Benchmark

by Fadhli

Benchmark itu kalau ditelusur dengan Google Translate, akan muncul definisinya di bagian bawah: “a standard or point of reference against which things may be compared or assessed” yang artinya: standar atau poin rujukan yang terhadapnya sesuatu dapat dibandingkan atau dinilai. Gampangnya kalau saya biasa mendefinisikan: tolak ukur yang ingin dicapai atau dilampaui.

Entah kalau buat pembaca, bagi saya benchmark kadang-kadang diperlukan untuk menambah semangat tempur, tentu dengan arti yang positif. Biar ada vitalitas dalam meraih sesuatu. Benchmark ini kadang perlu dibuat sendiri.

Di permainan futsal selama di sini misalnya, ada satu orang yang saya jadikan “pesaing” pribadi. Tentu saja orangnya tidak tahu. Dia senior. Hampir semua mengakui kalau dia ga ada matinya, sebagian kami menyebutnya tim panser (bisa di tebak kan dari negara mana?). Biar semangat, mari kita ngadu.

Di awal-awal main di sini tentu saja terseok-terseok mengejarnya. Tetapi belakangan, saya sudah berani nyatakan (dalam hati), “Saya yang akan kejar!” Tap tap tap ngadu lari sering dilakukan😀 Kecepatan dan stamina saya rasa sudah bisa diadu, balapan, walaupun hasilnya ga selalu bisa merebut karena ini permainan tim, ada operan. Ada rasa berhasil juga kalau bisa menghalaunya. Atau ketika saya yang balik cetak gol ke gawang timnya. Saya agak merasa bangga juga ketika pernah jumlah pemain hanya sedikit dan semua sudah mulai kelelahan, dia mundur duluan setengah jam sebelum permainan usai. Dari sisi kalah dan menang? Saya ga terlalu peduli sih, namanya permainan. Kalau mau menang terus pake jurus kayak maen PS :p

futsal1

Tapi sekali lagi ini bukan persaingan abadi #halah, hanya semu yang saya ciptakan. Kalau bermain dalam satu tim dengannya, justru makin sangat enak. Jumlah gol makin berlipat, pernah tidak tergantikan mungkin sekitar 5 match, dengan sistem tim yang kalah harus ganti main dengan tim lain. Orangnya juga asyik dan ramah kalau diajak ngobrol. Dan tahukah, setelah main futsal saya sering lelah di kamar, mata nyut-nyutan, sementara mungkin dia tidak. #akibatsokjago. Oh ya, tapi sekarang dia sudah lulus, pekan kemarin adalah waktu bermain dengan kami terakhir. Berarti saya harus cari benchmark penggantinya.

Kalau di kelas, saya juga punya benchmark. Sssst, jangan bilang-bilang ya, biasanya yang suka-suka aktif mendominasi kelas, yang (kayaknya) bertampang pinter, yang konon sebelumnya pernah jadi honour student, yang model-model begini yang suka saya jadikan benchmark. Tentu saja sadar diri ga akan bisa melampauinya, da aku mah apa atuh cuma irisan cabe nyelip di gigi antara mau ditelen apa dilepehin #naoooon😀

Dan metode pembelajaran saat ini menyediakan ruang untuk saling mengkritisi, maka di situ saya bisa masuk. Bam bam bam… walaupun bagi mereka juga mungkin dianggap ngomong apa sih nih bocah? tapi ya alhamdulillah, kemarin dapat nilai kelompok pengkritik yang termasuk tertinggi. Dalam peer review tanpa penilaian, saya sudah cukup senang bisa memberikan substansi kritis bagi outline kawan yang dianggap potentially brilliant oleh dosen. Saya lihat dia serius mencatat dan berterima kasih untuk komentarnya. Ternyata saya ga bego-bego amat. Padahal mah cuma pake taktik aja. Saya fokus pada outline dia, ikuti alurnya, cari celahnya dari referensi yang ada dan dia kutip sendiri, dan arahkan balik😀

Lagi-lagi, ini semua bukan dimaksudkan untuk persaingan yang sesungguhnya, terlebih masalah nilai juga saya ga peduli dengan orang lain. Ini hanya mengombinasikan motivasi pribadi dan membuat tantangan-tantangan sendiri. Lagipula tidak semua hal harus dibuat benchmark, seperlunya saja. Kalau dalam hal-hal yang saya tidak bakat, tidak minat, ya sudahlah mengaku kalah dan menyerah saja…😀