Balada Gembok Sepeda

by Fadhli

Kemarin, sudah hampir tiga pekan saya belum bisa membuka gembok sepeda kawan saya. Kuncinya saya hilangkan, padahal tadinya sepeda itu akan dipinjamkan untuk kolega lain yang sedang datang ke kota.

Sudah saya coba gergaji, sudah saya coba panaskan dengan lilin kemudian dipukul dengan batu besar. Semua gagal. Saya ke bengkel (bertanya saja, tanpa membawa sepeda), pekerjanya bilang ga mau bukain karena takut bermasalah, menghindari dugaan sepedanya hasil curian, maklum kasus pencurian sepeda banyak.

Akhirnya, dengan sedikit putus asa saya coba lagi dengan bantuan kawan menyeret sepedanya dibawa ke bengkel. Siapa tahu dengan membawa sepedanya, mereka terenyuh dan mau bukain.

Baru keluar asrama, saya melihat para pekerja yang sedang merenovasi jalanan beberapa pekan terakhir. Mereka nampaknya juga melihat kami. Langsung ide spontan terjadi, “Bro gw tanya ke orang itu…” dengan pikiran mereka pasti punya peralatan mekanik.

Meneer…” belum sempat saya bicara mereka langsung bertanya, “Hallo, alles good??” (Halo, semuanya baik?). Langsung saya bicara to the point, khas masyarakat sini, “Can you help me to open the lock from that (fiets)? The key was lost.” Kemudian dia berbicara sama kawannya yang lain pakai Bahasa Belanda. Saya menunjukkan kartu mahasiswa untuk meyakinkan sepedanya bukan curian. Dia bilang akan panggil kawannya untuk buka. Aah lega.

Belum lagi kawan mereka datang, Meneer lain pegawai sarana dan prasarana kampus yang sedang berada di dekat situ dan mendengar percakapan kami langsung mengambil tang besar. Tiada banyak bicara, langsung rantainya digunting dan cetttaar putuslah rantai sepeda. Alhamdulillah. Dank u wel Meneer, terima kasih. Saking girangnya saya lupa menahan suara, “Gratisss broo… gratisss!” Lupa kalau kata gratis datangnya dari Bahasa Belanda dan si Meneer masih ada di situ.

Bagaimanapun, bahagia itu sederhana. Sesederhana melihat orang lain membantu kita hal yang mungkin dianggap kecil tapi penting.