Nenek Tangguh dan Kakek Penyabar

by Fadhli

Dalam penerbangan ke Amsterdam dari Singapura semalam, saya duduk di sebelah pasangan nenek dan kakek yang akan berlibur ke beberapa negara Eropa. Saya persis di dekat jendela pesawat.

Awalnya kami tidak saling sapa selama perjalanan. Saya sendiri enggan menegur karena khawatir beda kultur, nanti dianggap over-acting. Hingga makan malam yang disediakan maskapai selesai, saya melihat sang nenek yang duduk persis di sebelah saya dengan lahap memakan dua biskuit dioles keju yang terdapat dalam menu sebagai penutup makan besar. Saya saat itu sudah kenyang, dan ini kesempatan saya mengajak bicara, “If you want to take more, you can take this…” sambil menunjuk biskuit saya yang masih utuh. Tapi beliau menolak dan mengatakan cukup juga. Hingga akhirnya sesi makan malam selesai, tanpa obrolan lanjutan dan kami segera tidur masing-masing.

Saat bangun, fajar sudah mulai terlihat menyingsing di luar jendela. Kami sarapan. Belum ada lagi pembicaraan. Tapi dari semalam saya sering memperhatikan pasangan ini. Sang nenek lah yang menjelaskan isi daftar menu kepada kakek, membukakan plastik biskuit sang kakek, ia pula yang membukakan tutup keju bagi sang kakek, walaupun pada beberapa hal terlihat seperti “mengatur” pasangannya itu ketika mengambil koper, membuka tempat penyimpanan tas di bagian atas kabin. Sang kakek pun tidak banyak bicara dibandingkan sang nenek.

Hingga sarapan selesai disantap, kemudian sang nenek curi-curi pandang ke jendela. Saya tersenyum kepadanya, “It’s nice ya?” kata saya. “Yeah. Is it sea over there or what? Cloud?” tanyanya memastikan apa yang dilihatnya. Saya jawab, “That’s cloud.” Barulah dari sini pembicaraan agak panjang dimulai. Logatnya yang khas karena mereka berasal dari Australia membuat saya berusaha lebih dalam mencerna, tetapi pembicaraan mengalir. Mulai dari keluarga besar beliau yang terdiri dari anak-anak dan cucunya, tentang Australia, tentang Indonesia, sedikit bertanya tentang agama, “This is good, you are Muslim and I am Christian, we sit in a row here,” hingga pada pertanyaan tujuan saya terbang ke Amsterdam.

Seperti biasa, sang kakek tidak banyak nimbrung. Hingga saya dikenalkan padanya oleh sang nenek. Barulah dia bertanya tentang hobi yang saya jawab dengan bermain bola, walaupun saya kurang tahu apa yang dimaksudnya football atau soccer. Hehe.

Dalam diskusi saya dengan sang nenek, si kakek lebih banyak mendengar. Hingga cara meralatnya yang saya lihat dia sebagai sosok penyabar. Begitu selesai satu bahasan kami tentang lingkungan di Australia saya lupa kayaknya tentang salju, barulah si kakek angkat bicara meralat penjelasan si nenek, tidak memotongnya di tengah pembicaraan. Kami pun bergantian mendengarnya. Hingga si nenek kembali angkat bicara “Really? I did not know that, so we just listen, because he was teacher” Hahaha, senyum saya dalam hati, “Dih ga mau kalah gitu si nenek kayaknya dari cara jawabnya.

Pembicaraan kami pun selesai saat pesawat mendarat. Sang nenek menutup, “Ok, you enjoy your study, hope your big name then, changes the world…

Thank you very much, Madam and Sir, nice to meet you. Dan langgeng lah selalu🙂