba dekat percabangan ke sumber air. Kami kembali ke tenda di tengah hari.

Sampai di tenda, ada tenda lain yang sudah berdiri mepet-mepet, dan ada sekelompok pendaki bule yang meneduh. Diih mepet-mepet. Tapi masih ada ruang untuk gelar alas makan dan sholat di samping tenda. Oh iya, kaus saya yang digantung di pohon sebelum berangkat muncak juga sudah tiada. Ah, mungkin kerjaan monyet jahil. Kaus itu juga yang bersama saya khatam Semeru padahal. Ikhlaskan.

Eh, tapi si Eko yang harusnya udah sampai duluan mana? Dia ga keliatan batang hidungnya. Kami berasumsi bahwa area tenda kami tersamarkan dengan perubahan adanya tenda-tenda lain, paling dia lanjut terus ke bawah. Biarin, udah gede, ntar juga kalo nyadar balik sendiri koq. Hahaha. Bener akhirnya dia kembali. Jadilah cengan untuk dia sesuai namanya, “E ko’ nyasaaaar??!” Usut punya usut dia nyampe ke ujung area Pelawangan Sembalun sebelum jalur turun. Lumayan, Ko…🙂

Kami pun putuskan untuk turun paling lambat jam 3 sore setelah sholat dan makan. Sambil menunggu makanan jadi, sebagian dari kami tidur. Menjelang sore ini udara kadang dingin saat awan datang, kadang panas saat awan hilang. Dari tenda kami, jalur tipis menuju puncak terlihat jelas. Saya suka nunjuk-nunjuk ke sana, “Noh, noh… ngelecehin kita noh puncak” Kalau Moa bilangnya, “Dasar gunung PA!” yang bikin hampir desperado para pendakinya.

Hari makin sore, kami belum juga berkemas hingga Moa didatangi bule yang ikut “prihatin” kenapa ga cepet turun, karena kalau gelap akan susah. Akhirnya kami semua berkemas kembali. Mau langsung ngejoss sampe Sembalun Lawang alias kembali ke peradaban. Sekitar 3.30 kami meninggalkan Pelawangan Sembalun, walaupun Rinjani dengan puncaknya masih mengiringi menjadi pemandangan kami selama turun. Dadaaah PA…🙂

Perjalanan awalnya enak, selain karena menurun terus, juga teduh. Namun sampai matahari terbenam, angin kembali menerpa. Gelap merebak. Ditambah jalur yang licin. Beberapa kali Eko, yang mungkin hak sepatunya dadas akibat pasir puncak, terpeleset. Saya sendiri menggunakan sendal jepit, sepatu yang saya kresekin tertinggal saat sempat break tadi dan malas naik kembali untuk ambil. Mendekati jam 7-8 malam saya sudah sering menguap. Beberapa kali terduduk dulu di belakang. Itu menganggu. Saya minta berhenti tidur sebentar di Pos 3. Memang nampaknya tidak lazim ada yang melakukan perjalanan malam di gunung ini.

Tiba di Pos 3, tadinya pengen tidur. Tapi et daaaah dinginnya setengah hidup. Di situ ada shelter, tapi alasnya besi pula. Brrrr… Kami coba mengasapi diri dengan bikin api unggun. Tapi selalu padam. Karena selain bahan bakarnya lembab, angin juga kencang *padahal emang pemula… hha. Petugas dapur pun akhirnya masak. Jahe dan teh menjadi penghangat walaupun ga bertahan lama. Setelah makan, kami malah tambah ngantuk. Jadilah bertumpuk di shelter itu. Mau gelar tenda tapi badan sudah capek, akhirnya ada yang inisiatif membuka fly sheet  sebagai selimut. Posisi udah kayak lagu Peterpan, “Kepala di kaki, kaki di kepala” soalnya berkali-kali terbangun, kepala saya dijejek sama kaki ga tau siapa. Ga apa-apa yang penting anget.

Beberapa kali kami terbangun. “Yuuk jalan…” “Ntar ah masih ngantuk” Itu sekitar jam 12. Sejam kemudian “Yuuk jalan…” “Ntar lah sejam lagi” Sejam kemudian, “Yuuk jalan…” “Belom sholat, sholat dulu…” Akhirnya sholat. Abis itu “Yuuk jalan…” “Ntar lah setengah jam lagi” Hha, dikit-dikit ntar, dikit-dikit ntar, ntar koq dikit-dikit. Dengan terpaksa kami pun memaksakan untuk berdiri sekitar pukul 2.30 dini hari. Kembali membelah jalur. Kali ini beriringan dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

Sampai di Pos 2, kami mengisi air kembali. Di sini Moa berpisah, bilang mau duluan sendiri, selain karena sumber mata air ga terlalu deras jadi agak lama ngisinya, dia mengaku lututnya udah mau copot. Ya udah, yang jagoan di depan🙂

Perjalanan aman sampai di Pos 1, matahari mulai terbit. Kami, kecuali Moa yang ga tau udah di mana, menyempatkan break shubuh di shelter Pos 1. Habis itu masih sempat foto-foto juga.

Dari sini kami terus beriringan, hingga tibanya percabangan, ada yang lurus ada yang ke kiri. Kami putuskan untuk ambil kiri, karena setelah bertanya kepada seseorang yang ada di situ, dia ternyata bertemu Moa dan mengarahkan lewat situ juga.

Sekitar satu hingga satu setengah jam dari situ, kami melewati hutan, sebrangi sungai beberapa kali yang tinggal bebatuannya, juga ladang-ladang warga hingga akhirnya sampai di jalan raya. Alhamdulillaaah seneng banget rasanya. Saya langsung becandain Ardi sama Fajar, “Gimana kabarnya??!” sambil mau pencet betis atau pahanya. Hahaha… semua langsung pada mengelak, “Becandanya jangan gitu ah… masih pedih” Haha.

Eh, tapi Moa ke mana Moa? Harusnya dia sudah tiba duluan dong dari tadi. Saya nyalakan hape, Lila juga dapet pesan dari Moa, “Moa nyasar tadi, sekarang lagi minta tolong dianterin orang yang ketemu di hutanMasya Allah, hha… tragis banget. Untung ga diculik. Selidik punya selidik, ternyata dia bukannya nyebrangin jalur sungai mati, malah ngikutin itu badan sungai. Mungkin ada kali nunggu Moa satu jam-an.

Pagi, sekitar pukul 08.00, tanggal 18 Mei kami selesaikan pendakian ini. Dari situ kami masih sempat bersama-sama makan ke Rumah Makan Ayam Taliwang terkenal di Kota, lanjut main sebentar ke Desa Sasak Sade dan Pantai Kuta diantar Pak Supir Haji Ali Akbar yang dahulu mengantar kami ke Torean. Selepasnya, masing-masing punya agenda. Fajar dan Moa langsung pulang dengan pesawat ke Jakarta. Saya dan Ardi kembali nyebrang ke Bali untuk terbang esok paginya. Abis itu Ardi ke Jogja, baru lanjut naek kereta ke Jakarta, saya langsung pesawat Bandung. Eko dan Lassie pulang esok sore dari Lombok ke Jakarta, sementara Lila juga esok sore tapi lanjut ke Makassar.

Yah, pokoknya itulah akhir dari pendakian kami. Pembaca kira saya akan menuliskan apa saja kenangan itu? Hha… Maaf, boleh kan kalo ga?

Masih banyak mungkin kisah yang tidak terceritakan di tulisan ini. Selengkap apapun tulisan tidak akan bisa mnejelaskan semuanya, selain mereka yang langsung mengalaminya. Inilah perjalanan kami menuju Torean, dengan sejuta kisah dan kenangan. Semoga Tuhan mengabadikannya bagi kami sebagai catatan kebaikan dan pelajaran kehidupan serta mengampuni semua kesalahan kami dalam perjalanan.

Buat yang belum, ayo jalan! Lewat Torean! Yang njot-njotan!

Tamat… *sambil mau mewek, biar kayak terharu🙂