Tentang Sang Kapten

by Fadhli

Timnya bergembira, 7 November 2014. Bagi dia mungkin baru dua tahun menunggu kemenangan sejak bergabung dengan timnya itu. Tapi dia adalah bagian dari yang mempersembahkan tropi itu untuk lautan biru masyarakat yang menantikannya selama 19 tahun. Saat kemenangan didapatkan, ban merah — tanda kapten kesebelasan sepak bola — masih melekat di tangannya. Dia bermain prima hingga tuntas melalui perpanjangan waktu dan menyaksikan jalannya adu pinalti.

Saat mengantri pembagian medali untuk pemain dan anggota tim, dia yang membawa anaknya tertangkap kamera bersuara, “Biar saya nanti belakangan, saya belakangan…” dan membiarkan dirinya menjadi yang terakhir dikalungkan medali setelah memastikan semua rekan-rekannya juga telah mendapatkannya.

Kisah singkat namun bagi saya epik juga berlanjut. Saat tropi akan diberikan kepada kapten sebelum berhak dipegang oleh semua anggota tim, dia — yang kelahiran dari Manado — mengeluarkan ban merah dari lengannya. Kemudian dia meregangkan kembali ban merah itu dan memasukkannya ke lengan rekannya yang kelahiran Bandung dan lahir dari akademisi pelatihan klubnya itu.

Piala pun diserahkan kepada kapten baru itu, lalu dipegang dan diangkat oleh mereka berdua, sebelum akhirnya disentuh seluruh tim dan diarak untuk victory lap. Mereka semua berlari mengarak tropi keliling lapangan, muka (mantan) sang kapten berkaca-kaca.

You are the truly captain for Persib, Bung Firman Utina!