Menerjang Angin Den Haag di Hari Raya Adha

by Fadhli

Pertama kalinya Lebaran Idul Adha di negeri seberang (buat saya), kami memutuskan sholat di Masjid Indonesia, Al-Hikmah Den Haag. Berangkat pagi-pagi menggunakan baju koko putih lengan panjang yang relatif tipis, saya sudah ditanya kawan-kawan mengapa tidak menggunakan jaket. Namun berhubung saya kira tidak akan keluar hingga malam tiba, saya agak santai-santai saja, latihan aklimatisasi lah… hhee #gaya.

Sampai di lokasi ibadah saya agak terharu karena nemu takbiran. Khutbah pun dihantarkan dalam Bahasa Indonesia. Sehabis sholat, masih rame-rame sama kawan kampus yang “brutal” ngantri lontong opor, sampe ada yang nambah, juga #kelakuan bungkus-bungkus kue-kue yang dibagikan. Seneng banget.

Habis itu hampir sepanjang siang hingga sore ketemu banyak kawan yang datang ke Den Haag, ada dari Amsterdam, Wageningen, Leiden, Delft, Enschede, Leeuwarden. Sebagian di antaranya bertemu di sebuah acara yang dilaksanakan oleh PPI Belanda setelah Sholat Id. Dari masjid, saya langsung ke lokasi acara itu tanpa ganti baju dulu, ya itu dia si baju koko putih.

Rombongan kawan terakhir yang kami temani ngobrol di lokasi acara adalah dari Leeuwarden, kebetulan hampir semua berasal dari kampus yang sama di Bandung, Universitas Padjadjaran. Kira-kira saat itu pukul 19.30. Karena waktu makin larut, kami memutuskan untuk pulang dari tempat acara.

Baru saja akan mengeluarkan sepeda, hujan mengguyur. Oh ya, rombongan Leeuwarden ini juga rombongan gowes, yang sepedanya mereka angkut ke kereta Leeuwarden – Den Haag. Maka kami menunggu hujan reda. Sekitar jam 20.00 hujan sudah mulai reda, kami pun memasang posisi siap gowes ke arah Den Haag Central. Ngeeeeeng…

Baru berjalan sekitar 10 menit, hujan kembali mengguyur, anginnya tidak kalah galak. Halte bis pun menjadi tempat kami berteduh. Sumpah, ini dingin di ujung jari mulai menjalar, mau beku… Tas kecil merah yang saya selempangkan di bahu langsung saya buka, di dalamnya ada sejadah dan langsung saya lilitkan di ujung tangan sambil tetap dimasukkan ke dalam tas. Lumayan. Walaupun telinga dan leher masih dihembus-hembus angin yang membuat payung yang dipakai orang yang melintas di hadapan kami pun penyok-penyok, atau ranting-ranting pohon berbelok mengikuti arah hujannya, dan sepeda kami yang terparkir di samping halte tumbang beberapa kali. Kehangatan masih dibuat dengan candaan dari kami, lebih dari 15 menit mungkin kami berhenti di halte bus.

Merasa hujan agak mereda, kami nekat kembali menerjang. Memang mungkin hujannya kecil, tetapi anginnya beeeuh!! Di salah satu belokan, angin membuat kami sulit untuk membelokkan stang sepeda, dan jika tidak kuat menahan keseimbangan mungkin bisa goyah ke arah lain. Angin bisa “menyelengkat” sepeda kami, kata seorang kawan. Dengan basah kuyup kami kembali masuk ke lobi salah satu rumah susun.

Beberapa kali mencoba keluar lobi, ternyata hujan dan angin masih terasa. Setelah sekitar 10-15 menit lagi kami berteduh, kawan-kawan memutuskan kembali menerjang. Saya juga sudah bersiap mengambil kemudi sepeda, tapi aaah, gilaak! anginnya sampai ke tulang, menggigil, mana baju koko sudah basah dan menembus hingga kaos dalam. Saya langsung memikirkan bahaya hipotermia. Ini mengingatkan seperti di jalur Sembalun, Pos 3 Bayangan saat malam hari #lebaay!😀. Saya kembali masuk ke dalam lobi rumah susun tersebut ditemani Presidium PPI Kota Den Haag, Kaka Uthar.

Tiidak ingin ketinggalan jauh dan kebetulan hujan mulai mereda, saya dan Uthar kembali menggowes sepeda sekitar 5 menit kemudian. Sebelum gowes lagi, sejadah saya keluarkan dari tas pinggang, saya tutup kepala dan lilit kedua ujungnya di leher. Kami berhasil menyusul rombongan depan. Tidak melihat gelagat angin yang mengecil, kami memutuskan ubah haluan dari Den Haag Central ke Holland Spoor (HS) saja, untuk mengantar kawan-kawan Leeuwarden naik kereta dari situ saja. Setelah salam perpisahan, saya bersama Ketua dan Presidium PPI Kota Den Haag, Heru dan Uthar kembali melaju ke arah asrama.

Saya ambil posisi paling belakang, dengan harapan tidak terlalu terhempas angin karena terhalang dua orang di depan. Baru keluar dari area HS, ada Reza, Raymon dan Rio memanggil dari area tempat parkir sepeda, kami cuma sahut-sahutan, “Dingiiin euy, dingiiin, lanjuuutt!” Yang kami ketahui kemudian, mereka bertiga akhirnya menyimpan sepeda di HS dan pulang menggunakan angkutan umum.

Yang saya pikirkan setelah itu, bagaimana secepat-cepatnya sampai asrama. Selama gowes saya tarik dan hembuskan napas kuat-kuat, agar badan tidak menggigil. Masuk ke area China Town dan Centrum yang sepi, kami sprint dan sempat berteriak sekedar menghilangkan dingin dan menjauhkan frustasi. Harapan akhirnya tercapai setelah sampai di ujung jalan yang seberangnya adalah kampus dan asrama kami.

Sekitar pukul 21.30 langsung saya masukkan sepeda ke tempat parkir asrama, dan mandi dengan air panas, dan sungguh walaupun suhunya disetting tinggi, tapi air tidak terasa panas di ujung tangan dan kaki. Setelahnya langsung saya siram tenggorokan dengan T*lak Ang*n. Beruntung grup makan saya masih berkumpul, dan ada makanan opor ayam dan dibuatkan teh manis panas oleh kawan-kawan yang baik hati. Alhamdulillah, selamat walaupun sekarang mulai merasa remuk-remuk di badan.

Pelajaran: mari mulai siapkan jaket, syal, sarung tangan, payung…