Ngewarkop di Sini

by Fadhli

Tadi siang saya melihat-lihat linimasa di Facebook, ada seorang staf fakultas di mana saya menempuh sarjana dulu yang mengisi statusnya dengan makan gorengan. Saya mengomentarinya sembari kepengen, karena jarang sekali menemukan hal yang sedemikian. Sebenarnya saat arisan pekan kemarin menemukan sih, dapat bakwan dan risoles gitu, tapi ya namanya kepengen kan bisa datang kapan saja.

Ndilalah, sebelum Jumatan saat sedang nongkrong-nongkrong di Wartuk (Warung Turki, sebutan kami agar menyerupai warteg) seorang kawan mengajak menggoreng pisang setelah kelas sore hari. Wah, saya langsung menyambut sekaligus menyatakan kesiapan membawa beberapa bahan yang saya punya.

Setelah kuliah, pas waktu hujan. Kami pun bergegas ke asrama, saya ambil minyak goreng dari kamar, sekalian deh sama tempe, wortel, bawang putih, buat bahan gorengan yang lain. Lebih sedep biar ala-ala warkop saya bawa kopi Toraja yang masih tersisa, dengan krimer bubuknya. Kami pun siap “menduduki” dapur lorong di mana kawan saya tinggal, yang letaknya di seberang asrama saya.

Division of labor terjadi dengan spontan. Saya bisanya ngiris-ngiris wortel, bawang daun, nuang garem, dan nuang terigu sebagai bahan gorengan. Yang ngadon dan goreng kawan kami. Kawan yang tuan rumah menyeduh kopi di mesin pembuat kopinya.

Beuuuh, suasana dingin hujan angin badai (*lebay) menjadi tidak terasa karena ngunyah, nyeruput, dan nyap-nyap tiada henti. Gorengan tempe, bakwan (walaupun ga pake kol, hanya wortel dan bawang daun), pisang goreng. Tidak lupa saus sambal dan cabe rawit. Semua hasil tangan bapak-bapak lho. Tambah kopi Toraja panas campur krimer.

Suasana semakin ramai saat dua kawan wanita juga datang membawa bahan tambahan, kentang goreng. Satu orang Italia dan dua orang Vietnam juga datang. Bule-bule itu agak kaget melihat semua masakan kami digoreng, bahkan saat kawan saya sedang mengadon bahan bakwan, mereka bercanda, “Even salad is fried by Indonesian, haaah??” Kolestorel itu nikmat, friend! Buktinya mereka juga ngambil teruuus…😀

Dan saat tempe-tempe terakhir selesai digoreng, tanpa kami rencanakan sebelumnya, cowok Italiano mengeluarkan pasta ditalini, meminta bawang putih, bawang merah, cabai, garam, vinegar, mengeluarkan sarden tuna, bumbu pastanya yang semuanya dia bawa dari Italia. Dan menjadi makanan utama kami malam ini. Waaah, alhamdulillah banget deh pokoknya kenyangnya dan rasanya bisa ngewarkop. Salah satu kesimpulan pembicaraan informal kami, nampaknya agenda ini akan digilir di tempat kawan yang lain seandainya rindu “jajanan” lainnya semacam bubur kacang ijo dan ketan item mungkin… apalagi bentar lagi musim dingin. Brrrrr…. maaak makan maaak!😀

ngewarkop