Kebiasaan di Den Haag

by Fadhli

Bung Hatta 1

Bung Hatta2

Hatta, Mohammad (2011), Untuk Negeriku: Bukittinggi – Rotterdam – Lewat Betawi, Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Kalau Aku:

Tidak punya kebiasaan makan yang rutin hingga kini. Makan pagi tergantung: jika ada lauk sisa malam, kumakan itu setelah dipanaskan di microwave dengan nasi yang kumasak di penanak sendiri di kamar. Jika belum ada lauk, kubuat nasi goreng atau mie instan. Jika malas atau terburu-buru karena ada kuliah dan masih harus membaca bahan, kukunyah saja biskuit, roti atau buah. Sudah biasa aku sehari-hari menyediakan buah entah apel, jeruk mandarin, atau pisang yang paling sering tersedia. Mangga dan alpukat sesekali jika rajin mengupas.

Minuman pagiku biasanya teh manis atau susu hangat. Jika tidak sempat bikin minum sebelum kuliah, maka aku biasa ngopi (capuccino atau kopi hitam dicampur susu) dengan membeli dari mesin di kampus seharga 20 sen Euro jika membawa gelas sendiri, atau 35 sen jika tidak. Namun aku biasa membawa gelas sendiri.

Untuk makan siang dan malam, sempat aku bergabung dengan grup masak selama beberapa bulan awal, namun kuputuskan berhenti untuk memiliki waktu yang lebih independen serta waktu olah dan waktu makan yang efisien karena masih ada kegiatan lainnya: belajar, menulis catatan ini, menyunting video, membaca buku, atau sekedar menonton berita dan memantau media sosial. Waktu sehari kadang terasa berlalu cepat saja.

Pembagian waktuku biasanya bangun sebelum shalat shubuh dan memulai hari dengan membaca Kitab Suci al-Qur’an. Jika musim dingin, shubuh datang lebih terlambat dari biasanya, maka sebelumnya aku masih bisa melakukan beberapa hal juga yang sifatnya pribadi. Kuliah paling pagi dimulai jam sembilan. Jika ada kelas pagi itu, maka setelah shalat aku bersiap membersihkan diri dan memasak, itu jika tidak ada tugas bacaan yang masih dihutang semalam. Jika kuliah baru dimulai siang, pagi aku sempatkan lari ke arah pantai, namun aku hentikan sementara karena musim dingin ini cuaca menusuk.

Lima bulan di sini, aku belum mencukur rambut karena perpaduan harganya yang mahal, melindungi kepala dari musim dingin, dan eksperimen ingin mencoba rambut gondrong. Kumis kucukur terutama jika di kedua ujungnya sudah menebal seperti kumis lele dalam jangka 3 atau 4 pekan biasanya, begitupun jenggot tipisku dirapikan.

Namun aku tidak serajin Bung Hatta, bacaanku tidak sebanyak beliau. Tetapi antara siang hingga malam waktu kuhabiskan berseling untuk membaca, bergantian tergantung suasana hatiku antara bahan bacaan akademis, buku di luar akademis baik dalam Bahasa Indonesia atau Inggris, mengerjakan tugas, sembari memeriksa surat elektronik, sesekali berdiskusi atau mengikuti seminar di kampus. Sedikit waktu di siang hari aku manfaatkan pula berbaring di kamar.

Kadang di antara waktu siang hingga malam itu selain ke perpustakaan kampus, aku juga menyempatkan mampir ke perpustakaan kota (bibliothek) untuk sekedar mencari suasana berbeda selain kamar dan kampus yang jaraknya hanya selemparan batu. Kadang sambil mampir membeli pizza seharga 1 Euro atau kapsalon 3 Euro.

DI malam hari, di atas pukul 19.00 jika tidak ada tugas yang mendesak, aku masih menulis catatan ini, menyunting video, atau membaca atau menyimak streaming berita internasional hingga tiba waktu istirahat yang kustel pukul 24.00. Kadang-kadang lewat pula, namun jika hanya besoknya tidak ada kegiatan mendesak. Sebisa mungkin aku tidur malam tidak lebih dari 6 jam untuk bangun lagi esok paginya sebelum atau pas shubuh. Jikapun mengantuk kembali, aku tidur lagi sesudahnya.

Sekali atau dua kali seminggu, kuselingi dengan nongkrong bersama kawan-kawan Indonesia membicarakan apa saja, biasanya di kamar salah seorang kawan hingga larut. Atau jika tidak ada hal serius, bermain tenis meja atau permainan sepak bola meja saja. Dalam agenda pekanan aku juga melakukan kontak dengan skype kepada beberapa teman yang ada di Groningen, Utrecht, Delft, Enschede dalam rangka diskusi apa saja. Yang sering kulakukan juga adalah bermain futsal di Minggu malam, aku berangkat sekitar pukul 18.30 dengan bersepeda menuju tempat olahraga di arah pantai. Permainan dimulai pukul 19.00 sampai dengan 21.00.

Dalam agenda bulanan, ada arisan mahasiswa Indonesia di sini yang aku ikuti. Namaku sudah keluar untuk mendapat giliran, namun hingga kini selalu kuberikan kepada siapa yang lebih membutuhkan, biasanya bagi para Ibu yang sudah berkeluarga. Hingga nama mereka yang bertukar padaku juga sudah muncul pula berkali-kali, tetapi tidak mengapa, aku anggap saja sebagai tabungan nanti jika masaku studi di sini habis. Biasanya ada pula agenda dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda atau Kedutaan Besar di sini, yang aku cukup aktif mengikutinya jika bersifat diskusi dengan berbagai tokoh yang dihadirkan.

Sampai ini ditulis aku menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan dan kecepatan membaca di bidang akademisku harus lebih ditingkatkan!