Hidup adalah Barang Lungsuran

by Fadhli

Kemarin, saya menemani senior tersisa yang pertama pulang ke Indonesia, kebetulan mantan pejabat PPI Kota kami. Awalnya yang menemani akan banyak, tapi karena satu dan lain hal saya berangkat berdua duluan sama beliau ke bandara, yang lain menyusul. Saat perjalanan, saya dititipi kunci kamarnya, dia minta tolong agar dilakukan operasi semut di dalamnya dengan menjanjikan masih ada barang-barang yang berguna, dan setelah selesai diminta juga menyerahkan kuncinya ke pihak kampus.

Tiba-tiba pulang dari bandara saya tepar. Sudah mulai terasa tidak enak badan sejak jalan pulang, ketika angin dan dingin menusuk-nusuk telinga dan kepala. Ditambah mata sebelah kiri semakin dirasa ga enak, karena dipaksa main futsal juga malam hari sebelum ke bandara. Masak pun terasa berat, karena mie sebagai jalan pintas sudah habis sejak terakhir dihidangkan untuk dua kawan yang nangkring di kamar Jumat kemarin sampai dini hari. Operasi bersih dibatalkan dulu.

Akhirnya pagi tadi saya dan kawan-kawan melakukan operasi semut di kamar senior yang dimaksud. Dan tahukah? Saya dapat hampir semua barang-barang yang memang sedang dibutuhkan karena stok mulai menipis di kamar. Mulai dari teh, kopi, ayam yang sudah diungkep, cumi, kentang siap goreng, bumbu tempe dan tahu goreng, pun indomie lima bungkus!!😀 Itu makanan. Belum lagi bantal tebal, keset kamar mandi, batik D*n*r H*di, jam dinding, barang-barang kecil seperti jepitan untuk plastik makanan, plastik bening pelindung makanan, klip kertas, paku payung, gantungan baju, sendal dan yang paling bikin hore juga: sepatu winter merk L*nd Rover. Tidak lupa bunga wisuda yang ditinggalkannya dan langsung saya tangani dengan taruh di botol berisi air.

Alhamdulillah… hidup adalah lungsuran. Bahagia itu ya sesederhana itu kadang-kadang. Tinggal syukurnya yang diluarbiasakan.😀