Beginilah Cara Mereka Mem-bully Saya

by Fadhli

Tulisan ini dibuat tanpa maksud jumawa, hanya sering bikin saya tertawa. Bukan pula karena apa yang disebut obsessive-compulsive disorder, yang saya juga belum tau apa definisinya, tapi dikasih tau teman merujuk pada “ketagihan pengen dicengin karena keseringan dicengin” (ga sekalian ditambahin: dicenginnya sama si Aceng tukang dagang cireng? :D). Tapi serius, jangan serius-serius menghadapi yang beginian, saya juga ga pernah anggap serius bully-an kawan-kawan, hitung-hitung hiburan di kala senggang, daripada stress hidup di negara sebrang. Itung-itung nyenengin hati orang-orang yang ngadu ceng-cengan biar merasa menang :p Kecuali kalau udah berlebihan, maka sudah seharusnya dihentikan.

Entahlah, mungkin karena sekarang saya berada di lingkungan Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak muda, hak asasi saya sebagai minoritas jomblo sering didiskriminasi, dengan cara di-bully. Kalau sudah urusan di luar akademik, menjurus-jurusnya ke sono. Hampir di semua grup yang saya aktif suka dipanas-panasin, tiba-tiba ada foto paparazzi hanya karena di kelas belajar bareng. Tiba-tiba di-ciye-ciye-in hanya karena kasih komen yang atasnya cewek, atau ceweknya yang komen disangkut-sangkutin (pas bener saya lagi nulis ini, jam 11 malam di sini masih ada yang cengin). Padahal mah saya ketemu (dengan cewek-cewek) juga sekali-kali, karena lebih banyak ngendon di kamar juga daripada kumpul-kumpulnya, atau kalau jalan keluar juga sering sendiri.

Di kasus yang lain, urusan saya sering menerima kawan bertamu dari kota dan negara lain yang kebanyakan cowok aja dijadiin bahan cengin, “Payah lo, masa ga ada cewek.” Bahkan beberapa staf kedutaan sekali waktu ikut-ikutan mem-bully, “Coba gue pengen tau berani ga lo nanti kalo ketemu sama cewek nih staf baru yang bakal dateng.” Dan itu bilangnya di forum umum makan malam. Laporin ke Bu Menlu juga nih!😀

Sungguh, sekali lagi bukan karena jumawa, da aku mah apa atuh cuma ampas kopi di gelas yang ga dicuci dua hari😀, tetapi memang karena kaum jomblo kalah suara dan hanya itu-itu saja. Untunglah, saya bukan pemalas atau penakut — seperti kata Sudjiwo Tedjo untuk menyebut orang yang tidak lagi berani berpendapat atau berkomentar gara-gara takut dan malas disebut sesuatu yang tidak mengenakkan, termasuk untuk menulis ini.

Tabik!😀

*lagi kalap ngeblog sebagai hiburan abis beresin satu tugas, tapi masih ada satu tugas lagi dengan beban dua kali lipat. #PejuangGaBolehCengeng