Ayah Antar Anak

by Fadhli

Kemarin ada dua cerita yang saya dengar tentang ayah yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Bagi saya, kisahnya cukup epik karena beberapa hal.

Yang pertama, Wakil Ketua KPK yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Seorang pejabat negara, tanpa supir dan pengawalan karena tidak mau menggunakan fasilitas negara, masih menyempatkan di pagi hari mengantarkan anaknya yang duduk di bangku SD. Kisah dramatis setelah itu sudah banyak kita dengar dalam situasi negara yang memanas. Tapi dari sisi keluarga, tampak kehangatan. Salah satu anak yang turut serta dibawa ke tempat ayahnya ditahan bahkan mengatakan ketidaktakutannya. “Kita dalam situasi yang keren!” bahkan katanya.

Satu lagi, dosen kami yang saya kira cukup eksentrik. Kalau di kelas penampilan kasual, duduk di atas meja, sering menaikkan kaki jg, dan melontarkan istilah-istilah yang nyentrik dalam berkomentar tentang suatu hal. Kemarin di kelas dia datang agak pilek, sambil memohon maaf karena kelas dimulai agak telat. Dia bilang, “Saya baru saja mengantar anak saya ke sekolah dengan sepeda saya dengan gerobak anak di depannya. Gowes di udara dingin begini lumayan juga, 20 menit ke sekolah anak saya, 20 menit dari sekolah kemari. Nanti, dia akan pulang, dan saya akan jemput lagi.”

Yang cukup menarik karena dia adalah associate professor, yang sering mendapat banyak proyek riset, dan kemungkinan untuk menggunakan mobil bukan hal yang sulit. Selain itu, Macbook-nya ada tempelan stiker yang lazim untuk anak-anak. Dan dia mengaku, “Itu memang anak saya sering mainkan dan tempel-tempel apa saja.” Ga nyangka, yang slengean begitu sangat perhatian dan dekat anaknya.