Kartu Pos

by Fadhli

Sejauh ini sudah, bentar saya hitung-hitung dulu (beneran menceklis ulang nih)… 38 kartu pos yang saya kirim. Ya namanya kartu pos untuk dikirim, jadi tidak menumpuk di kamar. Atau biasanya kartu pos baru saya beli setelah ada lebih dari 5 yang akan dikirim dilanjutkan pembelian satu set prangkonya yang berisi 5 lembar juga.

Dari beberapa kota di negara lain yang sudah saya singgahi, kartu pos adalah “oleh-oleh” yang paling rasional bisa dibeli banyak dan dikirimkan dengan praktis. Saat yang lain membeli banyak gantungan kunci, atau magnet, yang pertama saya incar justru kartu pos. Saya sendiri tidak begitu mengoleksi kartu pos. Hanya ada satu dari setiap kota yang sudah dikunjungi, bahkan yang dari Wina sudah tidak ada lagi karena dikirimkan semua.

Yang susah itu menulis kata-kata di kartunya. Mau nulis kata yang sama untuk semua takut ketauan malesnya. Hihi. Yang susah lainnya adalah saat memilih karena model gambarnya terbatas dan tidak banyak kalau dari kota saya ini, sehingga harus melipir ke toko yang berbeda-beda untuk cari gambar yang berlainan.

Dulu, sempat saat saya berulang tahun di usia 4 atau 5, agak lupa, dikirimi kartu pos yang bisa mengeluarkan bunyi, dikirim Ayah yang sedang lama dinas di Jepang. Itu sekitar tahun 1992-an, sudah ada yang seperti itu, lha sekarang saya cari di toko manapun kartu pos di sini hanya benar-benar gambar. Atau memang saya yang belum tau aja ada tempat seperti itu.

Nah mungkin karena itu, kalau menulis kartu pos itu yang terbayang seperti masa-masa orang tua zaman dulu mengirim kabar. Kayaknya keren kalau sekali-kali nulisnya pakai gaya tulisan zaman dulu: aksara sambung, miring-miring, ditulis pake pena dengan tinta yang dicelup. Sekalian aja pakai kemeja dan celana cut-brai nulisnya… Hehehe