Sowan ke Ujung Negeri

by Fadhli

Sekaligus menghibur diri atas satu kejadian yang berdampak pada saya (saya akan ceritakan kemudian), saya melakukan perjalanan ke ujung negeri bagian utara hari ini: Groningen. Niat awalnya memanfaatkan dagkart — kartu tapping kereta seharian ke tujuan manapun — sambil membawakan paspor kawan yang telah diperpanjang dari kedutaan yang letaknya ada di kota saya.

Selama perjalanan di kereta yang memakan waktu hampir 3 jam, saya berpikir juga akan melanjutkan perjalanan ke Leeuwarden setelah dari Groningen nantinya. Di Leeuwarden ada beberapa kawan juga yang mereka sudah pernah main ke kota tempat saya tinggal, tapi saya belum pernah gantian ke sana, padahal mereka akan pulang sekitar 4 bulan lagi. Saya pun mengontak salah satu dari mereka untuk mengonfirmasi kedatangan.

Akhirnya saya tiba di Groningen. Hujan dan dingin menyambut, tapi kawan saya pun menyambut dengan hangat. Kebetulan langsung ‘nyambung’ karena kami berbahasa Sunda juga. Sambil menuju rumahnya saya diajak melihat suasana pusat kota dan sempat membeli souvenir khas kota: magnet kulkas Martini Tower. Sesampainya saya di rumahnya, bahkan sebelum saya menyerahkan paspor sebagai urusan inti, jamuan pun terlebih dahulu digelar: nasi hangat, iga bakar, plus bandrek, ditambah penutup kolak dan chip kentang.

Tak selesai, sebelum saya pamit dan diantar kembali ke stasiun setelah 2 jam-an ngobrol, kawan saya ini masih menghadiahkan saya barang dari koleksinya yaitu satu buah bet tenis meja bermerk yang jarang ditemukan di Indonesia, lengkap dengan sarung dan bolanya 3 buah. Saat berbincang, kami memang sempat membicarakan salah satu olahraga favorit kami itu. Dan selain itu, masih dibekali juga dengan sekaleng potato chip baru dan beberapa kue dan biskuit. “Perjalanan jauh… buat di kereta” katanya. Saya pun melanjutkan perjalanan ke Leeuwarden.

Tiba di stasiun Leeuwarden, seorang kawan menjemput. Saya datang hari minggu, sore hari, pusat kota sepi karena toko-toko tutup, jadi tidak melewati area itu. Niat saya memang hanya mau bertemu kawan-kawan saja sudah membuat saya senang. Sesampainya di rumah kawan, kami ada berempat yang berkumpul. Alhamdulillah lagi, karena hidangan nasi hangat, telur dadar, capcay, daging dan soarma siap dilahap. Oh ya, setiap makan itu pakai tangan ‘ala Indonesia, biar lebih greget nikmatnya. Masih dilanjutkan ngobrol-ngobrol apapun sekitar 4 jam hingga saya diantar kembali ke stasiun. Di stasiun kami juga sempat sruput kopi terlebih dahulu sambil menanti datangnya kereta. Dan kereta pun tiba, saya pamit undur diri. Hingga menuliskan catatan ini di dalam kereta, menuju Den Haag, 22.28.
***
*Mudah-mudahan memperpanjang usia dan meluaskan rezeki
**Dan atas nikmat dari Tuhanmu, maka sebutlah
***Maka adakah sesuatu dari nikmat Tuhanmu yang akan kamu dustakan?