Memoar Perjalanan Den Haag (1) – Meniti Jalan

by Fadhli

Saya sama sekali tidak pernah membayangkan akan tiba di kota yang sampai saat dua pekan kedatangan ini masih begitu mengesankan karena ketentraman dan keteraturannya. Jika mengingat ke belakang, justru ini hadir setelah saya memutuskan untuk “berputus asa” melanjutkan sekolah ke tingkat magister di luar negeri. Hingga buku-buku yang menawarkan mimpi ke luar negeri seperti karya-karya Andrea Hirata telah saya “campakkan” semangatnya dan saya picingkan mata bila melihat judul-judul sejenisnya. Hingga saya sudah bercanda dengan kawan yang “senasib” untuk membuat buku antitesis buku-buku yang bercerita tentang kesuksesan ke luar negeri, “Kisah Sukses Gagal ke Luar Negeri.” Hahaha

Sejak dari 2011 saya sudah mencoba melamar ke berbagai beasiswa dan universitas di luar negeri. Dengan bekal nilai indeks prestasi dan Bahasa Inggris (TOEFL) yang tidak terlalu besar, saya memberanikan diri untuk itu. Saya agak cukup percaya diri karena bekerja di salah satu badan internasional di Jakarta kala itu, dan rekomendasi kerap diberikan oleh pimpinan di tingkat Indonesia-nya. Namun setidaknya yang saya hitung sudah lebih dari 7 kali melamar, tidak ada yang tembus. Rekomendasi juga sering saya minta dari dosen di kampus tempat saya mendapat gelar sarjana. Bolak-balik ke salah satu ruangan kampus itu dan sempat membuat merah muka karena ada dosen yang nyeletuk, “Kirain kamu sudah di Belanda.” Padahal saya sama sekali tidak pernah memberitahukan tujuan negara saya saat itu, dan Belanda juga tidak termasuk di dalamnya.

Pernah sekali waktu saya pulang dari kerja yang sifatnya masih magang, malam hari, mencari kantor pengiriman paket untuk mengirimkan formulir pendaftaran program konsorsium master di Eropa dalam bentuk hardcopy. Harga pengirimannya saja sepertiga dari bayaran saya sebulan magang. Atau saya pernah benar-benar mengikat kepala dengan kain di kamar kostan untuk menghabiskan lima set latihan TOEFL secara mandiri.

Saya yakin di luar sana masih banyak kawan yang lebih dramatis perjuangannya untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi dan di luar negeri. Tapi hingga di satu titik, salah satu jargon saya, “Pejuang Ga Boleh Cengeng!” seperti terlupakan dan dimaklumkan sebagai ganti strategi. Pemaklumannya seperti ini, “Okelah saya belum sanggup untuk mencapai master di luar negeri, tetapi waktu terus berlalu, maka alternatif lain harus diambil. Masih bisa kesempatan untuk doktor nanti. Sekarang saya akan cari sekolah dalam negeri saja.

Pemakluman itu juga membuat nasihat dari kawan yang baik hati seakan tidak mempan, ketika dalam salah satu ruang obrol di media sosial saya diingatkan, “Tentu saja kamu pasti bisa, jika dalam mendaki gunung bisa memaksa diri untuk mencapai puncak, maka dalam hal lain seharusnya juga bisa.” “Push the limit” mantra sudah tiada lagi saat itu, berbeda dengan hobi saya yang belakangan muncul, naik gunung dengan hampir selalu membawa beban berat.

Tetapi kegagalan berkali-kali itu memang akhirnya saya bawa bercanda saja, walaupun adakalanya datang sedih juga. Nyadar diri saja kalau Bahasa Inggris ga terlalu bagus dan IPK ga gede-gede amat. Kalau candaan yang lagi ngetren sekarang, “Da aku mah apa atuh, cuma debu-debu yang terbang katebak angin oge :D”

Saya melamar sekolah master di dalam negeri sembari melakukan perjalanan-perjalanan selepas memutuskan berhenti bekerja . Saat itu Maret 2013 saya berhenti dengan farewell yang mengesankan karena mendapat hadiah tablet dan dihadiri Regional Director dari Bangkok dan email perpisahan saya dibalas oleh Country Coordinator:

Dear Zul, You have made important contributions to our work and I want to thank you once again. Don’t hesitate to let me know if you need a reference for your application to graduate school. Take care and all the best in your future undertakings

Intermezzo — sebelum berangkat ke Belanda kemarin saya juga sempat kirim email ke kolega di kantor lama tersebut, balasan dari beliau lagi

Dear Zul, Congratulations on your success in winning a scholarship! We are happy to know that your time with us was useful but we also benefited greatly from your considerable skills and from your hardwork. I wish you success in your further studies at Erasmus and do keep in touch. All the best.

Selanjutnya saya melakukan perjalanan-perjalanan bersama kawan mulai dari Pulau Sempu di Malang, lanjut Taman Nasional Baluran di Situbondo, mendaki Gunung Rakutak di Bandung, Gunung Semeru di Malang, dan Gunung Cikuray di Garut. Perjalanan yang hampir selalu menyenangkan untuk menunggu pengumuman kelulusan program master dalam negeri yang saya lamar. Ceritanya sebagian besar sudah saya tulis dan atau dokumentasikan juga di laman ini.

Singkat cerita, saya diterima oleh dua perguruan tinggi dalam negeri. Dan akhirnya saya putuskan melanjutkan di kampus yang menawarkan program double-degree dengan kampus di Belanda yang sekarang sedang saya jalani, yaitu di Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Padjadjaran. Dianggap agak pindah jalur dari studi kesehatan masyarakat, kerap saya ditanya, “Lho koq sekarang ambil lingkungan? Nyambungnya di mana?” Saya jika sedang enggan menjelaskan menjawab, “Ya diterimanya di situ.” Selesai perkara. Hhe.

Perkuliahan pun saya jalani, diselingi mencari penghasilan tambahan menjadi jurnalis warga untuk salah satu stasiun televisi. Tidak terasa dari September 2013 hingga Februari 2014 sudah terlalui. Kawan-kawan yang berniat mengambil program double-degree saat itu sudah mempersiapkan nilai IELTS-nya. Saya masih gamang. Akhirnya saya putuskan turut serta mengambil tes IELTS, namun di waktu yang sudah mepet dengan seleksi, bersama dua orang rekan lain. Itupun motivasinya untuk mendapatkan cashback biaya tes dari kampus yang dua koma sekian juta jika berhasil menembus angka minimal 6,5. Hasil tesnya bisa dipakai kapan-kapan selama masih dalam jangka dua tahun, begitulah pikiran saya.

Dua minggu berselang, pengumuman IELTS pun saya dapatkan. Cukup tercengang dengan hasilnya yang membuat saya bangga dan kadang jumawa. Padahal saya terkadang masuk kelas pun telat, dan sehari sebelum tes saya tidak begitu belajar ekstra, malah jalan-jalan keliling kota mengantar saudara yang sedang singgah. Saat mengikuti kelas terakhir dari kursus IELTS 30 jam, yang juga dibayari kampus, saya bertanya kepada guru yang native speaker apakah mungkin kami bisa mencapai nilai 6,5. Dia saat itu menjawab, “To be frank, I do not think so. I think you need more rather than just this basic course.” Alhamdulillah, ternyata saya dan seorang kawan lain melampauinya.

Saya menyerahkan hasil kopi tes ke kampus untuk mendapatkan cashback biaya tes. Saat itu Sekretariat Akademik menanyakan, “Jadi kamu mau ke mana? Twente atau ISS?” pilihan universitas yang sudah bekerja sama di Belanda. Saya justru balik bertanya, “Itu harus kah? Apakah akan memperpanjang masa studi saya?” Agak heran dengan pertanyaan saya, pihak kampus menyarankan saya berpikir-pikir setelah menjelaskan bahwa masa studi tetap bisa ditempuh dalam 2 tahun jikapun mengambil.

Dalam kebingungan, pilihan datang juga namun di saat yang kurang dramatis saya kira kalau misalkan mau dibuat film. Masa’ lagi merenung di (maaf) toilet saudara-saudari sekalian. Di situ saya memikirkan sekiranya saya berada di Negeri Kincir Angin dengan suasana yang relatif lebih tenang dibanding saat ini. Selain itu, ini adalah kesempatan di depan mata. Coba saja, toh mencoba daftar juga belum tentu diterima lagi… hhee… kepesimisan masih tersisa.

Maka saya membuat pilihan dan segera melengkapi berkas. Saya ingat tanggal 24 Maret 2014 mendaftar berkas secara online. Dua hingga tiga minggu berita tidak kunjung datang, sementara kawan-kawan lain paling lama dua pekan sudah tiba pengumumannya. Saya kembali menghibur diri, “Ya nggak apa-apalah ga diterima juga, ini kan nothing to lose…”

Hingga akademik kembali mengumpulkan kami yang mendaftar program double-degree ini untuk briefing progres dan saya bertanya tentang kabar aplikasi saya. “Euleuh, euleuh, kamu mah bukannya nanya, ini suratnya udah ada dari kapan…” jawaban dari Ibu Sekretariat Akademik. Saya liat tanggal surat penerimaannya, hanya 3 hari berselang setelah saya kirim aplikasi, 27 Maret 2014. Miskomunikasi terjadi karena saya tidak bertanya, mengingat pengalaman kawan yang mendapat jawabannya melalui email, tidak dalam surat asli yang saya terima. Yang dialamatkan ke rumah saya justru baru tiba di bulan Juni kemarin.

Penerimaan itu bukanlah akhir, justru awal dari perjuangan lain untuk mendapatkan beasiswa. Dalam program tersebut yang akan dibiayai kampus hanya satu orang, sementara ada empat orang yang “bersaing” mendapatkannya. Saya sendiri memutuskan jika tidak mendapat sponsor dari eksternal, saya tidak akan mengambil jatah dari kampus (pede banget kayak kampus udah pasti ngasih aja, hhee). Dari empat orang itu, seorang kemudian diterima oleh beasiswa dari pemerintah Belanda. Sekarang tinggal 3 banding 1.

Saya mencoba beasiswa LPDP, yang dikelola oleh salah satu Kementerian. Tahap seleksi berkas saya lulus. Diikuti juga dengan wawancara dan focus group discussion yang menyatakan saya berhak menerima beasiswa tersebut. Akhirnya pada tengah Agustus kemarin saya menyelesaikan pembekalan yang diadakan beasiswa tersebut sebelum terbang ke kampus tujuan saya di International Institute of Social Studies di Den Haag (The Hague) yang sejak 2009 merupakan bagian dari Erasmus University Rotterdam.

Dengan menerima beasiswa tersebut saya mengucapkan banyak kesyukuran. Pertama, karena dengan beasiswa eksternal jatah beasiswa kampus bisa dialokasikan untuk lebih banyak orang berangkat. Kedua, terjawab sudah penasaran saya yang “da aku mah apa atuh” untuk sekedar lolos diterima perguruan tinggi di luar negeri dan dengan itu saya akan mencoba banyak pembelajaran dan pengalaman baru.

Dan sekarang, saya sudah tiba di negara tujuan. Ada perasaan “beban” yang saya tanggung di pundak, dalam asosiasi positif. Kepada kampus asal dan sponsor sudah pasti, dan selain itu juga kepada para sobat yang candaannya selalu menghibur di saat kepahitan (naon atuh pahiiit??! :D) dan atau kegamangan. Doa-doa dari banyak orang, orang tua, atau siapapun yang tidak saya sadari . Maka selanjutnya adalah menambah kesyukuran di atas kesyukuran yang sudah ada. Sekali lagi, penerimaan ini justru menjadi awal perjuangan, karena harus diakhiri dengan kelulusan yang baik.

Dulu, jauh sebelum ada niatan ke Belanda dan di masa masih semangat membaca buku yang menawarkan perjalanan dan studi indah di luar negeri, saya membaca buku Negeri Van Oranje yang ditulis oleh empat orang Indonesia yang berpengalaman hidup di Belanda. Namun buku itu tidak selesai, seingat saya karena dipinjam seorang kawan dan belum kembali. Hingga kemudian sebulan lalu para calon mahasiswa dari Indonesia yang akan berangkat ke Belanda diundang oleh Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta untuk menghadiri semacam sesi pelepasan sebelum keberangkatan kami. Saya turut hadir. Dan, salah satu yang dibagikan kepada kami saat itu adalah buku Negeri Van Oranje yang sama, namun beda cetakan sampul. Saya kemudian berfoto bersama dengan penulisnya setelah bukunya juga dibubuhi tanda-tangan mereka.

Pulang ke rumah, buku itu belum sempat saya habiskan lagi dan sampai saat saya sudah tiba di sini bukunya pun tidak saya bawa.

Saya berharap, dan mohon doanya, agar saya sendiri yang akan menjalani dan menghabiskan lembar-lembar pengalaman hidup selanjutnya di sini dengan baik setidaknya setahun ke depan… insya Allah…

Life is a succession of lessons which must be lived to be understood.” -Ralph Waldo Emerson