Membiasakan yang Berat jadi Ringan

by Fadhli

Presentasi kelompok untuk matakuliah jurusan kami pertama kalinya dilaksanakan kemarin. Selama saya sekolah dari tingkat sarjana, mungkin baru kali ini mengalami metode presentasi yang seperti ini.

Anggota kelas (kami menyebutnya villagers) dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing terdiri tidak lebih dari empat orang. Setiap dua kelompok mendapat satu topik yang sama. Jadi ada tiga topik yang didiskusikan. Bedanya, kelompok yang satu memberikan presentasi dan kelompok pasangannya memberikan kritik atas apa yang dipresentasikan.

Tidak ada powerpoint, bahkan seharusnya tidak boleh bawa bahan bacaan dan catatan (walaupun pada akhirnya sebagian di antara kami melakukannya). Meja kelas yang awalnya berbentuk huruf U, dirapatkan semua ke tengah.

Presentasi dilakukan dengan menempelkan kertas-kertas berwarna ke dinding, dengan kata kunci-kata kunci mengenai konsep yang diajarkan. Kelompok lain yang memberikan kritik kemudian juga menempelkan kertas-kertas yang berlainan warna pada konsep atau argumen dari kelompok yang dikritik. Presentasi dialokasikan paling lama 25 menit, dan hal yang sama untuk kritik beserta tanya jawab secara umum.

Selama presentasi posisi villagers bebas, ada yang berdiri, dosen dan fasilitator kami bahkan ada yang duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke tembok sambil selonjor atau bersila, sesekali menyeruput kopinya. Saya sempat menaikkan satu kaki ke kursi dan menyandarkan bagian lutut sampai kaki bawah ke sandaran kursi. Beberapa potong kentang juga saya kunyah karena belum sempat makan siang akibat waktunya dipakai sholat Jumat (untuk ini saya harus ngebut gowes ke mesjid kota agar dalam waktu setengah jam istirahat bisa kembali ke kelas).

Diskusi berjalan panjang, dan melebihi waktu yang ditetapkan. Ga on time! Sehingga saya yang pas-pasan endurance-nya jika berada di kelas dalam waktu yang lama, di akhir-akhir merasa bosan juga. Dari jam 12 – 16.30! Apalagi kalau ada anggota kelompok (lain) yang show-off-nya keterlaluan, hampir dua kali lipat semua anggota lainnya berbicara, padahal ini masih presentasi latihan yang ga dinilai. Untung kelompok kami tampil di akhir, sehingga terpaksa harus cepat. Dari segi ‘seni’ mempresentasikan kelompok berpasangan kami dinyatakan yang terkece. Hehe *gapenting

Dari presentasi yang terlihat semi-informal ini lihat apa yang dihasilkan: diskusi mengenai Political Economy/Ecology on Agrarian and Environment, mulai dari konsep awal dan sejarah, agrarian questions, hingga gender, populasi, dan generasi dalam lingkup agraria dan lingkungan, tidak ketinggalan menyebut nama-nama tokoh seperti Karl Marx, Engels, Malthus, Boserup, Garret Hardin, Piers Blaikie, Gramsci, Ben White, Vandana Shiva, Bina Agrawal, dan lain-lain yang ga saya hapal semua.

Dan, memang itulah hasil (keuntungan) yang ingin dicapai dengan metode ini menurut dosen kami yaitu sebagaimana judul tulisan ini: membiasakan (diskursus dan hal-hal abstrak, teoritis dan filosofis) yang sifatnya berat menjadi terhidang (terasa) ringan dalam diskusi-diskusi kelas.

Boleh setuju boleh enggak, tapi sehabis kelas, seorang kawan sambil tertawa-tawa kecut bilang, “See! This is just starting. This is just beginning…” Saya balas, “I don’t know how our future (in this major) will be…” sambil senyum ga kalah kecut. Hahaha